Sabtu, 11 April 2026

Akses Jalan ke Sekolah Ditutup Pengusaha, Murid SD Ini Harus Panjat Tembok Tinggi

Meski pun beresiko fatal bagi keselamatan mereka, namun para siswa ini terpaksa melakukannya karena akses jalan lain terlalu jauh.

Editor: Amirullah
KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BERE
Murid SD Kristen Petra Ala 

SERAMBINEWS.COM - Ratusan murid SD Kristen Petra Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT), setiap hari harus memanjat tembok setinggi empat meter.

Hal dilakukan mereka untuk sampai ke sekolah maupun kembali ke rumah masing-masing.

Tembok yang menghalangi akses menuju SD Kristen Petra itu diketahui dibangun oleh seorang pengusaha sukses di Kota Kupang.

Meski pun beresiko fatal bagi keselamatan mereka, namun para siswa ini terpaksa melakukannya karena akses jalan lain terlalu jauh.

Akibatnya, tak jarang para siswa datang terlambat sampai ke sekolahnya.

"Tiap hari kami terlambat ke sekolah gara-gara harus berulang kali panjat tembok tinggi ini."

"Saya kesulitan karena temboknya tinggi sekali," ujar Juliana Julita Bahan, siswi kelas VI SD Kristen Petra Alak, saat diwawancarai sejumlah wartawan, Jumat (6/3/2020) pagi.

Juliana mengatakan, ada jalan alternatif untuk menuju ke sekolahnya.

Telur Rebus Perjaka, Makanan Favorit Warga Dongyang yang Diolah Pakai Air Kencing Bocah Laki-laki

Polisi Jual Masker Sitaan, Mahfud MD: Boleh, Asal Uangnya Tak Dimakan Sendiri

Mengandung Banyak Rempah, Nasi Padang Disebut Bisa Cegah Virus Corona, Begini Penjelasan Ahli Gizi

Namun, jaraknya terlalu jauh bisa mencapai enam kilometer.

Karena kondisi jalan yang jauh, membuat para Juliana bersama dengan teman-temannya tersebut terpaksa harus memanjat tembok setiap harinya.

Diakui Juliana, sebelum adanya tembok itu, para siswa tidak pernah terlambat ke sekolah.

Ia pun berharap agar ada solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Kami hanya minta agar tembok ini segera dibongkar," katanya.

Diktutip dari POS- KUPANG.com, beberapa siswa SD Petra lainnya mengaku, mereka ke sekolah maupun pulang harus melewati jalan yang ada, namun sudah kurang lebih satu bulan ini ruas jalan itu ditutup.

"Kami setiap hari harus jalan lewat sini dan panjat tembok. Ada jalan lain, tapi kami harus putar agak jauh sehingga kadang terlambat masuk sekolah," ujar Engel yang diikuti teman-temannya Putri, Megy ,Echa dan Yuliana.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved