Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Usulan Kualitatif Rencana Pengambilalihan Blok-B  

Wilayah kerja pengusahaan Migas Block North Sumatera B (Blok NSB-B) yang dikenal dengan Blok B telah beroperasi hampir 50 tahun

Tayang:
Editor: bakri
IST
Durain Parmanoan Siregar, Ketua IA ITB Pengda Aceh 

Oleh Durain Parmanoan Siregar, Ketua IA ITB Pengda Aceh

Wilayah kerja pengusahaan Migas Block North Sumatera B (Blok NSB-B) yang dikenal dengan Blok B telah beroperasi hampir 50 tahun. Produksi puncak diraih pada periode 1990 sampai 1998, sebesar 2 hingga 3 BSCFD (miliar kaki kubik perhari). Hampir semua gas bumi produksi lapangan-lapangan yang berada dalam Blok-B diolah PT Arun NGL menjadi Liquid Natural Gas (LNG). LNG tersebut diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Sisanya, digunakan untuk menggerakkan roda industri di kawasan Arun, Lhokseumawe seperti pabrik pupuk, petrokimia, dan pabrik kertas.

Selama hampir lima dekade gas yang diproduksi dari Blok-B telah mengisi pundi-pundi cadangan devisa negara untuk membiayai pembangunan. Lapangan-lapangan migas di wilayah Bok-B yang selama ini berproduksi, sudah masuk kategori ladang tua dengan total produksi saat ini sekitar 50 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sejak 2015 hingga saat ini, wilayah kerja pengusahaan migas Blok B dikelola PT Pertamina Hulu Energi North Sumatera-B (PHE NSB).

Berdasarkan tata waktu, kontrak pengelolaan Blok-B di tangan PHE NSB akan berakhir pada 17 November 2020. Pemerintah Aceh, sesuai regulasi telah mengajukan permintaan agar pascaterminasi pada 17 November 2020, operasi pengusahaan migas di Blok-B diserahkan kepada badan usaha milik Pemerintah Aceh, yaitu PT PEMA. Dalam rangka mendukung nawaitu Pemerintah Aceh tersebut, Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) chapter Aceh (IA ITB Aceh) ingin memberikan saran dan masukan, meliputi pengembangan sumber daya manusia (SDM), eksplorasi dan pengembangan lapangan, serta tinjauan umum aspek keekonomiannya.

Sumber daya manusia

Dari hasil kajian IA ITB Aceh, pengelolaan Blok-B melalui PT PEMA memiliki langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM Aceh dalam dunia migas. Pengembangan SDM dimaksud adalah dengan menjadikan lapangan-lapangan migas di Blok- B sebagai "Laboratorium Lapangan" bagi dunia pendidikan tinggi di Aceh yang memiliki program studi ilmu kebumian, teknik kimia, teknik fisika, teknik lingkungan, teknik mesin, teknik elektro, teknik instrumen, teknik industri, manajemen, hukum, ekonomi dan keuangan, komunikasi, hubungan internasional, ilmu sosial, dan lain-lain.

Di samping itu, hubungan harmonis simbiosis mutualisme antara PT PEMA dengan perguruan tinggi yang ada di Aceh, pada ujungnya akan menghasilkan SDM Aceh yang profesional mampu bersaing di kancah  medan mana pun, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Sebagai center of exellence, perguruan tinggi di Aceh merupakan think tank PT PEMA dalam melakukan riset-riset teknis dan tematis, pemetaan sosial, dan mengembangkan kompetensi pekerjanya.

Mengingat status Blok-B sudah masuk dalam kriteria ladang tua, tentu banyak fasilitas sumur dan peralatan penunjang produksi yang telah mengalami depresiasi. Untuk mengoptimalkan kinerja peralatan tersebut, peran perguruan tinggi dapat diandalkan sehingga biaya yang timbul untuk meningkatkan kapasitas dan optimalisasi utilitas peralatan, akan lebih kompetitif dibanding dikerjakan oleh pihak nonkampus.

Lebih lanjut, melalui kerja sama dengan dunia pendidikan tinggi Aceh, PT PEMA juga dapat memfasilitasi kegiatan-kegiatan pelatihan khusus tersertifikasi dengan mengambil contoh studi kasus yang langsung dari lapangan migas di Blok-B. Program pelatihan tersertifikasi ini dilaksanakan terbuka untuk umum, dalam batas-batas tetap menjaga kerahasiaan perusahaan. Tentunya, dalam realisasi pelaksanaannya diprioritaskan untuk warga masyarakat Aceh.

Hal ini penting digarisbawahi, mengingat pelatihan tersertifikasi khususnya untuk dunia migas yang sudah ada, sulit diakses masyarakat Aceh karena faktor lokasi, biaya, dan kendala lainnya. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan profesionalisme dan kompetensi SDM Aceh dalam dunia migas dapat terdongkrak signifikan, baik kualitas maupun kuantitas.  Hal tersebut, pada akhirnya akan berperan dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Aceh dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Eksplorasi dan pengembangan

Berdasarkan data yang ada, dalam wilayah Blok-B masih menyisakan beberapa potensi yang berstatus undeveloped fields, seperti Cunda dan Rayeuk. Dari sumur-sumur pengeboran di Lapangan Arun, seperti lokasi A-55 juga ditemukan adanya potensi minyak pada formasi yang lebih muda dan dangkal, yaitu pada Formasi Seurula Bagian Bawah. Selain itu ada juga struktur tutupan berstatus leads dan prospects seperti; SLS-XM, Jeuku-XA, Rayeuk-C-2, dan SLS-X1 (penerusan dari lapangan Bata).

Lewat kajian dan evaluasi data yang tersedia, IA ITB Aceh mengusulkan beberapa langkah berikut untuk peningkatan produksi dan penambahan cadangan di Blok-B: (1) Melakukan workover (kerja ulang) pada sumur-sumur existing di lapangan-lapangan Arun, SLS-A, dan D yang masih memiliki sisa cadangan (remaining reserve); (2) reservoir studi secara detail dan terintegrasi, untuk melihat kembali kemampuan produksi lapangan existing; (3) kajian artificial lift untuk improve oil and gas recovery di lapangan existing;

(4) melakukan pengeboran sumur apraisal pada lapangan-lapangan yang belum dikembangkan; (5) melakukan reprocessing data seismik-2D dengan parameter baru yang diikat dengan data sumur, untuk mengkonfirmasi stratigrafi dan geometri masing-masing struktur; (6) secara selektif melakukan survei data seismik-3D pada lapangan yang berstatus undeveloped, leads, dan prospects; dan (7) study comprehensive mengenai zona overpressure sangat perlu dilakukan, terutama di Formasi Baong shale sebab sangat berpengaruh pada biaya pengeboran.

Fasilitas Blok-B

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved