Breaking News:

Awas, Mafia Narkoba di Tengah Pandemi  

Polisi menembak mati seorang anggota jaringan mafia penylundup sabu serta menangkap tiga lainnya bersama penyoitaan 60 kg sabu

SERAMBINEWS.COM/ SUBUR DANI
Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada bersama Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Raden Purwadi, dan Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh, Safuadi dalam konferensi pers pengungkapan kasus narkoba di Mapolda Aceh, Rabu (7/10/2020). 

Polisi menembak mati seorang anggota jaringan mafia penylundup sabu serta menangkap tiga lainnya bersama penyoitaan 60 kg sabu yang dipasok mrlalui laut. "Sabu 60 kilogram yang kita dapat ini setelah proses yang cukup lama," kata Kapolda Aceh Irjen Wahyu Widada kepada pers di Banda Aceh.

Pengungkapan ini berawal dari informasi yang diperoleh polisi terkait penyelundupan sabu dalam jumlah besar. Lalu, polisi mulai mengintai dari laut. Petugas  kemudian membuntuti satu unit mobil dari kawasan Pantai Kreung Matee, Aceh Utara, yang ternyata bergerak ke rumah MM (38). Pada Rabu (30/9) sekitar pukul 22.00 WIB polisi menyergap. Tapi, kata polisi, MM berusaha kabur dan melawan sehingga ditembak hingga mengalami luka tembak di pinggul. Di lokasi ini polisi menyita barang bukti sabu sebanyak 60 kilogram.

Setelah dikembangkan, polisi membekuk tersangka lain di Aceh Timur pada Sabtu (3/10). Dalam penyergapan, dua orang terduga tersangka SM dan JU ditangkap. Sedangkan SS, yang berperan sebagai pengatur tewas tertembus peluru aparat kerena yang bersangkutan berusaha melawan dan mencoba melarikan diri. Polisi masih memburu MA (48) yang berhasik kabur saat penyergapan.  "SS dilakukan tindakan tegas karena melawan," kata Kapolda Aceh.

Yang harus menjadi catatan, sebelumnya  Irjen Pol Wahyu Widada sudah secara tegas menyatakan bersikap keras terhadap kasus‑kasus dan pelaku narkoba. Kapolda sudah meminta penyidik di jajarannya untuk mengenakan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) bagi setiap bandar dan para pelaku pengederan barang haram tersebut.

Irjen Wahyu secara tegas pula memerintahkan pemiskinan para bandar yang tertangkap. Jenderal polisi bintang dua ini melihat hanya dengan cara itu para bandar dan pelaku akan jera dan tak akan mengulangi perbuatannya. Maka, agar rencana ini berjalan, Kapolda sudah meminta dukungan dari Kajati Aceh dan juga Ketua Pengadilan Tinggi di Aceh supaya menjatuhkan pasal TPPU kepada mereka yang dituntut.

Di mata Kapolda, hal ini harus dilakukan karena pelaku pengedar dan bandar narkoba membahayakan generasi muda Aceh. "Mereka nggak peduli generasi muda kita yang penting mereka dapat duit. Tidak peduli pada keselamatan generasi emas Aceh. Tidak peduli pada masa depan Aceh. Kenapa kita harus kasihan kepada mereka? Mereka saja tidak kasihan kepada kita. Satu‑satunya cara laksanakan TPPU, Pak Dir Resnarkoba, mainkan," perintah Kapolda.

Ya, fakta‑fakta betapa parahnya mafia narkoba di Aceh yang sudah bertaraf internasional terlihat jelas belakangan ini. Mereka melibatkan ibu rumah tangga, bahkan nenek‑nenek dan kakek‑kakek, mahasiswa dan mahasiswi, bahkan pelajar. Ada yang dijadikan pengedar, kurir, dan tentu saja konsumen mereka.

Kanyataan inilah yang membuat Kapolda Aceh Wahyu Widada geram. Dan, kita tentu tak boleh membiarkan hanya Pak Kapolda dan jajarannya yang geram, tapi kita semua harus ikut geram. Ikut berpartisipasi membantu polisi dan Badan Narkotikan Nasional (BNN) untuk memberantas narkoba, terutama sabu‑sabu, ganja, dan ekstasi di Aceh.

Masyarajat harus berkontribusi memberantas narkoba di daerah ini. Apalagi, di tengah pandemi  Covid‑19 gurita jaringan narkoba internasional seperti kian merajalela. Banyaknya jumlah narkoba yang ditemukan, menunjukkan bukti bahwa mafia narkoba internasional semakin menggurita. Momen pandemi Covid‑19 jadi kesempatan emas bagi mereka melebarkan bisnis terlarang tersebut.

Data di BNN dan kepolisian, kasus penyalahgunaan narkoba selama pandemi Covid‑19 di semua daerah, meningkat 20‑30 persen. Manurut kalangan BNN dan kepolisian, penyebabnya, banyak warga stres selama PSBB, stres kehilangan pekerjaan, atau bisnis hancur sehingga mencari pelarian mengonsumsi narkoba. Tingginya demand (permintaan) narkotika dan obat terlarang selama pandemi Covid‑19 membuat pemasok narkoba meningkatkan suplay. Mafia internasional yang kerap berkumpul di negara 'Segitiga Emas' Myanmar, Laos, dan Thailand, tidak tinggal diam. Begitu pula kaki tangan mereka di Indonesia, juga terus mencari celah mengimpor barang laknat. Oleh sebab itulah, semua pihak harus ikut membantu pemberantasan narkoba, dan orang tua harus berhati‑hati terhadap anak‑anak agar tidak terseret dalam jaringan pengedar atau pemakai.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved