JURNALISME WARGA

Belanja Online, Antara Impian dan Kenyataan Pahit

DELAPAN pintu rezeki yang terbuka ada dalam perdagangan, maka tak heran kalau perdagangan paling banyak peminatnya

Editor: hasyim
CHAIRUL BARIAH 

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

DELAPAN pintu rezeki yang terbuka ada dalam perdagangan, maka tak heran kalau perdagangan paling banyak peminatnya.

Perdagangan telah dikenal sejak dahulu kala. Nabi Muhammad saw juga dikenal sebagai pedagang. Sejak berumur 12 tahun pamannya telah mengenalkan kepada Muhammad dunia perdagangan, walaupun pada zaman dahulu perdagangan umumnya dilakukan dengan sistem barter atau tukar-menukar barang dengan barang, terutama kebutuhan pokok.

Seiring dengan perkembangan zaman di era Revolusi Industri 4.0 saat ini bukan hanya transaksi bisnis yang dilakukan secara online (daring), dunia pendidikan dan sosial pun tak mau ketinggalan untuk berdaring ria.

Sebagai contoh, dalam sejarah Indonesia pernikahan secara daring mungkin baru pada tahun 2020 ini terjadi. Bahwa telah berlangsung akad nikah secara daring karena mempelai pria berada di negeri seberang, sedangkan wanitanya di sebuah desa dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat. Peristiwa unik pada masa pandemi Covid-19 ini bahkan viral di media, karena terjadinya bukan di kota besar.

Pemanfaatan pemasaran elektronik atau online bidang perdagangan atau bisnis tentu berbeda dengan kegiatan lainnya, karena lebih mengutamakan keuntungan. Perdagangan elektronik atau ‘electronic commerce’ yang disingkat dengan e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang, dan jasa menggunakan sistem elektronik seperti internet, televisi, website, atau berbagai jaringan komputer lainnya.

Perdagangan sistem ini mengikuti alur yang dimulai dari konsumem memilih, menentukan, memesan barang, dan adanya kesepakatan harga. Kemudian, dana ditransfer ke produsen, lalu produsen melalui perantara mengantarkan barang sampai ke tangan konsumen.

Akibat perkembangan teknologi yang kian canggih mengharuskan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan sebaik mungkin menyusun berbagai strategi pemasaran dan memanfaatkan peluang pada masa pademi Covid-19 ini melalui online, walaupun sebelumnya penjualan dengan cara ini kurang diminati masyarakat, apalagi yang golongan menengah ke bawah. Sasaran utama yang menjadi objek biasanya adalah kaum ibu, remaja, atau generasi milenial.

Namun, sejak meningkatnya eskalasi wabah Covid-19 pada Februari 2020 di Indonesia, sudah menjadi tren di tengah masyarakat untuk membeli berbagai produk secara online, bahkan pada saat meugang Idulfitri yang lalu pun sebagian daerah di Aceh melakukan penjualan daging sapi secara online dan bayar di tempat. Ini merupakan suatu kemajuan dalam dunia perdagangan di desa atau gampong. Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa tahun lalu, di desa seakan-akan penjualan online adalah sesuatu yang asing.

Ada beberapa hal yang menguntungkan bagi kita bila berbelanja online, di antaranya praktis, hemat waktu, semua barang tersedia, dan kita hanya tinggal memilih barang apa yang kita sukai.

Keuntungannya jadi bertambah di masa pandemi ini karena untuk berbelanja kita bisa tetap di rumah saja, tak perlu ke luar, pakai masker, dan jaga jarak segala.

Keuntungan lainnya, banyak diskon dan cashback  yang sering menggoda calon pembeli dalam bisnis online. Ini merupakan strategi perusahaan untuk menarik perhatian konsumen. Selain itu banyak pilihan harga sehingga dapat kita bandingkan antara penawaran yang satu dengan yang lainnya.

Di samping keuntungan, tentu ada juga kerugian berbelanja online, yaitu kita menjadi konsumerisme. Ini merupakan paham atau ideologi yang menjadikan seseorang yang menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan, bahkan secara sadar dan berkelanjutan. Berikutnya, waswas menunggu pengiriman barang yang kita pesan selama beberapa hari, ongkos kirim terkadang mahal, bahkan nyaris sama dengan barang yang kita pesan. Selain itu, kerugian yang paling banyak dialami konsumen adalah ditipu.

Kerugian terakhir yang dialami saat berbelanja online adalah terkena penipuan online. Tergiurnya kita terhadap produk yang ditawarkan sehingga menyedot perhatian dan uang kita sehingga tanpa sadar kita dengan mudahnya mentransfer uang yang diminta sesuai dengan harga barang semu yang ditawarkan.

Pengalaman kena tipu saat belanja online ini ternyata bukan hanya ada dalam berita dari berbagai media sosial, saya pun ikut menjadi salah satu korbannya. Modus penipuannya adalah dengan menawarkan barang-barang rumah tangga yang fotonya ditampilkan di facebook. Hal ini membuat saya tergiur ingin mendapatkan barang yang limited edition  dan berbeda dari orang lain, tapi ternyata barang impian yang saya dambakan itu tak kunjung datang. Bahkan keesokan harinya ada yang menelepon mengatakan bahwa barang yang saya pesan kena pajak atau uang jaminan. Kejadian ini membuat saya berpikir untuk kesekian kalinya dan anehnya setelah merenung berapa banyak dana yang sudah saya keluarkan akhirnya saya pun mentransfer lagi dana yang terbilang mahal untuk ukuran kantong saya. Tapi yang terjadi adalah rencana untuk membahagiakan si buah hati tak sesuai impian, bahkan saya terjatuh ke dalam got tipu daya yang digali oleh para penipu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved