Jurnalisme Warga
Menggugah Kesadaran Publik Melawan Corona
SAAT reportase ini saya siapkan, total jumlah pasien positif corona di seluruh dunia mencapai 2.826.035 orang
OLEH SAIFUDDIN BANSTASYAM, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Lam Klat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar
SAAT reportase ini saya siapkan, total jumlah pasien positif corona di seluruh dunia mencapai 2.826.035 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 196.931 meninggal, 774.877 berhasil sembuh, dan sisanya sekitar 1.854.227 orang sedang menjalani perawatan, yang belum diketahui hasil akhirnya nanti. Di Indonesia, tercatat 8.607 orang positif, 720 meninggal, dan 1.042 sembuh.
Kita bersyukur bahwa Aceh salah satu provinsi dengan jumlah korban terpapar dan meninggal tergolong sedikit. Hanya satu orang yang meninggal dari sembilan yang positif corona. Namun, kewaspadaan tetap harus dikedepankan. Mengapa? Karena, baik secara global maupun nasional, jumlah yang positif corona dan yang meninggal terus bertambah setiap hari. Bahkan Ikatan Doker Indonesia Wilayah Aceh memprediksi akan ada ledakan kedua yang lebih hebat di Aceh jika masyarakat abai terhadap protokol kesehatan.
Poin penting yang ingin disampaikan adalah bahwa baik atau buruknya situasi, tergantung juga pada sikap masyarakat. Kebijakan yang dibuat pemerintah, intervensi di sektor sosial ekonomi, kesiapan dokter dan para medis, menjadi percuma jika masyarakat lalai menjaga diri.
Di Aceh pun demikian. Karena berbagai pertimbangan, jam malam dicabut oleh pemerintah pada 7 April setelah diterapkan sejak 29 Maret 2020. Jadi, hanya seminggu. Tetapi bagaimana kepatuhan, misalnya, pemilik warung kopi atau kafé dan pelanggan (warga masyarakat) dalam mematuhi protokol kesehatan setelah sekitar tiga minggu jam malam tersebut dicabut? Bagaimana pelaksanaan rapid test yang sering dibahas di media cetak dan elektronik, termasuk media sosial (medsos). Adakah tes tersebut disambut dengan baik atau sebaliknya, diremehkan?
Beberapa malam lalu, saya ikut Tim Satgas Covid-19 Kota Banda Aceh untuk melakukan rapid test. Di dalam satgas ini, tergabung Dinas Kesehatan Banda Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banda Aceh, Satpol PP Banda Aceh, jajaran Polresta Banda Aceh, dan Kodim Banda Aceh. Turut serta Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin, didampingi Asisten I, Faisal.
Rapid test pertama menyasar sebuah warkop di Lampaseh. Sekitar pukul 21.00 WIB secara berkonvoi Tim Satgas meluncur ke lokasi, dengan delapan kendaraan (tiga ambulans, beberapa truk personel, dan beberapa mobil lainnya). Konvoi semacam ini sangat mencolok: ada ambulans, anggota polisi, anggota TNI, dan personel Satpol PP. Dampaknya segera terlihat: sejumlah pengunjung di warkop yang berdekatan dengan warkop target misalnya, bergegas meninggalkan warkop.
Sebulan tak ke luar malam, saya tertegun melihat tempat parkir penuh sesak oleh kendaraan roda dua. Paramedis Dinkes yang mengenakan alat pelindung diri (APD) warna putih dan paramedis berbaju APD kuning (disebutkan mereka dari kepolisian) masuk ke dalam warkop. Sejumlah pengunjung warkop terlihat menghindar, ke luar atau pindah ke area belakang warkop. Sementara itu, anggota Satpol PP, polisi, dan TNI berjaga-jaga di beberapa sudut.
Saat paramedis menyiapkan peralatan tes, seorang anggota satpol PP memberi pengarahan dengan memakai mik (pelantang suara). Dia minta pemilik atau pekerja warkop untuk memberikan contoh yang baik. Menjaga jarak, memakai masker, menganjurkan orang lain pakai masker. Mengatur meja dan kursi sesuai protokol yang ada. Dia juga minta para pengunjung untuk mematuhi imbauan dan larangan yang sudah dibuat oleh pemerintah.
Saat di Lampaseh ini, Wakil Wali Kota juga turut memberi arahan kepada pengunjung dan membagikan masker secara gratis.
Setelah di Lampaseh, Tim Satgas meluncur ke lokasi berikutnya, Jalan Syiah Kuala, Lamdingin. Pengunjung di warkop ini tak seramai yang di Lampaseh. Tapi saat Tim Satgas tiba, sebagian pengunjung juga memilih meninggalkan warkop. Dalam sekejap, banyak meja yang kosong, anggota Satpol PP kembali mengingatkan pekerja dan pengunjung warkop untuk serius mematuhi seluruh aturan yang sudah dikeluarkan oleh Pemko Banda Aceh.
Dianggap pengganggu
Total ada 20 orang yang menjalani rapid test di kedua warkop tersebut. Mereka ini pekerja warkop dan pengunjung. Semuanya atas dasar sukarela, tapi pekerja warkop sebenarnya diminta atau diharuskan untuk menjalani rapid test. Saya kira ini wajar, karena merekalah yang paling banyak berinteraksi dengan pengunjung.
Di samping ada yang menghindar sebagaimana saya sebutkan di atas, saya juga melihat ada pekerja yang tidak pakai masker. Persentase pengunjung yang memakai masker teramat sangat sedikit. Kedua warkop itu juga tak sepenuhnya menerapkan kebijakan pengurangan kursi atau memberi tanda X pada kursi yang berdekatan. Sepertinya mereka tidak memberi arahan kepada para pengunjung dan yang tidak pakai masker juga diperbolehkan masuk. Pengunjung pun kelihatannya tak peduli kepada “ketidakaturan” yang sesuai dengan protokol kesehatan.
Saya mendapat kesan bahwa kehadiran Tim Satgas melakukan rapid test dianggap sebagai pengganggu. Karena itu sebagian besar mereka tak peduli, bergeming saat diminta pindah atau memindahkan kursi. Sebagian bahkan memperlihatkan wajah sinis. Beberapa perempuan muda yang duduk berpasangan dengan (mungkin) pacarnya, menunjukkan wajah cemberut dan beberapa lainnya “cuek-bebek.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/saifuddin-bantasyam_20160213_170535.jpg)