Keanekaragaman Hayati
Manfaat Pisang di Gayo, untuk “Cecah” sampai “Pengobatan” Mistik
Hamid Hakim, Muawiyah Sabdin, Alamsyah M. Gayo , Basiq Djalil, Usuluddin Malik. Moderator diskusi Yusradi Usman Al gayoni.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Nur Nihayati
Ia mengaku dirinya acap memanfaatkan “awal pisang nur” muda untuk maag yang ia derita. “Langsung makan, dengan getah-getahnya,” ujar Ahyar yang juga Ketua Ikatan Musara Gayo (IMG) Jakarta.
Kemudian ada lagi “awal pisang abu” bisa digunakan untuk pisang goreng dan daunnya bagus untuk pembungkus.
“Awal pisang keken,” bagian intinya batang bisa dijadikan makanan pengganti nasi.
Tapi buahnya tidak dimakan, sebab mengandung banyak biji.
Tapi daunnya lentur seperti tisu dan bermanfaat sebagai pembungkus nasi dan kebutuhan pembungkus lainnya.
Hamid Hakim menyebut masih ada pisang berwarna ungu, tapi ia mengaku lupa namanya.
“Warnanya agak ungu, isinya putih,” ujarnya.
Udin Musara menginformasikan adanya “awal pisang kapal” yang batangnya tidak tinggi. “tapi umurnya juga pendek,” cerita Udin Musara yang juga dikenal ceh atau penyair seni didong.
Selanjutnya ada lagi “awal pisang emas” yang warnanya kuning seperti emas.
Pisang ini terbilang istimewa juga dan sering digunakan untuk pengobatan. “Kita juga mengenal ‘awal pisang waq’ banyak ditanam di kampung Waq.
Masyarakat pesisir sering menggunakan pisang ini untuk dibawa melaut, konon sangat bagus untuk menangkal mabuk laut,” cerita udin Musara.
Ketua Tim Peneliti, Dr. Ir. Arzyana Sunkar, MSc., yang juga dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, menjelaskan, eksploitasi spesies flora dan fauna memberikan dampak terhadap kelangkaan dan kepunahan spesies.
Begitu juga penyeragaman varietas tanaman/hewan budidaya juga menyebabkan erosi genetik.
"Karenanya, kami bersama IMG, mengadakan FGD ini untuk mengidentifikasi pengetahuan tradisional dan Bahasa Gayo dalam pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan Kawasan Ekosistem Leuser," ujarnya.
Ketua IMG, Ahyar Gayo menyambut kerjasama dengan IPB tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya, terutama Bahasa Gayo dan pengetahuan tentang tumbuhan yang terkait dengan kehidupan orang Gayo.
“Tentu sudah banyak yang berubah, mengingat perkembangan zaman.
Boleh jadi, banyak tanaman yang sudah hilang, karena sudah tidak dipergunakan lagi, maka dengan sendirinya, hilang pula Bahasa,” katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/para-narasumber-dalam-penelitian-keanekaragaman-hayati.jpg)