Breaking News:

SALAM SERAMBI

Terima Kasih Pembaca, Tetap Menyetiai Serambi

KEMARIN, tanggal 9 Februari 2020 Harian Serambi Indonesia genap berusia 31 tahun. Setelah melampaui usia tiga dasawarsa tentu banyak hal yang harus

Terima Kasih Pembaca, Tetap Menyetiai Serambi
IST
Tanggal 9 Februari 2020 Harian Serambi Indonesia

Pembaca yang budiman.

KEMARIN, tanggal 9 Februari 2020 Harian Serambi Indonesia genap berusia 31 tahun. Setelah melampaui usia tiga dasawarsa tentu banyak hal yang harus dikenang kembali. Misalnya, bagaimana harian ini lahir di tengah masyarakat Aceh yang haus akan media massa berkualitas, independen, dan teratur terbitnya. Serambi digagas dan dibidani kelahirannya justru di tengah dominannya sistem politik Orde Baru, suatu zaman saat kebebasan berbicara, bahkan kebebasan berekspresi tertekan oleh tatanan represif sistem politik otoriter pada masa itu.

Tapi toh hasrat untuk membangun media yang independen dan kredibel sembari mengembangkan komunikasi terbuka melalui media massa tetap menggeliat sebagai sebuah kebutuhan hakiki daerah istimewa seperti halnya Aceh yang menjadi bagian negara modern bernama Indonesia.

Paling tidak begitulah pemikiran yang berkembang di Aceh seputar tahun 1986 dan ketika itu Aceh dipimpin oleh Prof Dr Ibrahim Hasan MBA. Dialah sosok yang menggagas bahwa di Aceh perlu lahir sebuah media cetak yang profesional, kredibel, dan berumur panjang, mengingat banyak media di Aceh yang jatuh bangun, dan lebih banyak lagi yang setelah jatuh lalu tak lagi bangun-bangun. Sebutlah misalnya, Pantjatjita, Api Pantjasila, kemudian Harian Peristiwa, dan Atjeh Post.

Semuanya tergilas di lintas sejarah. Lewat serangkaian usaha Gubernur Ibrahim Hasan yang menggandeng H Sjamsul Kahar kemudian Nourhalidyn untuk meyakinkan Pemimpin Redaksi Kompas, Jakob Oetama, akhirnya koran daerah di bawah manajemen modern Kompas Gramedia terwujud di Aceh pada 9 Februari 1989. Namanya Harian Serambi Indonesia yang awalnya masih menggunakan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Mimbar Swadaya, milik Nourhalidyn yang saat itu juga menjabat Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Aceh.

Mengisi ruang sejarah pers Aceh yang kerap vakum, Serambi kemudian menerapkan konsep ‘total newspaper management’ dan terbukti eksis di hati pembaca sekaligus menjadi pemimpin pasar (market leader) di Aceh. Paling tidak, berhasil membuat masyarakat Aceh punya koran alternatif setelah berpuluh-puluh tahun ruang kosong itu diisi dan didominasi koran dari provinsi tetangga.

Tentu saja jatuh bangun, pasang surut, dan suka duka menjadi mata rantai kesejarahan Serambi sebagai koran nasional yang terbit di daerah. Apalagi kelahirannya di era konflik dan terkadang tak mampu memuaskan hati kedua pihak yang bertikai, membuat Serambi pernah dua kali tidak terbit, bukan atas kehendak manajemen, melainkan karena tuntutan entitas eksternal di luar kuasa kami.

Bencana tsunami akhir 2004 juga sempat menjerembabkan Serambi ke titik nadir. Ramai pula wartawan dan karyawan kami plus keluarganya yang syahid dalam musibah paling dahsyat di awal abad 21 itu. Lima hari tak terbit, hari keenam Serambi terbit kembali. Itu pun dengan menggunakan mesin cetak jauh yang berada di Lhokseumawe dan selamat dari terpaan tsunami.

Nah, 31 tahun sudah dilalui. Harus kami akui bahwa Serambi bisa eksis dalam usia seawet ini tak lain semata-mata karena kesetiaan para pembaca kami dari Balohan (Sabang) hingga ke Haloban (Aceh Singkil) plus Aceh Tamiang. Ditambah lagi pembaca di Medan, Batam, dan wilayah Jabodetabek.

Seperti diucapkan oleh banyak pemasang iklan milad Serambi kemarin dan hari ini semoga harian ini tetap menjadi media yang independen dan kredibel dalam menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta selalu mendapat berkah dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Lebih dari itu, seperti dikatakan Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, Serambi merupakan mitra sekaligus pengawal kebijakan eksekutif. Kami juga berharap dan berkomitmen untuk senantiasa bekerja profesional bagi semua pihak dan itu adalah upaya kami agar aspek bisnis surat kabar selalu berjalan dengan sehat dan berimbang, sesuai tuntunan publik.

Itulah landasan operasional yang menjadi visi dan misi Serambi yang telah diperjuangkan terus-menerus sejak awal sampai kini dengan menerobos berbagai tantangan. Jadi, sekali lagi kami ucapakan terima kasih...

Jadi, sekali lagi kami ucapakan terima kasih yang terhingga atas kesetiaan para pembaca terhadap Serambi Indonesia, termasuk versi online yang belakangan menjadi andalan bisnis kami. Bantu kami untuk tetap berada di hati pembaca dengan memberikan kritik dan saran atas performa kami selama ini. Bantu juga kami untuk lebih memahami “selera Aceh” dengan tetap berpegang teguh pada prinsip jurnalistik seutuhnya.

Banyak koran yang sudah kolaps terdampak disrupsi digital. Kami pun menyadari hal itu. Tapi bersama kesetiaan dan kecintaan para pembaca, kami yakin media ini tetap eksis dan awet. Kalaupun harus tergerus oleh media online--sebagai konsekuensi era disrupsi digital--biarlah Serambi menjadi koran paling terakhir yang tutup lapak di Aceh.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved