Breaking News:

Salam

Sudah Saatnya Perbatasan Aceh-Sumut Ditutup Total

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa terjadi lonjakan pesat jumlah warga yang positif corona di Aceh

SERAMBINEWS/Dok Humas Aceh Timur
Petugas kesehatan sedang memeriksa suhu tubuh para sopir truk yang akan melintasi Aceh Timur dari arah Kota Langsa di pos pemeriksaan perbatasan Gampong Birem Rayeuk, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa terjadi lonjakan pesat jumlah warga yang positif corona di Aceh. Dalam sehari bertambah 13 orang, sehingga angkanya mencapai 66 orang. Termasuk satu di antaranya warga negara Filipina yang hampir dua pekan lalu dievakuasi ke Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh karena sakit serius di kapal asing tempat ia bekerja dan kebetulan melintas di perairan Aceh.

Saat editorial Serambi Indonesia ini ditulis, terbetik kabar baru bahwa jumlah warga yang positif Covid-19 di Aceh bertambah tiga orang lagi, sehingga totalnya menjadi 69 orang. Satu di antara yang terinfeksi adalah bayi berumur setahun dari klaster paling “merah” di Aceh Besar, yakni Asrama Polisi (Aspol) IOM di Kecamatan Ingin Jaya.

Satu lagi warga Banda Aceh dan yang terakhir merupakan warga Kota Sabang. Dengan terinfeksinya satu gadis 16 tahun di Sabang ini, maka resmilah corona sudah menjangkiti seluruh Indonesia, dari Merauke hingga ke Sabang.

Nah, berangkat dari fakta di atas mari kita berhitung tentang meningkatnya jumlah penularan di Aceh. Mencari tahu akar masalahnya sangatlah penting, supaya kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan. Saat puasa Ramadhan lalu, penambahan kasus corona di Aceh berjalan sangat lamban.

Bahkan pernah dalam dua minggu tak satu pun kasus baru bertambah. Tapi pasca-Lebaran mulai ada peningkatan. Jumlah kasus makin melonjak setelah pasangan suami istri (pasutri) MS dan DL yang bermukim terdeteksi positif corona. Dari pasangan ini terjadi pula penularan lokal (local transmission) yang menyebabkan belasan orang terinfeksi. Baik orang yang di dalam maupun di luar rumah mereka. MS, sang suami, meskipun sudah sembuh teridentifikasi sebelumnya punya

riwayat perjalanan ke Medan, Sumatera Utara. Istrinya juga sempat dikabarkan ikut ke Medan, tapi karyawati sebuah bank pelat merah itu kemudian membantahnya.

Okelah hanya suaminya saja, yakni MS yang pernah ke Medan di masa pandemi ini. Sebetuknya satu orang pun cukup sebagai “carrier” virus corona bagi orang lain. Inti masalahnya adalah MS yang pedagang sepeda motor kenapa leluasa pergi ke Medan dan kembali ke Lhokseumawe di masa pandemi ini?

Artinya, pengawalan di perbatasan Aceh-Sumut kini tak lagi seketat dulu. Kita semakin yakin bahwa pengawalan di perbatasan Aceh-Sumut banyak bolongnya setelah Suk (63) dan istrinya Nai (63) leluasa masuk Aceh dua pekan lalu. Sehari setelah tiba di Aceh Suk jatuh sakit. Saat diperiksa di RS Pertamedika Ummi Rosnati ada gejala Covid-19 sehingga langsung dirujuk ke RSUZA Banda Aceh. Hanya sehari dirawat di RSUZA, Suk meninggal pada Rabu (17/6/2020) siang. Suk tak sempat tahu bahwa sepeninggalnya sang istri, anak, menantu, dan tiga cucunya juga tertular virus corona.

Dari klaster Aspol IOM ini telah terjangkit pula empat orang lain yang bukan keluarga inti pasutri Suk dan Nai. Munculnya klaster “merah pekat” di Lhokseumawe-Aceh Utara dan Aspol IOM ini sulit untuk dibantah tak ada hubungannya dengan klaster Medan. Kedua klaster ini terpicu dari adanya orang yang datang atau pulang dari Medan, zona merah paling “hot” di Sumatra.

Oleh karenanya, sudah wajib hukumnya bagi Pemerintah Aceh untuk meningkatkan penyekatan di perbatasan Aceh- Sumut. Bukan saja di Aceh Tamiang, tapi juga di perbatasan Sumut-Aceh Tenggara, Sumut-Subulussalam, dan Sibolga- Singkil. Penyekatan paling ekstrem dan tentunya paling efektif adalah menutup total semua titik perbatasan itu bagi lalu lintas atau mobilitas manusia, kecuali untuk membawa sembako dan peralatan medis.

Plt Gubernur Aceh bersama anggota Forkopimda harus lebih tegas dalam penyekatan perbatasan ini dibandingkan dengan bulan Maret lalu. Saat itu di Aceh sempat diberlakukan jammalam meski hanya satu minggu dan kasus corona kala itu masih bisa dihitung dengan sebelah jari.

Sudah saatnya saat ini dikaji untuk menutup sementara akses Aceh-Sumut, terutama di jalur darat dan laut, agar penularan dari Sumut tidak semakin meningkat. Pemerintah harus bertindak cepat sebelum kita semua menyesal nantinya. Pemerintah juga jangan hanya jadi tukang hitung dan lapor kasus setiap hari.

Jangan juga mimpi tentang new normal di Aceh kalau kondisi saat ini sangat abnormal dan itu terus dibiarkan tanpa antisipasi dan tindakan nyata di perbatasan. Tak berlebihan agaknya ketika Kepala Ombudsman Perwakilan Aceh, Dr Taqwaddin SH di sebuah grup WA menyatakan, “Inilah dampak dari permainan di perbatasan.”

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved