Kupi Beungoh
Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja
RS ini dilengkapi dengan ruang bedah yang representatif, ruang perban untuk bedah ringan, laboratorium, ruang rawat, dan fasilitas pendukung lainnya.
Oleh: Azhar Abdullah Panton*)
Tujuh tahun setelah berhasil menduduki Aceh (akhir 1873), Pemerintah Hindia-Belanda merampungkan pembangunan RS militer di Kutaraja (sekarang Banda Aceh).
RS ini berdiri di atas tiang-tiang setinggi satu meter.
Terdiri dari beberapa bangsal yang terhubung satu sama lain melalui koridor yang beratap. Menyerupai struktur tulang ikan dan berarsitektur khas Belanda.
RS ini dilengkapi dengan ruang bedah yang representatif, ruang perban untuk bedah ringan, laboratorium, ruang rawat, dan fasilitas pendukung lainnya.
Tidak hanya itu. Pada tahun 1898, perangkat Rontgen (sinar-X) juga dihadirkan ke Bumi Iskandar Muda.
Tiga tahun setelah Wilhelm Conrad Röntgen (1895) menciptakan alat canggih peneguh diagnosa ini.
Sebelumnya, di tahun 1886, RS ini telah memiliki akses kereta api hingga ke depan ruang bedah.
RS militer ini digadang-gadang sebagai salah satu RS terbesar dan termodern pada masanya. Standar layanan medis Eropa dihadirkan.
Berbagai perangkat kesehatan modern dan canggih diadakan. RS ini termasuk RS terbaik di seluruh Hindia Belanda.
Baca juga: Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh
Juga salah satu RS militer yang tertua setelah Groot-Militair Hospital di Jakarta Pusat yang selesai dibangun Oktober 1836 (kini Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto/RS Kepresidenan).
Dari gedung yang artistik ini juga tersimpan kisah epidemi beri-beri yang menyeruak saat perang Aceh berkecamuk.
RS ini menyediakan bangsal khusus untuk pasien beri-beri yang saat itu belum diketahui penyebab dan obatnya.
Adalah Christiaan Eijkman, dokter dan ahli patologi Belanda yang menemukan bahwa penyakit beri-beri disebabkan kekurangan vitamin B1.
Vitamin yang terkandung dalam kulit ari beras (perikarpium). Dari penemuannya ini, ia dianugerahkan Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1929.
| Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh |
|
|---|
| Usia 18 Tahun, Bawaslu Mengawasi |
|
|---|
| Bercanda yang Kebablasan: Saat Kata Jadi Awal Kekerasan Seksual |
|
|---|
| Saree di Persimpangan Jalan: Akankah UMKM Tergilas Roda Tol Sibanceh? |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh, Kehadiran Negara dalam Krisis Sampah - Bagian III |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Azhar-Abdullah-Panton-alumnus-FKH-USK.jpg)