Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Ojong Berintegritas, Media Sekarang Tersesat

Sebagai orang yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920, wajar makanan favorit PK Ojong masakan padang

Editor: hasyim
TRIBUNNEWS/LUCIUS GENIK
Sastrawan Indonesia Goenawan Mohamad difoto di Jakarta, Jumat (24/7/2020). TRIBUNNEWS/LUCIUS GENIK 

Waktu saya mau mendirikan Tempo saya tanya, riset Pak Ojong apa? Dia bilang kalau mau bikin Majalah Tempo harus bekerja 7 hari 24 jam, dan betul. Etos kerja itu memang harus ditegakkan kalau mau bikin majalah seperti Tempo, sampai sekarang pun masih. Itu pegangan Pak Ojong.

Pegangan yang kedua adalah dia orang yang tidak memikirkan diri sendiri. Hidupnya sederhana, dulu masih tinggal di Jalan Slamet Riyadi, hampir seluruh hidupnya di situ dan begitu hampir mau meninggal baru pindah ke Permata Hijau. Jadi meskipun dia punya jabatan yang tinggi, beliau tidak pernah memikirkan diri sendiri. Bahkan beliau tidak memikirkan perusahaan.

Apa yang paling membekas dari sosok PK Ojong bagi Anda?

Yang juga tidak bisa dilupakan waktu beliau mengurus Kompasiana. Yang saya ingat dari Kompasiana itu dua hal. Pertama, tulisan mengenai orang Indonesia, dia bilang tidak benar bahwa orang Indonesia malas. Sebagai contoh beliau perlihatkan pedagang air, itu jam tiga subuh sudah bekerja. Yang kedua Pak Ojong memiliki integritas dan sederhana, itu yang saya senang dari Pak Ojong.

Bagaimana Anda memandang perjalanan karier PK Ojong di dunia jurnalistik?

Dulu beliau di Star Weekly, itu majalah Tionghoa-Indonesia, dulu masih campur-campur. Ada berita, berita detektif, soal perempuan, tapi di Star Weekly pernah ada laporan panjang membahas filsafat pemikiran sejarah Arnold Toynbee. Suatu hal yang langka majalah seperti itu membahas sejarah pemikiran dan itulah ciri khas Pak Ojong karena beliau mencintai ide-ide.

Dan memang waktu Star Weekly dibreidel, beliau baru membangun keterampilan perusahaan. Sebelumnya tidak peduli. Pak Ojong itu kalau soal bisnis itu dia tidak mau peduli, hanya nulis. Tapi ketika pabriknya dibreidel, karyawan butuh hidup, maka memikirkan mencari nafkah.

Di situ terlihat bahwa dia berkorban, misalnya juga waktu saya diajak bertemu Mochtar Lubis. Saya tidak kenal Mochtar Lubis, waktu itu dia dipenjara. Pak Ojong datang bawa buku. Pak Ojong mengusahakan orang-orang yang ditahan karena urusan politik tetap mendapat buku, tahanan politik Bung Karno itu mendapat buku. Jadi Mochtar Lubis diupayakan mendapat buku.

Beliau sangat percaya dan sayang pada Arief Budiman, sehingga Arief Budiman bisa menulis dua halaman di Kompas. Tidak ada koran di Indonesia seperti itu, dan ini sangat bagus. Sayangnya ini tidak ada lagi. Dari semua wartawan senior, hal ini sekarang sudah tidak ada lagi.

Nilai yang menginspirasi dari PK Ojong sebagai insan pers?

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved