Breaking News:

Salam

Harus Ada Kebijakan yang Jelas Terhadap Rohingya  

Nasib muslim Rohingya memang sangat menyedihkan. Terusir dari Myanmar, mereka kemudian terindikasi menjadi korban penyelundupan

SERAMBINEWS.COM
Wanita etnis Rohingnya tidur terlelap usai terdampar di pantai Ujong Blang, Lhokseumawe. Kini Mereka telah direlokasi ke BLK, Kandang, Lhokseumawe, Senin (7/9/2020). 

Nasib muslim Rohingya memang sangat menyedihkan. Terusir dari Myanmar, mereka kemudian terindikasi menjadi korban penyelundupan manusia oleh sindikat yang belum terungkap. Kita memang sudah curiga sejak awal, ketika berkali‑kali warga Rohingya itu terdampar di perairan‑perairan dekat pantai Aceh dengan tanpa alasan yang jelas. Ada kesan mereka memang ingin didaratkan di Aceh.

Dalam kasus yang terakhir, ketika baru saja mendarat di perairan Lhokseumawe, ada di antara pengungsi itu yang berusaha melarikan diri. Padahal, jika memang mereka terdampar, mengapa harus melarikan diri. Dan, mau lari ke mana?

Makanya, kita menduga jangan‑jangan memang ada di antara mereka yang sudah pernah mendarat di Aceh dan sudah tahu jalan serta mungkin juga sudah ada jaringan yang menjemput mereka. Apalagi, kita mencatat begitu banyak warga Rohingya yang menghilang dari penampungan di Aceh dalam beberapa tahun terakhir. 

Chris Lewa, Koordinator Arakan Project, lembaga non‑pemerintah yang berbasis di Thailand, dua hari lalu mengungkapkan,  para imigran yang terdampar di Lhokseumawe baru‑baru ini  merupakan bagian dari sebuah kapal besar yang awalnya mengangkut sekitar 800 etnis Rohingya dari Bangladesh pada akhir Maret lalu. "Mereka mencoba mencapai Malaysia pada bulan April, namun mereka tidak bisa turun dari kapal karena pembatasan akibat Covid‑19, sehingga Malaysia mulai mendorong mereka kembali ke perairan internasional," ujar Chris kepada BBC.

Hal yang sama juga dialami para imigran Rohingya yang terdampar di Aceh Utara pada Juni lalu.  Menurut Chris, rombongan gelombang pertama yang tiba di Aceh tahun ini, sebelumnya ditolak Malaysia dan Thailand. "Mereka sebenarnya berasal dari kapal yang sama dengan kelompok yang baru mendarat di Aceh itu," jelas Chris.

Perwakilan UNHCR di Indonesia, Ann Mayman mengatakan, sekitar 119 warga etnis Rohingya yang mendarat di Lhokseumawe itu sudah terdaftar sebagai pengungsi dengan UNHCR Bangladesh. Mereka bagian dari grup besar berjumlah 2000 yang meninggalkan Bangladesh pada akhir Januari.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan Pemerintah Indonesia akan menggolongkan 297 orang Rohingya sebagai migran ilegal sesuai ketentuan imigrasi. "Mereka mengakui bahwa sebagian dari mereka sudah terdaftar sebagai pengungsi dari UNHCR di Bangladesh. Namun masalah ini akan diverifikasi karena dari status mereka masuk ke Indonesia secara ilegal, maka diberlakukan ketentuan imigrasi Indonesia sekarang," ujar Faizasyah.

"Kita bukan negara yang (meratifikasi) pada Konvensi Pengungsi (1951). Sekarang statusnya mereka adalah illegal migrant karena masuk ke Indonesia tanpa dokumen keimigrasian, lalu akan diverifikasi klaim mereka, apakah mereka punya status pengungsi dari UNHCR Bangladesh, itu kewenangan UNHCR. Namun dari sisi pemerintah Indonesia, yang paling pokok adalah memberikan bantuan logistik dan memastikan kondisi mereka baik dan sehat," jelasnya.

Pertanyaan besar kita sejak beberapa hari ini adalah mengapa mereka bisa terombang‑ambing hingga tujuh bulan di lautan? Menurut Chris Lewa, hal itu karena para imigran dijadikan tawanan oleh kelompok penyelundup manusia. "Penyelundup manusia ini ingin dibayar, jadi mereka menawan para penumpang, itulah kenapa kelompok ini menghabiskan waktu lama di lautan sebelum mereka mendarat," jelas Chris.

Beberapa kerabat para pengungsi yang dihubungi Christ mengaku mereka sudah membayar biaya perjalanan pada Mei lalu. Proses pelunasan baiaya itu sangat lama hingga pihak pengangkut harus menunggu sampai semua penumpang melunasi ongkos barulah didaratkan. "Jadi, penyelundup itu  mereka menawan mereka di tengah lautan," tambahnya.

Ia juga meyakini akan ada kapal‑kapal yang mengangkut komunitas Rohingya dalam beberapa bulan ke depan. Selain Christ, Perwakilan UNHCR di Indonesia juga mengatakan para pengungsi Rohingya akan terus berusaha keluar dari kamp pengungsi di Bangladesh selama anggota keluarga mereka masih tersebar di negara‑negara lain.

Oleh sebab itu, dengan latar belakang semacam itu, maka pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh, dan pemerintah kabupaten/kota di Aceh harus mengambil kebijakan yang jelas dalam mengantisipasi "terdamparnya" para pengungsi Rohingya dalam waktu‑waktu yang akan datang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved