Breaking News:

Salam

Jangan Akal-Akalan Menyusup Masuk Aceh

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mewartakan bahwa pemerintah melarang masyarakat untuk mudik ke kampung halaman

SERAMBINEWS.COM/ RAHMAD WIGUNA
Bus asal Medan tujuan Banda Aceh, diperiksa petugas di Terminal Kualasimpang, Aceh Tamiang, Selasa (14/4/2020) malam. Meski tidak didukung anggaran memadai, penjagaan di perbatasan tetap dilakukan maksimal. 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mewartakan bahwa pemerintah melarang masyarakat untuk mudik ke kampung halaman masing-masing mulai 24 April 2020 pukul 00.00 WIB.

Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Dirjen Perhubunganan Udara Kementerian Perhubungan, Novie Riyanto mengatakan kebijakan tersebut juga berlaku bagi moda transportasi udara. Itu artinya, pesawat komersial dilarang mengangkut penumpang mulai tanggal tersebut.

Larangan melakukan perjalanan di dan ke dalam negeri, baik menggunakan transportasi umum (pesawat komersial) maupun transportasi pribadi (pesawat carter) mulai berlaku efektif sejak 24 April sampai 1 Juni 2020.

Menurut Novie dalam teleconference Kamis (23/4/2020), aturan tersebut berlaku secara menyeluruh. Artinya, aturan ini diterapkan tidak hanya di wilayah yang melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saja.

Namun, aturan ini dikecualikan bagi pimpinan lembaga tinggi negara dan tamu/wakil kenegaraan dan perwakilan organisasi internasional. Pengecualian juga berlaku untuk operasional penerbangan khusus repatriasi pemulangan WNI maupun WNA. Juga untuk operasional penegakan hukum, ketertiban, dan pelayanan darurat, serta pengangkutan kargo yang sifatnya penting dan esensial.

Disebutkan juga bahwa pesawat konfigurasi penumpang dapat digunakan untuk mengangkut kargo di dalam kabin penumpang khusus untuk pengangkutan kebutuhan medis, sanitasi, dan pangan.

Nah, larangan terhadap masyarakat agar tidak mudik dan larangan bagi maskapai penerbangan untuk mengangkut penumpangini baru pertama kali terjadi pada abad ke-21 ini di Indonesia. Selain sangat langka juga terasa sangat aneh larangan ini jika dilihat dari kacamata normal. Tapi persoalannya negeri ini sedang dirundung prahara besar yang juga melanda ratusan negara, yakni pandemi virus corona atau Covid-19. Kita sedang berada dalam kondisi force majeure.

Kita juga dapat segera maklum bahwa larangan tersebut dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran lebih luas virus yang mematikan ini. Baik dari Jakarta ke berbagai provinsi di Indonesia maupun sebaliknya. Juga dari wilayah Indonesia ke luar negeri.

Bukan rahasia lagi bahwa penyebaran virus corona ternyata juga bisa terjadi melalui “carrier” yang melupakan orang tanpa gejala (OTG). Nah, pada OTG ini umumnya tidak menyadari bahwa dialah yang menjadi perantara tersebarnya virus corona dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu orang ke orang lain.

Mereka yang menjadi “carrier” ini umumnya adalah orang yang banyak bepergian atau memiliki mobilitas tinggi. Karena itu pula menjadi sangat logis dan relevan ketika pemerintah memutuskan untuk melarang pesawat mengangkut penumpang. Langkah tersebutdiyakini akan efektif memutus rantai  penyebaran virus yang selama ini antara lain tersebar melalui orang-orang yang menggunakan transportasi udara udara.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved