SALAM SERAMBI
Perparkiran Perlu Penertiban Serius
KEPALA Dinas Perhubungan Aceh Tamiang, Syuibun Anwar menegaskan bahwa warga berhak untuk tidak membayar biaya parkir
KEPALA Dinas Perhubungan Aceh Tamiang, Syuibun Anwar menegaskan bahwa warga berhak untuk tidak membayar biaya parkir kepada petugas yang tidak mengenakan atribut resmi dari pemkab.
Hal itu disampaikan Syuibun setelah mengumpulkan sejumlah juru parkir menyusul adanya keluhan dan kritikan masyarakat terhadap pengelolaan parkir di kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara itu.
Hal yang dikeluhkan warga, antara lain, tidak jelasnya status tukang parkir yang mengutip uang parkir dari pengendara. Apakah dia juru parkir resmi atau abal-abal? Selain itu, sistem perparkiran sering tidak tertata rapi.
Dalam pertemuan itu mantan sekretaris DPRK Aceh Tamiang ini mengingatkan agar juru parkir tetap mengenakan atribut dan tanda pengenal yang dikeluarkan oleh dinas perhubungan setempat.
Juru parkir harus mengenakan atribut dan tanda pengenal karena memang sudah ada peraturan yang mengharuskan demikian. “Jadi, ya semestinya dipatuhi,” kata Syuibun Anwar saat meninjau kondisi arus lalu lintas di Kota Kuala Simpang, Jumat (14/2/2020).
Nah, apa yang dikeluhkan masyarakat terkait perparkiran itu sedikit banyak ada benarnya. Bukan saja di Tamiang, tapi di beberapa kabupaten/kota lainnya di Aceh pun realitas itu terjadi. Jadi, relevan agaknya kasus perparkiran di Tamiang itu kita jadikan sampel kasus untuk merepresentasikan kondisi perparkiran pada umumnya di Aceh.
Pertama, banyak tukang parkir di provinsi ini yang tak mengenakan tanda pengenal, seragam, dan rompi parkir saat bertugas. Hal ini tentu membuat pengendara ragu atau bahkan tak ikhlas membayar uang parkir--meski hanya seribu dua ribu rupiah--kepada juru parkir yang siapa tahu liar.
Kedua, sedikit sekali petugas parkir yang menyerahkan tanda retribusi parkir kepada pengendara setelah uang parkir dibayar. Ini relasi yang tidak baik, karena membuka peluang manipulasi dalam pelaporan hasil pungutan parkir pada hari itu. Target pendapatan daerah dari sektor perparkiran sering tak tercapai, antara lain, karena ada kebocoran di tingkat lapangan.
Ketiga, pengaturan dan pelayanan parkir itu juga satu masalah. Di tempat tertentu terkadang kita mendapatkan pelayanan yang menyenangkan. Sampai-sampai kaca depan mobil kita ditutupi karton atau kardus supaya tidak langsung diterpa terik matahari. Pengemudi mobil bahkan dipandu (baik saat mundur maupun maju) sampai kendaraannya benar-benar diparkir di tempat yang seharusnya.
Di areal parkir yang lain, kita sering merasakan bersusah payah untuk memarkirkan kendaraan di antara jubelan kendaraan orang lain. Sedangkan juru parkirnya tak proaktif memandu. Dia hanya memantau dari jauh. Eh, giliran kita hendak meninggalkan areal parkir, tiba-tiba saja tukang parkirnya muncul, minta uang parkir.
Sering pula, saat kita sodorkan bukan uang pas atau yang nilainya lebih (Rp 5.000 atau Rp 10.000) sedikit sekali yang mengembalikan pas.
Lain lagi persoalan yang dihadapi pengendara sepeda motor. Saat hendak meninggalkan areal parkir baru ketahuan kalau helm atau kaca spionnya raib. Saat komplain kepada juru parkir, jawabannya juga sudah standar: Kehilangan apa pun bukan tanggung jawab kami. Padahal, hilangnya jelas-jelas di areal parkir.
Hal-hal kecil tapi menyesakkan dada ini seharusnya dibenahi. Keluhan pengendara yang menggunakan lapak parkir mestinya direspons dan dicarikan jalan keluarnya agar harmoni terjaga, hak dan kewajiban sama-sama ditunaikan.
Pengendara harus berani tidak membayar jasa parkir jika petugasnya tidak berseragam dan tanpa tanda pengenal. Ini penting untuk mendisiplinkan petugas parkir mengenakan seragam saat bertugas.
Perlu pula secara berkala petugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP) dan bersama aparat kepolisian merazia lokasi-lokasi parkir yang petugasnya ternyata abal-abal. Uang publik yang dia kutip bukan untuk disetorkan ke kas daerah, melainkan untuk keuntungan pribadi. Terhadap orang-orang seperti itu petugas harus tega dan tegas menindak agar uang masyarakat tidak terus-menerus mengalir ke kantong oknum-oknum. Semoga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/petugas-parkir-dirazia-dishub-banda-aceh.jpg)