Berita Aceh Besar
Di Hadapan Wali Santri, Prof Syamsuddin Mahmud Ingatkan Pentingnya Pendidikan di Era Globalisasi
dunia pendidikan terus dituntut sesuai kebutuhan kemajuan globalisasi itu sendiri, dan kebutuhan pendidikan sebagai modal bagi masyarakat.
SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Mantan Gubernur Aceh, Prof Dr Syamsuddin Mahmud MBA memberi sambutan pada acara pembukaan kegiatan Orientasi Pengenalan Dayah/Madrasah Santri Baru MAS Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Tahun Ajaran 2020/2021.
Acara berlangsung di kampus RIAB, Desa Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Minggu (28/6/2020).
Prof Syamsuddin Mahmud selaku Pendiri/Ketua Pembina Dayah RIAB mengatakan, pada era yang sangat global ini, dunia pendidikan terus dituntut sesuai kebutuhan kemajuan globalisasi itu sendiri, dan kebutuhan pendidikan sebagai modal bagi masyarakat
Di dunia manapun pendidikan itu tidak bisa dipisahkan dengan kebutuhan.
Karena itu adalah sebagai pendorong bagi kemajuan zaman sesuai persaingan global.
• Aturan Baru bagi Masyarakat yang Lakukan Perjalanan Dalam Negeri, Berikut Persyaratan Lengkapnya
• Tak Melulu Keindahan Alam dan Kuliner, Kini Ada Madura Island
"Dunia ini makin lama makin matang, dimana kebutuhan pendidikan juga disesuaikan dengan tuntutan global," kata Prof Syamsuddin Mahmud dalam acara penyambutan 247 Santri baru yang didampingi Orang/Tua Wali dan dihadiri Direktur Dayah, Ustad Kusnadi MA beserta seluruh civitas akademika RIAB.
Dalam kesempatan itu, Prof Syamsuddin Mahmud mengatakan, Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) menganut sistem pendidikan sebagai kebutuhan.
• Patuhi Aturan, Jangan Gelar Dulu Pesta Perkawinan
• Keliru Saat Pendataan, Tiga Warga Indra Jaya Kembalikan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa
Demikian juga dengan bahasa dalam dunia pendidikan sangat penting, tanpa bahasa tidak bisa menganut pendidikan secara global dan persaingan dunia.
Persaingan antara kelompok pendidikan diantara satu dan lain sangat diperlukan untuk daya saing kemampuan pendidikan.
"Untuk itu mengharapkan anak-anak RIAB nanti, bisa dan mampu berkomunikasi lima bahasa diantaranya Bahasa Arab, Inggris, Perancis, Mandarin dan Spanyol," harapnya.
Lebih lanjut, mantan Gubernur Aceh juga mengulang kembali visi dan ide awal pembentukan RIAB sejak pembangunannya pada tahun 1997.
Lokasi ini masih sepi dan disekelilingnya hutan, tapi sekarang sudah ramai dengan bangunan rumah warga Desa Gue Gajah.
• Pusat Studi Falak Adakan Pelatihan Teleskop Bagi Santri RIAB, Untuk Observasi Gerhana Bulan Parsial
• Pemerintah Diminta Serius Tertibkan Tambang Emas Ilegal
"Dari awal RIAB ini didirikan dengan niat menguatkan ilmu agama juga bahasa.
Harapannya setelah selesai dari dayah ini, selain mampu mendalami ilmu agama, anak-anak kita juga mampu menguasai berbagai bahasa seperti yang diharapkan," kata Prof Syamsuddin Mahmud.(*)