Breaking News:

Jurnalisme Warga

Gula Aren, Oleh-Oleh Khas Aceh Tenggara

SETELAH mereportasekan tentang nikmatnya kopi aren di Bukit Cinta, kini saya coba mengangkat produk yang tak jauh berbeda

Gula Aren, Oleh-Oleh Khas Aceh Tenggara
IST
MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

OLEH MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

SETELAH mereportasekan tentang nikmatnya kopi aren di Bukit Cinta, kini saya coba mengangkat produk yang tak jauh berbeda, yakni oleh-oleh gula aren khas Agara.

Gula aren merupakan salah satu kuliner tradisional dengan bahan dasarnya air nira. Gula aren atau populer disebut gula merah merupakan bahan pemanis alami yang sangat disukai oleh kaum emak. Hal ini tidak lepas dari eksistensi gula aren itu sendiri yang dapat dioah menjadi makanan pendukung kuliner lainnya, seperti pemanis bubur, haluwe, tenggoli, dan masakan lainnya.

Di Aceh Tenggara (Agara), selain sebagai menu pelengkap, gula aren juga kerap diproduksi sebagai buah tangan atau oleh-oleh. Biasanya, masyarakat Agara yang pergi merantau ke luar daerah, belum lengkap rasanya jika menemui famili atau teman tanpa menyuguhkan gula aren. Berdasarkan tradisi yang ada, setiap orang akan membawa oleh-oleh gula aren sekitar telu tukhus (tiga set) untuk dibagikan ke pihak terkait. Dalam satu set, isi gula aren bisa mencapai lima keping, dengan setiap kepingnya berbobot sekitar setengah kilo.

Sebagai perantau, jika balik ke Banda Aceh saya tak pernah lupa membawa gula aren sebagai buah tangan. Gula aren itu saya kemas sedemikian rupa untuk dibagi rata kepada sanak saudara atau teman dekat. Mereka sangat senang dengan oleh-oleh khas Agara yang selalu saya bawa.

Dalam pengolahannya, gula aren biasanya diproduksi selama tiga hari sekali oleh petani aren. Pertama-tama, petani akan mengambil lawe pole (air nira) di pohonnya saat pagi hari. Setelah siang hari, air nira tersebut diambil untuk kemudian langsung dimasak saat sore hari tiba. Adapun pemasakan dilakukan sedini mungkin yang bertujuan agar kualitas air masih segar. Pengalaman selama ini, jika air nira tak segera diolah (dimasak) maka malamnya ia akan berasa asam (basi). Bila kualitas air sudah basi, maka meskipun dipanaskan dengan suhu tinggi, gula aren nantinya juga akan berubah rasa menjadi asam.  Belum lagi jika kadar air nira sudah tercemar bakteri, bisa-bisa proses pengolahan menjadi gula aren gagal dan menjadi gula tarik.

Pada tahap pemasakan, air aren diletakkan di atas bejana besi (wajan) besar yang muat beberapa liter. Petani yang memasak juga harus cerdas menjaga konsistensi suhu api agar adonan gula aren tidak gosong dan pahit. Begitu juga dalam proses pengadukan, dibutuhkan kesabaran ekstra karena proses masaknya relatif lebih lama. Ketika air nira yang awalnya putih bening berubah merah pekat dan kental, berarti air aren sudah masak dan akan memasuki tahap pencetakan.

Proses pencetakan lazimnya menggunakan alat berbentuk lingkaran. Biasanya, cetakan tersebut berasal dari kepingan pohon bambu yang dipotong melintang. Namun, ada juga yang menggunakan cetakan khusus dari pabrik agar ukurannya lebih konsisten dan teratur. Paling kecil cetakan tersebut berukuran ½ hingga 1 kilogram gula aren per kepingnya. Melalui proses panjang tersebut, jadilah gula aren yang memiliki rasa manis serta renyah yang luar biasa.

Pada tahap distribusi, gula aren biasanya banyak di jual di pekan (pasar), tepatnya di Pajak Inpres Lama ataupun di Pajak Pagi. Harga jualnya lumayan, mulai dari tiga puluh hingga seratus ribuan rupiah, tergantung ukurannya. Produksi gula aren ini banyak ditemui di kute-kute (desa-desa), seperti di Bukit Merdeka, Buah Pala, Simpang Semadam Rikit Bur, Berandang, Jongar, dan Desa Kuning Dua.

Melihat besarnya peluang produksi gula aren, kakak saya(Mutia Rahmah), alumnus Fakultas Pertanian Unsyiah, bersama dua orang temannya melakukan kerja sama pengolahan. Melalui program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian tahun 2016 dan 2017, kakak saya melakukan terobosan baru terkait pengolahan gula aren.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved