Jumat, 12 Juni 2026

Opini

Menggali Mental Intelektual  

Anggaran Provinsi Aceh untuk penanggulangan dan mengatasi Covid-19 mencapai Rp 1,7 triliun. Konon jumlah itu termasuk dalam kelompok lima

Tayang:
Editor: bakri
Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah 

Suasana persandingan begitu tampak akhir-akhir ini. Dengan jelas kita menemukan ketidakberpihakan sebagian orang-orang pandai terhadap kemaslahatan. Orang yang kita kagumi, tiba-tiba sudah menjadi bagian dari kelompok yang tidak kita kagumi. Demikian juga dengan ada orang yang tidak kita kagumi (pernah korupsi misalnya), tiba-tiba sudah ada posisi dalam kelompok yang kita kagumi.

Keduanya ada nuansa saling butuh. Namun tidak adil bila hubungan timbal balik itu berlangsung dalam suasana yang tidak berpihak. Suasana seperti ini seyogianya tidak diukur oleh mereka yang saling membutuhkan semata, namun juga pihak lain yang berkaitan dengan pihak-pihak di sekelilingnya.

Mental inilah yang harus digali dan dirujuk. Penekanan seperti itu penting disampaikan. Bahwa tidak ada persoalan orang pandai mendekat kepada kekuasaan, apalagi dengan keinginan untuk mempercepat melakukan perubahan. Namun bayangkan, bila perubahan yang ingin dipercepat itu bukan untuk perbaikan masyarakat, tetapi sebaliknya. Orang pandai sering digunakan untuk "meluruskan" ketidaklurusan. Bila ini yang terjadi, maka sungguh akan ada yang dirugikan. Persandingan seperti itulah yang harus kita tolak. Bahwa orang-orang yang pandai, tidak boleh berdiri di belakang kepentingan yang tidak berpihak kepada perbaikan.

Kerapkali seorang pandai, ketika sudah bergandeng mesra dengan kelompok yang warna-warni, ia tidak bisa lagi mempertahankan kemurnian nuraninya. Kekuatan intelektual kemudian dipergunakan untuk kelompok yang warna-warni itu, dengan tetap mengatakan bahwa segalanya berdasar nurani.

Selain itu bukan berarti tidak ada tantangan bagi yang berdiri bebas di luar kekuasaan. Masalah utamanya adalah berbagai kebutuhan yang semakin hari semakin banyak-di mana alasan inilah yang membuat banyak orang pandai tergoda. Bukan masalah ringan dalam memalingkan wajah dari godaan tersebut. Jadi ini juga menjadi tantangan.

Inilah mentalitas yang penting. Membawa mentalitas ini kepada semua kita yang memang harus terlibat dalam mengantasi Covid-19 ini. Orang pandai sangat penting dan dominan berada dalam kekuasaan, namun segenap dengan mentalitas kemaslahatannya. Orang pandai yang membawa ilmunya sekaligus nuraninya dalam melakukan apa yang akan dijalankan.

Saya kira kekuatan ini yang harus ada dalam sanubari kita semua. Bukan untuk suudzan di awal. Namun harus diingatkan sejak mulai, karena rugi kemudian akan makin menambah korban. Apapun jalan yang kita pilih, tentu tidak boleh ada yang dirugikan-khususnya keberpihakan terhadap kebenaran dan rakyat kecil.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved