Jumat, 24 April 2026

Jurnalisme Warga

Menggugah Kesadaran Publik Melawan Corona

SAAT reportase ini saya siapkan, total jumlah pasien positif corona di seluruh dunia mencapai 2.826.035 orang

Editor: bakri
SAIFUDDIN BANSTASYAM, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Lam Klat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar 

Semua keadaan di atas memberi satu simpulan kepada saya bahwa di warkop tidak terlihat kesadaran bahwa kita sedang menghadapi pandemi korona. Bisnis tampak berjalan seperti biasa. Tak tampak suatu perbedaan, kecuali mungkin dalam hal jumlah pengunjung. Sedangkan segi kepatuhan, sangatlah rendah.  Warga menganggap remeh berbagai protokol kesehatan, imbauan, dan larangan.

Sudah banyak berita tentang bagaimana virus itu menyebar. Ada puluhan statemen penyintas (survivor) tentang bagaimana tersiksanya berada di ruang isolasi. Juga ada ribuan foto yang memperlihatkan berbagai implikasi terkait wabah tersebut. Tak kurang pula video yang menggambarkan ragam kesedihan, suasana yang menyayat hati. Sebuah video yang viral bahkan memperlihatkan dengan detail proses tracheostomy, tindakan medis berupa pembuatan lubang di bagian depan leher pasien corona.

Semua itu sepertinya belum cukup menjadi pelajaran. Kewaspadaan tak sepenuhnya terbentuk. Pentingnya hidup sehat seolah belum merasuk ke dalam pikiran sebagian besar warga. Bagi saya, kenyataan demikian adalah masalah terbesar kita dalam mencegah penyebaran corona.

Lamat-lamat saya jadi teringat pernyataan Wali Kota Bogor Bima Arya, sang penyintas corona.  “Saat Anda terjangkit corona dan kemudian dibawa dan dirawat di rumah sakit, maka Anda punya satu keinginan saja: pulang ke rumah,” katanya saat ditanya wartawan tentang pengalamannya dirawat 22 hari di rumah sakit tanpa berinteraksi sedetik pun dengan istri dan anak-anaknya.

Alhamdulillah, Bima Arya sembuh dan kemudian pulang ke rumah. Tetapi kita juga tahu bahwa ada ratusan orang yang tidak pulang. Mereka dibawa ke pemakaman. Keluarga dan sanak saudara tak boleh memandikan dan mengafani mereka. Bahkan saat dikuburkan pun, hanya boleh disaksikan dari kejauhan diiringi isak tangis karena sedih yang teramat sangat. Mereka yang muslim memang dikategorikan mati syahid, tetapi sebaiknya kita yang masih diberi kehidupan, tidak mencari mati syahid melalui proses atau keadaan semacam yang dialami oleh mereka.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved