Rabu, 15 April 2026

Kupi Beungoh

Dahsyat, Aceh Jadi Incaran Uni Emirat Arab, Cina, India, dan Malaysia

UEA menyiapkan Rp 314,9 triliun untuk investasi di Kota Baru hingga Aceh. Uni Emirat Arab menyatakan ketertarikan menanam modal untuk pembangunan Aceh

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Muhammad Hadi
KOLASE SERAMBINEWS.COM
Ilustrasi - Aceh jadi incaran UEA, Cina, India, dan Malaysia 

Maka, jika rencana kerja sama ini berjalan, ke depan kita akan sering melihat kapal-kapal India merapat ke Pelabuhan Malahayati Krueng Raya untuk mengangkut material bangunan hingga sembako.

Cina

Informasi penulis peroleh, rencana kerja sama India dengan Aceh mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia. Karena, India maupun Indonesia sama-sama ingin memberi pertahatian khusus kepada dua wilayah yang berada di Samudera Hindia ini. Sama seperti Aceh, Andaman dan Nicobar juga selama ini juga masuk kategori daerah tertinggal, karena berbagai faktor.

India dan Indonesia saat ini menyadari letak strategis Andaman dan Nicobar, serta Aceh dalam jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Jika sedikit saja abai, maka wilayah ini bisa-bisa akan dikuasai oleh Cina yang sedang memiliki ambisi untuk menguasai sebagian besar jalur perdagangan laut dunia.

Sebenarnya, Cina juga sangat berminat berinvestasi di Aceh. Hanya saja, kultur masyarakat Aceh yang memiliki resistensi dengan mereka, membuat Cina harus berpikir panjang untuk mendekati Aceh. Catatan penulis, salah satu rencana investasi besar Cina di Aceh adalah mengambil alih pabrik semen di Laweung dari PT Semen Indonesia. Tapi rencana ini tampaknya mengalami kegagalan.

Bangun Pabrik Semen Laweung, PT Samana Citra Agung Gandeng Perusahaan Asal Tiongkok

Ini Alasan PT Samana Citra Agung Ajak Perusahaan Tiongkok Bangun Pabrik Semen Laweung

Malaysia

Tidak bisa dipungkiri, Malaysia adalah “sekutu” terdekat Aceh dalam perdagangan. Masjid Acheh dan Rumah Sakit Lam Wah Ee di Pulau Pinang adalah dua bangunan yang memahat bukti kedermawanan sekaligus kejayaan para saudagar Aceh di negeri jiran itu.

Kerja sama yang pernah terjadi antara indatu Aceh dengan Malaysia, kini sedang coba dirintis kembali oleh generasi saat ini.
Penelusuran penulis, saat ini terdapat sejumlah lembaga yang mewadahi para pedagang Aceh di Malaysia.

Empat di antaranya adalah, Ikatan Masyarakat Acheh Malaysia (IMAM) yang berbasis di Yan Kedah, Komunitas Melayu Acheh Malaysia (KMAM) dan Koperasi MASA yang berkantor pusat di Chowkit Kuala Lumpur, serta Persatuan Gabungan Usahawan Acheh Malaysia (GUAM) yang berkantor di Kajang Malaysia.

Informasi penulis himpun, keempat lembaga tersebut saat ini sedang merintis kerja sama perdagangan langsung ke Aceh. Di antara komoditi yang dibidik oleh Malaysia dari Aceh adalah ikan dan sayur-sayuran.

Sama seperti India, Kerajaan Malaysia juga terlihat sangat serius merintis kerja sama dengan Aceh. Kedatangan Tun Daim Zainuddin ke Aceh beberapa waktu lalu, menjadi puncak dari kunjungan sejumlah datuk-datuk Malaysia ke Aceh sebelumnya.

Tun Daim datang ke Aceh dengan pesawat pribadinya.

Salah satu tujuan kunjungan Tun Daim ke Aceh adalah melihat langsung pelabuhan perikanan Lampulo yang sebelumnya telah disebut-sebut akan memasok ikan segar ke Malaysia. Kunjungan Tun Daim ini didampingi oleh Presiden KMAM dan Koperasi MASA KL Berhad, Datuk Mansyur Bin Usman, serta sejumlah pengusaha Malaysia keturunan Aceh.

Tun Dr Abdul Daim Bin Zainuddin adalah adalah politisi, pengusaha, dan mantan Menteri Keuangan Malaysia dari tahun 1984 hingga 1991. Tun Daim yang merupakan sahabat dekat PM Malaysia Tun Mahathir Mohamad, saat ini dipercaya sebagai penasihat utama ekonomi Kerajaan Malaysia.

Warga Aceh di Malaysia menyebut, jika sudah disetujui oleh Tun Daim, maka tak ada lagi pihak di Malaysia yang bisa menghalangi kerja sama perdagangan dengan Aceh. Tinggal sekarang keseriusan di pihak Aceh dan Indonesia.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved