Breaking News:

Salam

Belajar Secara Daring Mestinya Lebih Efektif

Kebijakan pembelajaran jarak jauh atau secara daring (online) masih memunculkan berbagai persoalan di pihak penyelenggara serta siswa

Serambinews.com
Kantor Camat Labuhanhaji bekerjasama dengan Politeknik Aceh Selatan (Poltas) mengadakan pelatihan belajar daring (Online) di Aula Kantor Camat Labuhanhaji, Minggu (26/07/2020). 

Kebijakan pembelajaran jarak jauh atau secara daring (online) masih memunculkan berbagai persoalan di pihak penyelenggara serta siswa dan wali murid. Di antaranya keterbatasan anak didik untuk memiliki smartphone sebagai alat utama dalam sistem pembelajaran secara jarak jauh.

Wakil Ketua DPR Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Sufmi Dasco Ahmad meminta pemerintah memberi perhatian berupa akses internet gratis dan subsidi pembelian ponsel pintar untuk pemerataan pendidikan. @Saya terenyuh, miris, dan geram. Ada anak bangsa yang punya semangat belajar tapi terbentur kemampuan orang tua. Punya keingina n belajar tapi orang tuanya tidak mampu membeli smartphone dan kuota internet, tandas Dasco.

Menurut Dasco, sejak awal dia sudah mengingatkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahwa tidak semua rakyat Indonesia mampu membeli kuota internetuntuk belajar online. AMaka, kita sarankan, supaya dibuat jaringan internet khusus, setiap murid diberikan ID untuk bisa mengakses aplikasi belajar online. Orang tua tidak harus membeli kuota tapi proses belajar mengajar anak‑anak bisa terlaksana. Apalagi, sekarang belajar online berjam‑jam bukan hanya satu jam, maka akan semakin berat beban orang tua,@ ujarnya.

Wakil rakyat ini mengatakan, kalau diberi uang belum tentu dipakai untuk membeli kuota internet dan kalau langsung diberikan kuota internet, dikhawatirkan kuotanya habis bukan untuk belajar tapi habis untuk keperluan yang lain. AMakanya saya sarankan dari awal, berikan ID, ID itu untuk masuk pada aplikasi khusus belajar online. Internet terkoneksi khusus hanya untuk aplikasi tersebut. Tidak bisa dipergunakan untuk membuka Youtube atau main game online, misalnya,@ tegas Dasco.

Berbicara smartphone atau telepon pintar tidak harus membyangkan haganya belasan atau puluhan juta. Sekarang sudah banyak ponsel pintar yang murah. Maka, khusus untuk orang tua yang tidak mampu, pemerintah bisa menyubsidi dari dana pendidikan. Misalnya, kata Dasco, untuk harga ponsel pintar Rp1 juta, pemerintah memberikan subsidi 50% dan 50%‑nya dicicil orang tua selama 1‑2 tahun melalui program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional).

Mengubah cara belajar dari sitem klasik ke cara yang sangat moderen dengan mengandalkan teknologi, sudap pasti tidak semuanya siap menghadapi itu. Selain kemampuan orangtua dan kesiapan pemerintah, kemampuan guru untuk mengajar dengan cara yang baru juga cukup mengkhawatirkan. Masih guru yang belum menguasai ilmu teknologi, seperti menggunakan komputer atau mengajar secara online.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) berpendapat, kini secara tidak langsung membuka mata kita semua tentang bagaimana sesungguhnya kualitas guru‑guru di Indonesia. Artinya, sebagian besar guru masih gagap dengan pembelajaran daring yang diberlakukan di sejumlah daerah.

ASaya setengah tidak percaya saat seorang guru di Jakarta mengaku bingung harus bikin apa dan menganggap libur itu tidak efektif untuk pembelajaran. Bahkan, beberapa daerah mengarahkan guru dan siswa belajar daring dengan mengirimkan penugasan seperti memberikan PR kepada anak didik,@ kata Ketua IGI, Muhammad Ramli Rahim.

Ramli mengingatkan, mestinya pembelajaran daring bukan hanya guru mengirim tugas untuk dikerjakan siswa di rumah. Melainkan, benar‑benar seperti di kelas namun menggunakan teknologi.

Di Aceh, hingga saat ini pembelajaran jarak jauh masih harus menjadi andalan hingga entah kapan. Sebab, belajar tatap muka belum bisa berlangsung di banyak daerah. Yang sudah berjalan di zona hijau saja, dinilai banyak penyelenggara tidak bisa berjalan cukup efektif. Jadi, jika belajar secara daring tidak berjalan baik, maka ini sangat mengkhawatirkan.

Untuk sekarang ini, mestinya Kemendikbud berkerja sama dengan masing-masing pemerintah daerah membuat program belajar dari rumah dengan teknis yang jelas terkait dengan kondisi ekonomi dan budaya masyarakat. Sebab, dari sisi ekonomi pembelajaran daring sudah jelas tidak bisa dilakukan merata, karena masih banyak siswa yang tak memiliki akses terhadap teknologi, atau tak mampu membayar biaya belajar daring. Sedangkan dari sisi budaya, Kemendikbud mesti memperhatikan budaya siswa yang belum bisa belajar mandiri.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved