Jumat, 15 Mei 2026

Kupi Beungoh

Memahami Kembali Seni Ukir dan Pahat Aceh, di Batu, Kayu, Meriam, Hingga Lukisan di Kertas

Kakek saya, Utoh Dadeh (semoga Allah melapangkan kuburnya), seorang ahli seni ukir Aceh di sekitar Mukim Paloh, Lhokseumawe pada awal abad 20 Masehi.

Tayang:
Editor: Zaenal
Facebook/Thayeb Loh Angen
Kolase foto Thayeb Loh Angen dan seni lukis pada batu nisan peninggalan kerajaan Aceh. 

Oleh: Thayeb Loh Angen*)

SUDAH lama saya penasaran pada seni mengukir dan memahat di batu Aceh (batu nisan berukir zaman kesultanan), dan rumah Aceh atau bangunan lainnya sisa masa lampau seperti masjid, meriam, dan benda lainnya.

Namun, baru sekarang saya memusatkan perhatian dan meneliti lebih mendalam mahakarya tersebut.

Sejak awal, saya bertanya-tanya, bagaimana caranya para seniman masa silam itu mengukir dan memahat bunga dan tulisan di batu dan kayu.

Mengapa mereka memilih mengukir dan memahat di batu atau kayu?

Siapa yang mengukir dan memahatnya, dan di kota mana saja itu dihasilkan?

Sebagai cucu daripada seorang arsitek Aceh, penasaranku merupakan sebuah kewajaran.

Kakek saya, Utoh Dadeh (semoga Allah melapangkan kuburnya), seorang ahli seni ukir Aceh di sekitar Mukim Paloh, Lhokseumawe pada awal abad 20 Masehi,

Walaupun saya sendiri tidak begitu menyukai dunia seni ukir mengukir ataupun pahat memahat.

Saya lebih menyukai dunia seni tulis menulis atau musik bermusik.

Itu pun wajar, karena Utoh Dadeh yang ayahnya berasal dari Awe Geutah, selain ahli membuat rumah Aceh, beliau juga ahli membuat rapai.

Beliau memiliki sebuah rapai ulee hasil buatannya sendiri, yang diwariskan kepada ayahku, Tgk H Sulaiman bin Dadeh (semoga Allah melapangkan kuburnya), tetapi kemudian kami dilarang memainkannya karena disebut haram.

Upaya Pelestarian Situs Nisan Kuno Terancam, Dewan Banda Aceh: Harus Segera Diselamatkan

Teliti Batu Nisan Kerajaan Samudera Pase, MAA Aceh Utara Terbitkan Buku Pedoman Ornamen

Seni mengukir dan memahat Aceh di batu, kayu, dan logam serta seni melukis gambar di kertas merupakan karya seniman pada zaman keemasan peradaban Aceh.

Mahakarya tersebut sekarang dapat kita lihat pada artefak seperti batu Aceh, bangunan rumoh Aceh, meriam dan logam lainnya, juga ada pada lukisan hiasan di kitab tulisan tangan atau manuskrip zaman lampau.

Diperkirakan, para seniman tersebut merupakan lulusan dayah-dayah yang memusatkan belajar pada seni mengukir dan memahat batu dan kayu, setelah mereka usai menguasai ilmu bahasa Arab, fiqih, tauhid, dan tasauf tingkat menengah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved