Rabu, 29 April 2026

Luar Negeri

China Bungkam Muslim Uighur, 435 Intelektual Dipenjara atau Hilang Secara Paksa

Pemerintah China terus berupaya membungkam Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang. Dalam beberapa tahun terakhir, sebanyak 435 intelektual Muslim Uighur

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/GREG BAKER
Sebuah bangunan yang diyakini sebagai tempat pendidikan ulang atau cuci otak kaum minoritas Muslim Uighur di Artux, utara Kashgar, Provinsi Xinjiang, China pada 2 Juni 2019. 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Pemerintah China terus berupaya membungkam Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebanyak 435 intelektual Muslim Uighur ditangkap dan dipenjara.

Dilansir AP, Jumat (24/7/2020), , seratusan di antaranya belum diketahui nasibnya, apakah masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Hal itu seperti diungkapkan oleh Bugra Arkin Aierken.

Dia mengatakan ayahnya secara tiba-tiba diciduk dari rumahnya di wilayah Xinjiang oleh agen keamanan nasional.

Sudah hampir dua tahun sejak ayahnya ditangkap, nasibnya belum diketahui.

Ayahnya, pemilik perusahaan penerbitan Arkin Aierken, terbesar di wilayah itu.

Bahkan, telah menerjemahkan ribuan buku ke Uighur sebelum ditahan pada Oktober 2018.

Sejak itu Arkin belum mendengar kabar darinya.

"Ayah saya memiliki dampak kuat pada industri penerbitan Uighur, dan itu membuatnya menjadi target pemerintah China," kata Arkin, yang tinggal di California.

"Ini sangat tidak bisa diterima dan hidup kami benar-benar hancur,” ujarnya.

Muslim Uighur Kerja Paksa, Produksi APD dan Masker Pesanan Banyak Negara

AS Gagalkan Aksesoris Kecantikan dari Rambut Manusia, Diduga dari Tahanan Uighur

Tak Sanggup Bayar Utang, Zambia Memohon Keringanan dan Penghapusan Utang dari China

Dia bukan satu-satunya.

Setidaknya 435 intelektual Uighur telah dipenjara atau dihilangkan secara paksa sejak April 2017, menurut Hak Asasi Manusia Uighur.

Penangkapan ahli bahasa, cendekiawan, dan penerbit Uighur dinilai sebagai upaya menghapus identitas dan budaya Uighur.

Partai Komunis Tiongkok ingin menggabungkan ke dalam populasi dominan Han yang berbahasa Mandarin.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved