Breaking News:

SALAM SERAMBI

Pendatang Haram Terjepit Lockdown

ARUS kepulangan secara liar warga Aceh dari Malaysia te­rus terjadi. Dua hari lalu, TNI AL Tanjung Balai Asahan (TBA) Lantamal I Belawan, Sumut, menan

Dok Lanal Tanjung Balai
Para pekerja migran ilegal yang diamankan petugas Lanal Tanjung Balai, Sumatera Utara. 

ARUS kepulangan secara liar warga Aceh dari Malaysia te­rus terjadi. Dua hari lalu, TNI AL Tanjung Balai Asahan (TBA) Lantamal I Belawan, Sumut, menangkap serombongan Tena­ga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang mencoba pulang melalui kawasan perairan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara. Dari 119 TKI tersebut, 34 di antaranya merupakan warga Aceh.

Menurut catatan, sejak 27 April 2020 Lanal TBA mencatat sudah 13 kali mengamankan TKI yang pulang secara ilegal, dan hampir semuanya terdapat warga Aceh. Malaysia mene­rapkan kebijakan lockdown akibat wabah Covid-19 dan ini sa­ngat mempersempit ruang gerak para pendatang haram ke negeri jiran itu. Makanya, banyak tenaga kerja illegal di Ma­laysia berusaha keras untuk pulang dengan cara apapun.

Dari 34 warga Aceh yang ditangkap itu, empat orang (se­mua laki-laki) dengan tujuan kepulangan Aceh Utara, Bireuen lima orang (4 laki-laki 1 perempuan), Pidie sembilan orang (8 laki-laki, 1 perempuan), Aceh Timur 15 orang (11 laki-laki, 4 perempuan), dan Aceh Barat Daya satu orang.

Ssetelah ditangkap, mereka bersama TKI dari provin­si lain dibawa ke Pelabuhan Tanjung Tiram. Mereka men­jalani pemeriksaan sesuai dengan protokol penanganan Covid-19. Setelah itu diserahkan kepada Satgas Covid-19 Kabupaten Batubara untuk dilakukan penanganan lebih lanjut dan karantina.

Komandan Lantamal I, Laksamana TNI Abdul Rasyid K SE MM mengatakan, pada saat pandemi Covid-19 seperti seka­rang ini, petugas senantiasa berusaha untuk mencegah ma­suknya TKI ilegal agar tidak lolos dari protokol pemeriksaan Covid-19. "Pemeriksaan itu diharapkan dapat memutus rantai penularan virus Corona yang dikhawatirkan masuk melalui ja­lur tikus," ujar Abdul Rasyid.

Secara kemanusiaan kita sangat prihatin pada nasib TKI il­legal itu. Soalnya, mereka menjadi pendatang haram ke nege­ri jiran itu justru karena di tanah air mereka tak mendapatkan lapangan kerja. Menjadi TKI illegal itu bukan hanya masuk ke Malaysia yang sulit, tapi sejak berangkat dari tanah air, mereka sudah mengalami kesulitan hingga terkadang ha­rus menyabung nyawa. Lalu masuk ke Malaysia juga secara diam-diam lewat jalur-jalur tikus yang bila tertangkap tak ada ampun, kecuali penjara.

Menjadi pekerja illegal di negeri jiran itu memang menda­patkan penghasilan yang lebih besar dibanding pendapatan-pendapatan pekerja serupa di tanah air. Namun, dalam sta­tus sebagai pekerja illegal mereka selalu berada dalam ketakutan. Sebab, setiap saat pihak keamanan Malaysia me­lancarkan razia pendatang haram yang jumlahnya di negara itu memang sangat banyak.

Dan, ketika seperti sekarang negara-negara menerapkan lockdown guna mencegah penyebaran Covid-19, tentu posi­si para pendatang haram itu sangat terjepit. Bertahan di ne­geri jiran itu akan sangat sulit mengingat setiap hari dilaku­kan patroli pengawas aktivitas warganya. Sebagai pendatang haram, selain kehilangan pekerjaan karena aktivitas pabrik-pabrik dan industri di sana ditutup sementara, para penda­tang haram ini juga tidak mendapat jatah bantuan sembako dari pemerintah setempat. Jadi, posisinya memang sangat terjepit.

Nah, ditambah lagi, sekarang ini bulan puasa yang seben­tar lagi hari raya Idul Fitri. Kedua momentum ini menjadi daya tarik berat bagi para TKI ilegal mau resmi untuk pulang kam­pung, terutama warga Aceh. Karenanya, risiko apapun akan mereka hadapi untuk bisa pulang ke Aceh.

Saat ini yang harus mereka hadapi bukan hanya pelanggar­an keimigrasian, tapi juga pelanggaran kebijakan-kebijakan pemerintah terkait pencegahan virus Corona. Apalagi, banyak perantau dari Malaysia setiba di tanah air terbukti terinfeksi Covid-19. Makanya, kepada mereka yang kini dalam proses karanatina di Sumatera Utara kita berharap dapat menjalani­nya secara baik dengan mengikuti protokol kesehatan secara disiplin untuk kebaikan bersama.

Kemudian, jika kelak mereka dikembalikan ke Aceh, pihak keluarga mereka masing-masing juga hendaknya harus berji­wa besar melaporkannya ke pihak Gugus Tugas Covid-19 di daerah masing-masing untuk menjalani pemeriksaan sebe­lum mereka diizinkan bersosialisasi dengan masyarakat se­cara terbatas. Ingat, apapun aturan yang diterapkan, tujuan akhirnya adalah Corona segera lenyap!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved