Breaking News:

Salam

Jangan Abaikan, Corona Sudah Merajalela di Aceh  

Aksi Gebrak Masker yang dilancarkan Pemerintah Aceh bersama pihak-pihak terkait sejak awal pekan lalu belum memberi indikasi pengurangan kasus

FOR SERAMBINEWS.COM
Jumlah warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Aceh terus meningkat tajam. Hari ini, Senin (17/8/2020), tambahan kasus mencapai 168. Ini rekor yang belum pernah terjadi di Aceh sejak Maret lalu 

Aksi Gebrak Masker yang dilancarkan Pemerintah Aceh bersama pihak-pihak terkait sejak awal pekan lalu belum memberi indikasi pengurangan kasus Corona di daerah ini. Bahkan, kasus positif Covid‑19 di Aceh meningkat tajam. Pada hari Minggu (13/9/2020) tercatat 212 kasus positif baru, sehingga total warga yang terpapar virus Corona di Aceh sejak Maret lalu mencapai 2.738 orang. Yang lebih memprihatinkan, sepanjang hari tanggal 13 September itu, dari 1.945 orang pasien Corona yang dirawat, tidak ada satu orang pun yang sembuh. Sedangkan yang meninggal dunia sudah tercatat 93 orang.

Secara lokal, tambahan 212 kasus Covid di Aceh hari ini tersebar di 18 dari 23 kabupaten/kota. Belum pernah selama ini jumlah kabupaten/kota yang ada kasus Covid‑nya seluas itu persebarannya. Kota yang paling tinggi tambahan kasus positif Covid‑nya pada akhir pekan lalu adalah Banda Aceh, mencapai 66 kasus. Di luar dugaan, Aceh Jaya yang biasanya tambahan kasus Covid‑nya landai‑landai saja, tadi melonjak jadi 40 kasus dalam satu hari. Lalu, Aceh Besar dengan tambahan 22 kasus, Aceh Tenggara 18, Pidie 15, Aceh Selatan 13, Pidie Jaya 9, Bireuen 7, dan Lhokseumawe 6 kasus. Kemudian, Nagan Raya 3 kasus, Aceh Barat dan Aceh Barat Daya 2, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Kota Sabang dan Kota Subulussalam masing‑masing 1 kasus.

Perkembangan kasus Corona di Aceh harus kitakan lebih disebabkan oleh sikap masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan. Banyaknya orang yang tak memakai masker, tidak menjaga jarak bahkan suka berkerumun, malas mencuci tangan, adalah pemicu utama merajalelanya wabah Corona di Aceh.

Mestinya, sambil menunggu adanya vaksin yang bisa membunuh virus itu, kita semua patuh pada protokol kesehatan. Sebab, hingga kini dunia mengakui satu-satunya cara efektif mencegah penularan Covid-19 adalah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Aksi Gebrak Masker sebetulnya salah satu usaha menyosialisasikan penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat. Namun, yang kita sayangkan, jangankan di desa, di kota-kota saja masih sangat banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Kita mendorong pemerintah di Aceh untuk bisa menemukan cara yang tepat guna memaksa siapapun supaya patuh pada protokol kesehatan.

Kemudian, kita juga ingin mengatakan bahwa saat ini banyak kantor di Aceh yang menjadi cluster-cluster penularan Corona. Banyak pejabat penting yang sudah terinfeksi dan beberapa di antaranya juga ada yang meninggal dunia. Dalam situasi seperti ini, mestinya kerja dari rumah atau work from home bagi unit-unit yang memungkinkan bisa kembali diterapkan sebagai salah satu cara mengurangi penularan Corona di kantoran.

Kita berharap pemerintah terus berusaha dan menemukan pola yang tepat untuk meminimalisir penularan virus Corona di Aceh. Sebab, seperti diingatkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Safrizal Rahman, bahwa di daerah ini ada satu juta penduduk yang rawan terserang Covid‑19.Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh mencatat bahwa satu juta penduduk Aceh masuk kelompok rawan jika terpapar virus corona (Covid‑19).  Mereka adalah kelompok comorbid atau memiliki penyakit penyerta lainnya. "Seperti DM, hipertensi, penyakit jantung,  gagal ginjal, penyakit paru, dan obesitas," kata Safrizal Rahman.

Oleh karena itu, dianjurkan Pemerintah Aceh melakukan upaya terstruktur secara simultan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat guna menangkal penyebaran virus Corona. "Termasuk melibatkan para tokoh, ulama, akademisi, cerdik pandai, dan lain-lain dalam melawan Covid‑19 dengan strategi yang jelas," ujarnya.

Selain itu, kita ingin mengingatkan lagi masyarakat bahwa hingga hari ini belum ada obat atau vaksin khusus yang bisa membunuh virus Corona. Jika selama ini banyak pasien Covid-19 dirawat di rumah sakit manapun, mereka hanya diperkuat kekebalannya terhadap penyakit. Testimoni banyak pasien yang survive menyatakan selama di rumah sakit mereka hanya diberi vitamin, lalu berjemur pagi hari secara teratur, tidur juga teratur, olahraga, dan makan makanan yang memperkuat kekebalan imun juga secara teratur.

Oleh sebab itu, selain mematuhi protokol kesehatan, maka jalankan juga kebiasaan itu agar kita semua tercegah dari serangan Corona!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved