Opini
Program "Gampang" yang Tidak Gampang
Pernahkah kita membayangkan sekiranya banyak orang yang mati kelaparan akibat krisis pangan yang melanda dunia secara global
Ini bermakna setiap komoditi yang ditanam, harus jelas pemasaran dan harganya, sehingga tidak membuat petani kecewa saat panen.
Program "Gampang" harus belajar dari kegagalan sebelumnya. Bahwa kegagalan biasanya bukan bagaimana menghasilkan suatu produk, tapi bagaimana produk itu terjamin harganya sekaligus menjamin kesejahteraan petani. Untuk mendukung hal tersebut, maka program penyediaan benih unggul bagi para petani masih layak diteruskan. Untuk komoditi padi misalnya, saat ini Aceh memiliki luas baku sawah 213.966 ha. Jika dalam setahun bisa ditanam dua kali atau seluas 360.000 ha saja, maka kebutuhan benih unggul tidak kurang dari 9.000 ton (rata-rata 25 kg/ ha).
Tentu saja tidak gampang menyediakan benih unggul dan bermutu sebanyak itu. Dinas terkait perlu merancang program perbanyakan benih oleh para petani penangkar. Saat ini Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Partanian sudah melepaskan 42 jenis padi unggul varietas Inpari untuk padi sawah. Sedangkan untuk lahan rawa tersedia varietas Inpara, dan lahan kering varietas Inpago. Balum lagi dari perusahaan swasta dan BUMN yang memproduksi benih baik inbrida maupun hibrida.
Selama Covid-19 hendaknya jangan ada lagi ada lahan terlantar atau lahan tidur. Manfaatkan dengan menanam apa saja yang bernilai ekonomis seperti jagung pisang, jahe, umbi-umbian dan lain-lain. Jaringan irigasi yang banyak rusak segera diperbaiki untuk menjamin ketersediaan air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-ir-basri-a-bakar-msi-peneliti-balai-pengkajian-teknologi-pertanian-bptp-aceh.jpg)