Breaking News:

Jurnalisme Warga

Rindu Tercipta dari Pulau Rubiah

PERKULIAHAN semester genap telah berakhir. Sebelumnya, kami sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian final

Rindu Tercipta dari Pulau Rubiah
IST
ALDHA FIRMANSYAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Sabang

OLEH ALDHA FIRMANSYAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Sabang

PERKULIAHAN semester genap telah berakhir. Sebelumnya, kami sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian final. Hari menjelang ujian final pun tiba. Kami berkumpul di lobi kampus untuk berdoa bersama agar Allah memudahkan semua proses ujian yang akan kami jalani.

Hari berganti hari. Ujian yang berlangsung selama satu minggu pun berakhir.  Pada hari terakhir pelaksanaan ujian, kami berkumpul di kampus membahas rencana liburan. Kami berdiskusi untuk memilih tempat yang cocok untuk liburan. Setelah berembuk satu jam, akhirnya kami putuskan tempat liburan kami adalah Pulau Rubiah dan Tugu Nol Kilometer Sabang. Alasannya, kedua tempat tersebut mempunyai panorama laut yang indah.

Seorang teman memberikan ide yang sangat bagus dan cocok untuk kami yang ingin liburan di Pulau Weh, Sabang. Dia mengusulkan untuk camping di salah satu rumah teman yang berada di Iboih, tepatnya di tengah hutan. Saya dan teman-teman menyepakati usulan ini. Kami merasa ide ini sangat pas. Kami pun menetapkan tanggal dan hari untuk berangkat liburan.

Pagi itu, hari sangat cerah, kami berkumpul di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, untuk naik kapal penyeberangan menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Sepanjang perjalanan kami disuguhi hamparan laut biru laut nan indah.

Saat tiba di Sabang, kami berkumpul dan menuju salah satu rumah teman. Peralatan camping dan lainnya semua sudah siap. Jalanan Sabang yang berliku, banyak tanjakannya, karena kami melewati jalan pegunungan.

Selama di perjalanan saya sangat menikmati pemandangan indah berlatar belakang laut dan gunung. Sungguh ini sangat indah, saya langsung berpikir ini adalah nikmat Allah Swt yang harus disyukuri dan dijaga.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya kami pun tiba di lokasi. Beberapa kawan lelaki bergegas membangun tenda dan membakar kayu karena cuaca semakin dingin dan gelap. Kami sangat menikmati alam di sini sambil bernyanyi. Sebagian yang lain  membakar ikan untuk santapan malam. Besok paginya kami bersiap untuk menyeberang ke Pulau Rubiah.

Untuk sampai ke Pulau Rubiah kami naik perahu. Karena ramai (sekitar 20 orang), kami harus naik perahu tiga trip.

Sampailah kami di Pulau Rubiah. Kondisinya sangat bersih dan ramai. Bukan suatu hal yang aneh bagi kami jika Pulau Rubiah ini sangat ramai. Karena ini adalah tempat wisata yang sangat terkenal hingga ke mancanegara. Banyak sekali turis dan pengunjung luar Aceh yang berwisata ke tempat ini untuk berenang dan sorenya menikmati sunset.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved