Breaking News:

Perdagangan Satwa

Kasus Perdagangan Satwa Dilindungi di Bireuen, Saksi Ahli: Siamang Satwa Endemik Sumatera

Siamang yang merupakan jenis kera tidak berekor ini biasanya diperjualbelikan hanya sebatas untuk dijadikan hewan peliharaan.

Foto Kiriman Tompi
Saksi ahli dari BKSDA Aceh, drh Taing Lubis menjelaskan kategori satwa dilindungi, dalam sidang kasus perdagangan satwa di Pengadilan Negeri Bireuen, Selasa (15/9/2020). 

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, drh Taing Lubis menjelaskan, Siamang (symphalangus syndactylus) masuk dalam kategori satwa dilindungi karena merupakan hewan khas (endemik) di suatu wilayah.

“Ada tiga kategori satwa dilindungi. Pertama karena merupakan hewan endemik, populasinya terbatas, dan hewan terancam punah. Untuk Siamang, ia dilindungi karena termasuk satwa endemik Pulau Sumatera,” jelas drh Taing Lubis, yang hadir sebagai saksi ahli dalam sidang kasus perdagangan satwa dilindungi jenis Siamang (symphalangus syndactylus) di Pengadilan Negeri Bireuen, Selasa (15/9/2020).

Ia menambahkan, pada umumnya, siamang yang merupakan jenis kera tidak berekor ini diperjualbelikan hanya sebatas untuk dijadikan hewan peliharaan.

“Karena sepengetahuan saya, belum ada kasus jual beli bagian tubuh siamang untuk dijadikan obat atau penggunaan lainnya.  Jadi sejauh ini, jual beli siamang itu hanya untuk dijadikan binatang peliharaan,” ungkapnya.

Sidang ini dipimpin oleh Hakim Ketua Zufida Hanum SH MH, dan dua hakim pendamping yakni M Muchsin Alfahresi Nur SH serta Rahmi Warni SH, dengan jaksa penuntut umum dari Kejari Bireuen, R Bayu Ferdian SH MH.

Kasus perdagangan satwa ini bermula pada 19 Juni 2020, saat tim Satreskrim Polres Bireuen yang dipimpin KBO Ipda Nasruddin SSos menggelar patroli di seputaran Kecamatan Gandapura.

Saat itu petugas menghentikan sebuah mobil pikap jenis Panther warna hitam, dan ketika diperiksa, ditemukan sangkar dari rotan yang berisikan siamang hitam.

Polisi pun kemudian menangkap empat remaja --dua di antaranya masih di bawah umur-- yang diduga menjadi pelaku penjual satwa dilindungi tersebut. Keempat pelaku itu berinisial MY (17), FM (19), RH (19), dan SI (16). Mereka semua warga Sawang, Aceh Utara.

Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Bireuen, R Bayu Ferdian SH MH berharap kasus ini bisa diselesaikan secara adil. Apalagi, dua di antara empat pelaku masih di bawah umur.

Namun ia meminta pihak kepolisian mengejar pelaku utama yang saat ini buron, termasuk calon pembeli dan para agen yang biasa menampung satwa-satwa dilindungi yang ditangkap secara ilegal untuk kemudian diperdagangkan.(*)

Kasus Positif Covid di Langsa Meningkat Tajam, Hari Ini Naik 100 Persen, Ini Total Warga Terpapar

Kecelakaan Beruntun di Aceh Tamiang Disebabkan Rem Truk CPO Blong

Dapat Petunjuk dalam Mimpi, Pria Ini Gali Sumur Dekat Rumah, Ternyata Isinya Harta Karun

Dicekokin Film Dewasa Sama Nikita Mirzani, Begini Kekeyi: Kok Buka-buka?

Polda Aceh Gelar Operasi di Hutan Beutong, Ringkus 3 Penambang Emas Ilegal & Sita 3 Unit Beko

Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved