Luar Negeri
China Bungkam Muslim Uighur, 435 Intelektual Dipenjara atau Hilang Secara Paksa
Pemerintah China terus berupaya membungkam Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang. Dalam beberapa tahun terakhir, sebanyak 435 intelektual Muslim Uighur
SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Pemerintah China terus berupaya membungkam Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebanyak 435 intelektual Muslim Uighur ditangkap dan dipenjara.
Dilansir AP, Jumat (24/7/2020), , seratusan di antaranya belum diketahui nasibnya, apakah masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Hal itu seperti diungkapkan oleh Bugra Arkin Aierken.
Dia mengatakan ayahnya secara tiba-tiba diciduk dari rumahnya di wilayah Xinjiang oleh agen keamanan nasional.
Sudah hampir dua tahun sejak ayahnya ditangkap, nasibnya belum diketahui.
Ayahnya, pemilik perusahaan penerbitan Arkin Aierken, terbesar di wilayah itu.
Bahkan, telah menerjemahkan ribuan buku ke Uighur sebelum ditahan pada Oktober 2018.
Sejak itu Arkin belum mendengar kabar darinya.
"Ayah saya memiliki dampak kuat pada industri penerbitan Uighur, dan itu membuatnya menjadi target pemerintah China," kata Arkin, yang tinggal di California.
"Ini sangat tidak bisa diterima dan hidup kami benar-benar hancur,” ujarnya.
• Muslim Uighur Kerja Paksa, Produksi APD dan Masker Pesanan Banyak Negara
• AS Gagalkan Aksesoris Kecantikan dari Rambut Manusia, Diduga dari Tahanan Uighur
• Tak Sanggup Bayar Utang, Zambia Memohon Keringanan dan Penghapusan Utang dari China
Dia bukan satu-satunya.
Setidaknya 435 intelektual Uighur telah dipenjara atau dihilangkan secara paksa sejak April 2017, menurut Hak Asasi Manusia Uighur.
Penangkapan ahli bahasa, cendekiawan, dan penerbit Uighur dinilai sebagai upaya menghapus identitas dan budaya Uighur.
Partai Komunis Tiongkok ingin menggabungkan ke dalam populasi dominan Han yang berbahasa Mandarin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kamp-cuci-otak-muslim-uighur-di-xinjiang-china.jpg)