Kisah Inspiratif
Berawal dari Niat Naik Haji, Rizki Multazam Menjadi Staf di Kedubes RI untuk India, Begini Kisahnya
Rizki kebagian tugas dari Kedutaan Besar RI di New Delhi untuk mendampingi kunjungan delegasi Aceh ke Chennai dan Port Blair Andaman.
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM, NEW DELHI - Keinginan naik haji terpatri kuat dalam diri Rizki Multazam.
Namun, niat itu harus dipendam dalam-dalam.
Ketiadaan biaya menjadi alasan utamanya.
Hingga kemudian, setamat dari IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN) pada tahun 2006, Rizki Multazam menemukan ide untuk menempuh jalan berbeda agar bisa menunaikan rukun Islam kelima (naik haji) ke Baitullah.
Rizki Multazam memutuskan melanjutkan pendidikan S-2 ke India.
Sebuah keputusan yang membuat kaget keluarga, teman-teman, hingga para dosen tempat Rizki meminta rekomendasi.
“Saat itu saya mendapat kabar bahwa Pemerintah Indonesia menggunakan jasa mahasiswa Indonesia di India untuk menjadi pendamping jamaah haji. Makanya, saya memutuskan melanjutkan kuliah ke India, dengan niat utama ingin naik haji,” ungkap Rizki Multazam kepada Serambinews.com di Port Blair, Andaman-Nicobar, Rabu (19/2/2020) lalu.
Saat itu, Rizki kebagian tugas dari Kedutaan Besar RI di New Delhi untuk mendampingi kunjungan delegasi Aceh ke Chennai dan Port Blair Andaman.
Delegasi Pemerintah Aceh yang dipimpin Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT, melakukan kunjungan kerja selama lima hari ke India (16-20 Februari 2020).
Kunjungan ini merupakan follow up dari Pertemuan Presiden RI Joko Widodo dengan Perdana Menteri India Narendra Modi pada KTT Asean - India di Bangkok pada tanggal 4 November 2019, serta menindaklanjuti hasil Pertemuan First Meeting Joint Task Force (JTF) di Banda Aceh pada tanggal 7 Desember 2019.
Ada enam poin yang disepakati kedua kepala negara terkait Aceh dan Andaman, yaitu bidang perdagangan dan investasi, konektivitas Aceh dan Andaman & Nicobar, pembangunan infrasruktur Sabang dan Kepulauan Andaman, pembangunan berkelanjutan bidang sumber daya kelautan dan perikanan, pariwisata, serta pertukaran budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
• Tiba di New Delhi, Plt Gubernur Aceh Hadiri Pertemuan BPKS dengan RITES India
• Unsyiah Teken LOI dengan University of Madras India
Kembali ke kisah Rizki Multazam, pemuda kelahiran Lhokseumawe 23 Maret 1982 ini, memutuskan melanjutkan kuliah S-2 ke India.
Saat itu, pada tahun 2006 Rizki baru saja menyelesaikan pendidikan S-1 pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama (TPA) IAIN Ar-Raniry.
Rizki memilih Universitas Dr. Amberka University di Agra, negara bagian Uttar Pradesh, sebagai kampus tujuannya.
Ia memperdalam ilmunya pada jurusan Psikologi.
Niatnya untuk naik haji masih terpatri kuat di dadanya.
Ia masih menunggu panggilan Allah agar diberikan kesempatan menjadi petugas pendamping jamaah haji asal Indonesia.
Karena itu, setelah menyelesaikan S-2 pada Dr Amberka University Agra pada tahun 2008, Rizki kembali melanjutkan S-2 di Aligarh Muslim University (AMU) yang juga berada di Uttar Pradesh.
Pada tahun 2008 inilah, Rizki benar-benar mewujudkan cita-citanya untuk naik haji.
Permohonannya untuk menjadi petugas pendamping jamaah haji asal Indonesia, diterima oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya dengan menjadi petugas pendamping jamaah haji. Saat itu saya bertugas di Jeddah,” kata Rizki Multazam.
Sepulang dari menunaikan ibadah haji, Rizki semakin tekun memperdalam ilmunya pada Aligarh Muslim University (AMU).
Kesempatan emas kembali datang ketika Kedutaan Besar (KBRI) New Delhi membutuhkan tenaga staf lokal di India.
Rizki pun membuat lamaran hingga kemudian diterima secara resmi pada tahun 2010.
Salah satu pertimbangan dia diterima sebagai staf lokal adalah perannya sebagai pelatih Paskibra KBRI New Delhi, sejak tahun 2007 hingga terakhir pada tahun 2019 lalu.

Dengan demikian, Rizki Multazam mulai tinggal di India sejak tahun 2006 (14 tahun lalu) dan mulai bekerja sebagai staf lokal di KBRI New Delhi pada tahun 2010 (10 tahun lalu).
Staf lokal atau biasa disebut pegawai setempat adalah pegawai tidak tetap yang dipekerjakan secara penuh (full-time) oleh Perwakilan RI di luar negeri atas dasar kontrak kerja untuk jangka waktu tertentu guna melakukan tugas-tugas tertentu di Perwakilan RI di Luar Negeri.
Empat tahun setelah bekerja sebagai staf lokal di KBRI, Rizki Multazam pulang kampung dan menikahi gadis pujaan hatinya, Ridhayani.
Kedua sejoli ini menikah pada tahun 2014 di Lhokseumawe.
• Bertemu Dubes India, Senator Fachrul Razi Dukung Konektivitas Aceh-Port Blair Andaman Nicobar
• Antara Instruksi Presiden dan Eksekusi di Lapangan
• Dari Direct Flight Hingga Ekspor Material Bangunan
Saat ini, Rizki dan Ridhayani tinggal bersama tiga buah hati mereka (1 putri 2 putra) di Kompleks KBRI New Delhi.
Kepada Serambinews.com yang menemuinya di New Delhi, Rizki Multazam mengaku betah dan sangat menikmati kerjanya sebagai staf lokal di KBRI New Delhi.
“Budayanya hampir mirip dengan di Aceh, cuma beda jenisnya saja. Misalnya di Aceh, pagi minum kopi, siang minum kopi, malam juga minum kopi. Sementara di India, pagi minum chai (teh susu), siang minum chai, malam juga minum chai,” ujarnya sambil tertawa lebar.
Dua tahun sekali, Rizki pulang ke kampung halamannya di Lhokseumawe.
Terkadang dia menghabiskan waktu selama 12 hari di Aceh.
Bagaimana dengan kuliah di India?
Rizki mengatakan, saat ini hanya ada 5 mahasiswa Aceh di India.
Angka ini jauh di bawah jumlah mahasiswa Aceh di Cina yang mencapai seratusan orang.
Menurut Rizki, selain karena niat naik haji, dia memilih India sebagai tempat kuliah karena biaya pendidikan di negara Amittabacchan ini tergolong murah.
“Pada masa saya kuliah, hanya Rp 12 juta sampai selesai S-2 selama 2 tahun. Saat ini mungkin biayanya sekitar Rp 18 juta untuk selesai 2 tahun S-2,” kata dia.
Universitas apa saja yang direkomnya?
“Aligarh Muslim University adalah salah satu univeritas yang patut dijajal. Karena ini termasuk universitas top di India. Banyak alumninya tersebar di berbagai negara maju di dunia, seperti Amerika dan Inggris,” ujar Rizki.
Jurusan apa saja yang pantas dipilih?
“India terkenal dengan IT (informasi dan teknologi), kedokteran, tapi kedokteran ini agak susah untuk mahasiswa luar India, dan sastra Inggris,” ujarnya.
Sekedar diketahui Aligarh Muslim University (AMU) adalah universitas negeri yang didanai oleh Pemerintah India.
Universitas tersebut aslinya didirikan oleh Sir Syed Ahmad Khan dengan nama Kolese Inggris-Oriental Mohammedan pada 1875.
Kolese Inggris-Oriental Mohammedan diubah menjadi Universitas Muslim Aligarh pada 1920.
Good job Rizki.