Gadis Aceh Hilang di Malaysia

7 Fakta Gadis Aceh Dijual di Malaysia, Berprilaku Santun Kirim Kabar Sambil Menangis Ingin Pulang

Tanpa surat dan kabar berita membuat keluarga di kampung halaman sang gadis gundah gulana. Diduga kuat Syafridawati adalah korban sindikat perdaganga

7 Fakta Gadis Aceh Dijual di Malaysia, Berprilaku Santun Kirim Kabar Sambil Menangis Ingin Pulang
SERAMBINEWS/kolase serambinews.com
Foto kolase serambinews.com 

Sejak memutuskan berangkat ke Malaysia pada 18 Agustus 2015 silam, hanya dua kali Syafridawati menelepon, tahun 2016 sekali tahun 2017 sekali.

Setelah itu, gadis kelahiran 25 Maret 1993 itu tak pernah lagi menghubungi, bahkan kini Nurdin tak mengetahui keberadaannya.

Tak pernah terbayang di benak Nurdin, anak kesayangannya itu hilang dan tak memberi kabar.

5. Berharap menjadi tulang punggung keluarga

Dulu, saat ia mengikhlaskan Syafridawati pergi merantau ke negeri seberang, Nurdin berharap Syafridawati bisa membantu kehidupan keluarga.

Namun apa daya, uang pun tak pernah dikirim, Syafridawati pun kini menghilang.

Air mata Nurdin berderai, matanya sembab. Berulang kali ia menyeka air mata yang berlinang di pipinya.

Suara Nurdin pun terbata-bata saat menjawab pertanyaan awak media di sela-sela dirinya membuat laporan dugaan human trafficking terhadap anaknya di Polda Aceh, Senin (13/1/2020).

6. YARA Menduga Syafridawati korban perdagangan manusia

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH mengatakan, Syafridawati, yang hilang di Malaysia diduga menjadi korban human trafiicking.

Gadis yang diduga menjadi korban perdagangan manusia ini berasal dari Gampong Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

Ketua YARA Safaruddin menyampaikan hal ini saat mendampingi Nurdin (70) ayah Syafridawati membuat laporan ke Polda Aceh, Banda Aceh, Senin (13/1/2020).

“Setelah kita kroscek ke sana, kesimpulan saya (Syafridawati) ini menjadi korban perdagangan manusia,” kata Safaruddin.

Bersama tim, Safaruddin mengawal dan mendampingi proses pelaporan hingga proses BAP awal terhadap Nurdin oleh petugas di Polda Aceh.

7. Dijanjikan gaji 3 juta

Pada tahun 2015, kata Safaruddin, Mutia datang berulang kali ke rumah Nurdin meminta Syafridawati anaknya dibawa ke Malaysia untuk dipekerjakan.

"Datang pertama minta, tapi Pak Nurdin nggak kasih, datang kedua minta lagi, Pak Nurdin tetap nggak kasih juga.

Kemudian datang ketiga kali, si Mutia ini bawa suaminya, katanya nanti akan ada gaji tiga juta sebulan dan akan sering mengirim uang ke Aceh," kata Safaruddin.

Akhirnya karena sudah ada jaminan dan cukup meyakinkan, Nurdin mengikhlaskan putrinya untuk berangkat ke Malaysia bersama Mutia.

"Pada tanggal 18 Agustus 2015, berangkat orang ini, paspor sudah diurus sama Mutia. Syafridawati dijemput pakek mobil lalu mereka berangkat," kata Safaruddin.

Setelah sampai di Malaysia, Syafridawati sempat memberi kabar bahwa dirinya telah sampai di Malaysia.

"Kemudian lama tak ada kabar, pas puasa 2016 dia telepon sekali pakek nomor Malaysia bahwa dia di sana kerja tapi nggak ada uang karena tidak digaji. Syafridawati menangis, tapi dia tidak bilang kerja di mana," kata Safaruddin.

Lama tak memberi kabar, setahun kemudian Syafridawati kembali menelepon.

Dia kembali memberitahu kepada keluarganya di Gampong Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, bahwa ia tidak ada uang untuk pulang ke Aceh.(*)

Penulis: Ansari Hasyim
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved