Kupi Beungoh
Dahsyat, Aceh Jadi Incaran Uni Emirat Arab, Cina, India, dan Malaysia
UEA menyiapkan Rp 314,9 triliun untuk investasi di Kota Baru hingga Aceh. Uni Emirat Arab menyatakan ketertarikan menanam modal untuk pembangunan Aceh
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Muhammad Hadi
Selain Tun Daim, pada waktu yang hampir bersamaan, tiga pengusaha dan pejabat Malaysia datang ke Bener Meriah untuk melihat potensi sayur-sayuran, khususnya kubis (kol) di daerah dingin. Pengusaha Malaysia ini ingin memasok kol dari Bener Meriah ke negara mereka, untuk memutus ketergantungan dari Cina.
Amatan penulis, kerja sama antara Kerajaan Malaysia dengan Aceh ini dipengaruhi oleh kuatnya desakan elemen Melayu di Malaysia yang menggelorakan gerakan “buy muslim first” atau utamakan produk muslim. Ada semangat rakyat Melayu Malaysia yang ingin memutus ketergantungan pasokan material dan bahan makanan dari Cina.
Sama seperti India, Malaysia juga berharap dukungan dari Aceh untuk menjalankan misi tersebut. Dengan dukungan Pemerintah Aceh dan para pedagang kedai runcit (kedai Aceh) di Malaysia, warga negara jiran itu merasa sangat yakin untuk melawan dominasi pedagang Cina di negara mereka.
• Pengusaha dan Peruncit Aceh di Malaysia Dukung Penuh Program Utamakan Produk Halal
Sambutan Pemerintah Aceh
Dari beragam data dan fakta yang penulis himpun, tampaknya Aceh memang benar-benar menjadi magnet ekonomi di tahun-tahun mendatang. Posisi Aceh yang berada di jalur perdagangan laut dunia (Samudera Hindia dan Selat Malaka) membuat Aceh menjadi rebutan banyak negara. Khusus bagi Malaysia, para pedagang Aceh dianggap memiliki keberanian dan kemampuan untuk bersaing langsung dengan para pedatang Cina.
Lalu bagaimana sambutan Pemerintah Aceh terhadap rencana dan ajakan kerja sama dari negara-negara tersebut? Sejauh ini, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama jajarannya terlihat sedang bekerja keras untuk menyahuti hal tersebut.
Rencana investasi Uni Emirat Arab (UEA) dan India mendapat perhatian sangat serius dari Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.
Khusus untuk UEA, beberapa hari setelah mendapat kabar tentang rencana investasi dari negara Arab kaya raya ini, Nova Iriansyah terbang ke Jakarta dan memapaparkan potensi investasi Aceh bidang properti (perumahan), dan perhotelan di wilayah Sabang dan Banda Aceh kepada Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Kemaritiman dan Investasi) Luhut B Panjaitan. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi di Jakarta, Kamis (30/1/2020) petang.
Informasi penulis peroleh, dalam dua hari ini Plt Gubernur Aceh juga akan kembali bertemu dengan Dubes UEA untuk Indonesia dan sejumlah pihak terkait lainnya untuk memperdalam rencana investasi UEA tersebut.
Sementara untuk India, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam waktu dekat akan terbang ke India untuk bertemu dengan sejumlah pihak terkait, guna mengonkretkan rencana investasi India di Sabang, dan kerja sama antara Andaman-Nikobar dengan Aceh.
Dalam berita “India Pilih Sabang” yang dirilis Serambi Indonesia Agustus 2019, Nova Iriansyah mengatakan, kunjungannya ke India merupakan kunjungan balasan, karena Dubes India sudah beberapa kali datang ke Aceh dalam penjajakan kerja sama.
"Yang terpenting bagi saya, Dubes ini mau kongkret dan cepat, itu bagian yang saya suka, biasanya selama ini mengambang," pungkas Nova Iriansyah.
• Investor Prancis Survei Potensi Sumber Daya Alam Aceh Timur
Amatan penulis, rencana kerja sama dengan Malaysia belum mendapatkan porsi yang sama dengan tanggapan terhadap UEA dan India. Padahal, sama seperti UEA dan India, Malaysia sepertinya juga terlihat sangat serius untuk menjalin kerja sama dengan Aceh.
Bahkan, orang sekelas Tun Daim perlu terbang dengan pesawat pribadi untuk melihat langsung potensi yang dimiliki Aceh.
Mungkin ada asalan tertentu yang membuat Plt Gubernur Aceh belum memberikan porsi lebih kepada Malaysia. Atau mungkin beliau menganggap, kerja sama antara Malaysia dan Aceh akan terjalin dengan sendirinya antara para pengusaha Aceh dan Malaysia, tanpa harus Pemerintah Aceh mencampuri terlalu jauh.
Apapun alasannya, penulis berharap keinginan Malaysia untuk menjalin kerja sama dengan Aceh juga mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Aceh.
Apalagi, Malaysia saat ini sepertinya sangat membutuhkan pertolongan dari Aceh untuk memperkuat ekonomi muslim di negara mereka. Itung-itung kita berbuat baik untuk tetangga. Wallahuaklam.
*) PENULIS adalah wartawan Harian Serambi Indonesia, tinggal di Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/aceh-pilih-uea-cina-india-atau-malaysia.jpg)