Breaking News:

Salam

Jenazah Pasien Covid-19 Biarlah Jadi Urusan RS

UNTUK kedua kalinya Harian Serambi Indonesia memberitakan kasus keluarga yang membawa pulang secara paksa jenazah

FOTO TIM IPJ RSUZA
Petugas medis bersama warga memakamkan jenazah korban Covid-19 di Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Selasa (14/7/2020). 

UNTUK kedua kalinya Harian Serambi Indonesia memberitakan kasus keluarga yang membawa pulang secara paksa jenazah pasien Covid-19 dari rumah sakit untuk mereka makamkan sendiri.

Bukan saja pemakamannya, proses pemandian, pengafanan hingga menyalatkannya pun semua dilaksanakan secara normal. Ya, pendeknya proses fardu kifayah atau disebut juga dengan istilah pemulasaraan jenazahnya dilaksanakan pihak keluarga dengan dukungan perangkat dan warga desa tanpa mengikuti protokol Covid-19.

Hal seperti ini sudah dua kali terjadi di Aceh di tengah angka kematian akibat corona di provinsi ini baru sembilan kasus dari 148 orang yang positif corona sejak Maret lalu.

Kasus pertama dan kedua sama-sama terjadi di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Pada kasus pertama, 15 Juli 2020, anak-anak dari seorang pasien Covid-19 mengambil paksa jenazah ayahnya, lalu difardukifayahkan secara normal di Mon Singet, Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Alasan mereka membawa pulang paksa jenazah ayahnya adalah karena tak percaya pada adanya Covid-19 dan kalaupun ada mereka tidak takut.

Tiga hari berselang, satu pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 juga dibawa pulang oleh keluarganya. Mereka keberatan fardu kifayah atas mayat dilakukan pihak rumah sakit.

Lebih afdal, menurut mereka, jika mereka sendiri yang melakukannya di kampung. Karena kasus ini berulang dalam waktu yang berdekatan, maka patut dianggap ini kasus yang serius dan jika tidak segera dicegah bakal ada ikutan kasus.

Menyikapi hal ini Pemerintah Aceh bersama Forkopimda maupun di tingkat kabupaten/kota perlu segera menggandeng ulama untuk membuat pernyataan bersama, jika perlu fatwa, bahwa jenazah pasien Covid-19 itu sangatlah infeksius (dapat menyebabkan infeksi bagi orang yang bersentuhan dengannya, baik sengaja maupun tak sengaja). Di dalam Islam maupun dunia medis, mencegah atau preventif jauh lebih baik daripada tindakan kuratif. Oleh karenanya, untuk mengurangi faktor risiko tertular, maka ikhlaskan saja fardu kifayah jenazah dilakukan oleh instalasi pemulasaraan jenazah yang ada di setiap rumah sakit, apalagi rumah sakit sekelas RSUZA.

Kedua, Dinas Kesehatan Aceh bersama manajemen RSUZA dan rumah sakit rujukan pasien Covid-19 lainnya perlu mengampanyekan bahwa pemulasaraan jenazah yang mereka lakukan benar-benar sesuai dengan tata laksana yang dianjurkan agama. Jika yang meninggal itu seorang muslim, maka tajhiz mayatnya pastilah menurut syariat Islam.

Demikian pula bila yang meninggal itu penganut agama Kristen Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, atau Konghucu, maka pengurusan jenazahnya dilakukan sesuai pakem pada agama-agama tersebut. Toh rumah sakit punya sumber daya manusia dan segala fasilitas untuk melaksanakan semua itu demi pencegahan Covid-19 agar tak menular ke lingkup yang lebih luas pascameninggalnya seorang pasien Covid-19.

Ketiga, kita sadar bahwa kelahiran, menikah, dan meninggal merupakan tiga hal yang sangat berhubungan dengan keluarga. Jadi, saat seorang anggota keluarga hendak dikubur, semua ingin mengantar. Di sisi lain, mungkin ada ketakutan pihak keluarga bahwa jenazah akan diapa-apakan dan bisa-bisa kuburannya pun tidak diketahui.

Untuk itu, sekiranya dimungkinkan tentu perlu melibatkan keluarga dekat (anak atau suami/istri, orang tua) dalam prosesi pemakaman dengan memakai alat pelindung diri (APD) sesuai aturan.

Jadi, melibatkan anggota keluarga dekat pada prosesi pemakaman adalah salah satu solusi yang tepat agar tak ada lagi keluarga yang mengambil paksa jenazah keluarga mereka dari rumah sakit. Keempat, diakui atau tidak ada semacam ketidakpercayaan anggota keluarga kepada pihak rumah sakit. Mereka tidak percaya bahwa keluarganya meninggal karena terinfeksi virus corona, meski hasil swabnya positif. Untuk kasus seperti ini kita harus mendorong dan yakinkan MPU agar tetap berpedoman kepada prinsip-prinsip pengetahuan. Keluarga dan umat yang ingin memberikan kesetiaan atau penghormatan terakhir di pemakaman hanya bisa dibendung dengan fatwa. Mari kita sorong Forkopimda untuk serius mengurus persoalan yang krusial ini.

Semoga pengambilan paksa jenazah korban Covid-19 ini tak terulang di bumi syariat, Aceh.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved