Breaking News:

Opini

Keunikan Penjualan Coffee Car di Ulee Lheue

JULUKAN “Aceh Kota 1.000 Warung Kopi” memang sangat tepat dan nyata adanya. Terbukti cukup mudah kita temukan banyak warung kopi

Keunikan Penjualan Coffee Car di Ulee Lheue
IST
Dr. Murni, M.Pd, warga Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

DR. MURNI, S.Pd,I., M.Pd., warga Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

JULUKAN “Aceh Kota 1.000 Warung Kopi” memang sangat tepat dan nyata adanya. Terbukti cukup mudah kita temukan banyak warung kopi yang tersebar mulai dari ibu kota Aceh hingga ke seluruh kabupaten/kota yang ada di provinsi ini.

Kebiasaan minum kopi masyarakat Aceh, baik muda maupun yang tua sudah mengakar sejak masa Kesultanan Aceh. Hal ini terbukti dari fakta sejarah mengenai komunikasi yang intens antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Ottoman di Turki.

Teuku Umar pahlawan nasional pernah berkata, “Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan syahid.” Itulah kalimat yang diucapkannya sebelum memimpin penyerangan terhadap Belanda. Sayang, sebelum sempat menyerang, suami Cut Nyak Dhien ini sudah lebih dahulu syahid. Kata-kata Teuku Umar ini menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Aceh sudah sejak lama mengenal kopi. Selain karena aroma baunya sedap, cita rasanya nikmat serta kualitas kopinya sudah mendunia. Kopi Aceh memang hebat dan luar biasa.

Para pencinta kopi yang berkunjung ke Aceh benar-benar tidak akan melewatkan kesempatan untuk memuaskan hasrat mencoba sensasi minum kopi baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Wisatawan yang datang ke Aceh sepertinya tidak sah jika belum ngopi kopi khas Aceh.

Pada awalnya warung kopi tradisional di Aceh adalah kopi yang direbus lalu dengan menggunakan saringan saat hendak disajikan. Fasilitasnya saat itu sederhana saja, yaitu tak lebih dari meja dan kursi. Dalam hal ini warung kopi dapat kita bagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama adalah warung kopi tradisional. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tidak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, kipas angin, AC, televisi, LCD dipandu dengan infocus, dan akses internet. Seiring berjalannya waktu, yang paling unik lagi adalah coffee car. Ini adalah bisnis jual kopi dengan menggunakan mobil. Beberapa meja, kursi, dan tisu diletakkan di pinggir jalan di tempat-tempat tertentu dengan dibatasi waktu.

Suatu hari pada Kamis sekitar pukul 17.30 WIB, saya ditemani suami sepakat untuk jalan-jalan sore ke Ulee Lheue. Cuaca amat cerah, tapi tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tiba di jalan raya menuju Pantai Ulee Lheue terlihat banyak aktivitas warga kota berolahraga hingga sampai ke pelabuhan dengan mengendarai sepeda. Ada juga yang berkendaraan roda dua dan mobil pribadi. Setelah melihat ke arah timur seberang jalan, terlihatlah belasan coffee car yang terparkir dan penjualnya sedang melayani para pelanggan yang mampir di situ.

Kami tertarik untuk istirahat dan ingin mencicipi cita rasa kopi yang dijual di coffee car. Maklum, kami berdua belum pernah mencicipi kopi di coffee car. Jadi, apa salahnya untuk mencoba sehingga rasa penasaran pun hilang seketika. Ramainya pelanggan yang duduk di kursi penjual kopi di coffee car hampir tidak ada tempat untuk kami. Beruntung dari jarak 30 meter ada satu coffee car, beberapa remaja baru saja selesai minum kopi dan beranjak pulang. Kami langsung memarkir sepeda motor. Penjual kopi yang berkulit sawo matang berbadan langsing dengan ramah menyapa dan mempersilakan kami duduk di kursi yang telah disediakan.

Lalu saya dan suami duduk. Pemuda yang mengaku bernama Muhammad Hatta (32) menyodorkan selembar daftar menu. Lalu, kami memesan sanger espresso panas. Setelah itu Hatta, nama kecilnya, meracik sanger espresso di bagian belakang mobilnya yang terbuka. Tak lama menunggu sanger espresso disajikan menggunakan sebuah nampan dan diletakkan di atas meja. Tampak asap masih mengepul ke luar dari cangkir, terciumlah aroma harum dari sanger espresso. Tanpa menunggu lama didahului dengan membaca bismillah, kami teguk sanger espresso. Alhamdulillah, kenikmatan yang luar biasa saat sanger espresso  melewati kerongkongan. Hatta tersenyum senang melihat kami. Sambil menunggu pelanggan lain datang Hatta duduk menemani kami. Tanpa membuang waktu, saya tanyakan beberapa hal kepadanya, terutama seputar bisnis coffee car. Hatta mengungkapkan bahwa ia sudah menggeluti bisnis ini lebih kurang enam bulan di Banda Aceh. “Para penjual kopi di coffee car sebagian besar berasal dari Dataran Tinggi Gayo,” ujarnya.

Hatta biasanya tiba di Ulee Lheue untuk menjalankan bisnisnya sebagai penjual kopi di coffee car pukul 16.30  hingga menjelang waktu azan magrib.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved