Rabu, 22 April 2026

Jurnalisme Warga

Membangun Generasi Cinta Ilmu

Saya awali tulisan ini dengan seuntai kalimat penuh hikmah dari Imam Syafii. Sebuah pesan yang melecutkan semangat dan motivasi bagi para penuntut

Editor: bakri
IST
NELLIANI, M.Pd., Guru SMA 3 Seulimeuem, Aceh Besar, melaporkan dari Darussalam, Aceh Besar 

OLEH NELLIANI, M.Pd., Guru SMA 3 Seulimeuem, Aceh Besar, melaporkan dari Darussalam,  Aceh Besar

“Barang siapa tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menanggung perihnya kebodohan.”

Saya awali tulisan ini dengan seuntai kalimat penuh hikmah dari Imam Syafii. Sebuah pesan yang melecutkan semangat dan motivasi bagi para penuntut ilmu. Sebuah nasihat dari seorang ulama besar yang telah diakui keluasan dan ketinggian ilmunya oleh seluruh ulama lintas zaman.

Menapaki jalan menuntut ilmu tidaklah selamanya mudah. Kemuliaan ilmu hanya dapat digapai dengan perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan. Ada kalanya hati jenuh karena terus-menerus berkutat dengan buku-buku. Terkadang pikiran lelah oleh beratnya kajiankajian ilmu.

Rasa bosan dan perasaan ingin menyerah juga kerap mengusik jiwa seorang pembelajar. Jika saja diri tidak bersabar atas segala ikhtiar, bukan tidak mungkin kita terpaksa memilih posisi terhina dalam gelapnya kebodohan.

Nasihat Imam Syafii tersebutmengirimkan pesan akan  pentingnya menuntut ilmu. Ilmu merupakan penunjuk arah yang akan membawa pemiliknya selamat sampai tujuan. Kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai hanya dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka wajib baginya memiliki ilmu, barang siapa menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu dan barang siapa menghendaki keduanya, maka wajib baginya memiliki ilmu.”

Generasi sekarang

Namun, semangat dan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan pada sebagian generasi sekarang  semakin memudar. Kemajuan zaman dengan berbagai kemudahan teknologi informasi sudah tidak lagi mampu menjadi stimulus untuk lebih gigih dalam belajar.

Mirisnya lagi, kecanggihan teknologi sebagai salah satu sumber kemalasan para siswa masa kini. Faktanya, tidak sedikit dari pelajar lebih memilih menghabiskan waktu dengan hal yang tidak bermanfaat dari pada menekuni buku-buku maupun tugas-tugas akademiknya.

Keberadaan smartphoneserta kemudahan layanan internet  menjadi problema tersendiri bagi generasi zaman now. Sebagian besar aktivitas mereka berada di ruang-ruang digital yang  orientasinya sangat jauh dari proses memperkaya khazanah keilmuan.

Di mana-mana kita menyaksikanmereka cenderung berkutat   dan sibuk mengoperasikan ponselnya. Tetapi yang mereka akses adalah media sosial, game online serta konten-konten yang jauh dari kesan mendidik dan tidak mencerdaskan.

Kecenderungan berlebihan terhadap media sosial dikhawatirkan dapat menggeser fungsi utama media digital sebagai salah satu sarana pembelajaran. Tidak dapat dipungkiri, dewasa ini media sosial bagi generasi milenial sudah menjadi lifestyle atau gaya hidup.

Demi berharap pengakuan dari orang lain, mereka berusaha tampil bukan sebagaimana dirinya sendiri. Maka tidak mengherankan bila perilaku sebagian generasi zaman ini lebih sibuk  memikirkan gaya hidup dari pada berlelah-lelah menyelami khasanah ilmu dalam sunyinya sudut-sudut pustaka.

Pemuda pilihan Generasi muda adalah tonggak sebuah peradaban. Maju mundurnya suatu bangsa sangat bergantung padaperanan dan kualitas generasi  mudanya. Jika kita buka lembaran-lembaran sejarah, kita akan temukan beragam kisah teladan generasi emas zaman dulu dalam kegigihannya menuntut ilmu.

Berkat perjuangan para pemudanya,Islam berhasil membangun peradaban dan berada di puncak kegemilangan dengan menguasai dua pertiga dunia pada abad ke-10, 11 dan 12 Masehi. Mereka merupakan pemuda-pemuda pilihan yang menjadi panutan nyata bagi generasi sekarang yang telahkehilangan identitas diri dan tokoh inspiratif.

Mari bercermin dari kisah teladan seorang pemuda muslim yatim lagi miskin yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Pemuda mulia nan jenius yang karya-karyanya menjadi penerang dan petunjuk umat manusia sampai akhir zaman. Beliau bernama Muhammad Ibnu Idris bin Abbas atau yang kita kenal dengan nama Imam Syafii r.a.

Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dengan kondisi keluarga yang miskin, tetapi tidak membuat beliau malas dan rendah diri. Sebaliknya, keadaan tersebut menjadikan Imam Syafii makin bersemangat dalam menuntut ilmu.

Dalam buku biografinya dikisahkan, Imam Syafii memulai perjalanan menuntut ilmu dengan belajar membaca, menulis, dan menghafal Alquran. Beliau mencatat setiap ilmu yang diperoleh dari gurunya pada kertas-kertas,  kulit dan tulang binatang.

Pada usia tujuh tahun, Imam Syafiii telah menyelesaikan hafalan Alqurannya dengan lancar. Pada usia sepuluh tahun beliau sudah menghafal hadist-hadist dalam kitab Al- Muwattha karangan Imam Malik. Sulit rasanya membayangkan anak usia sepuluh tahun mampu menghafal 30 juz Alquran jika kesehariannya dihabiskan dengan bermain game dan media sosial.

Siapa yang tidak mengenal nama besar Sultan Muhammad Al- Fatih. Seorang Sultan yang mulai memerintah di Dinasti Turki Ustmani pada usia yang sangat belia. Nama Al-Fatih disematkan padanya karena kegigihannya sebagai penakluk Konstantinopel. Seorang sultan agung yang dalam masa kepemimpinannya telah berhasil menaklukkan kemegahan Bizantium Romawi Timur, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan menebar terangnya cahaya Islam sampai benua Eropa.

Meski terlahir sebagai putra sultan yang akan mewarisi kekhalifahan dinasti Ustmaniyah, tapi Al-Fatih muda tidaklah terlena dalam kemanjaan dan kemewahan istana. Al-Fatih muda memiliki mimpi besar terhadap keagungan Islam.

Di bawah bimbingan guru yang mumpuni, Sultan Al-Fatih memantaskan dirinya sebagai sosok yang menjadi jawaban dari bisyarah Rasulullah sebagaimana tertera dalam hadistnya. “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaikbaik pasukan.” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Kemenangan demi kemenangan tersebut tidaklah diraih dengan serta merta. Untuk mewujudkan mimpinya, Sultan Al-Fatih telah mempersiapkannya sejak usia sangat muda.

Di bawah bimbingan dan tempaan sang guru rohani, beliau tidak hanya mengasah potensi intelektualnya, namun juga mempertajam dimensi spiritual yang menjadi kunci kemenangan disetiap misinya. Untuk memantaskan diri, Sultan Al-Fatih menempa dirinya dengan menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari hafalan Alquran, hadist-hadist, memahami ilmu fikih, belajar matematika dan sains, mendalami ilmu falak, mempelajari berbagai bahasa dan strategi perang.

Dari sini jelas memberi gambaran kepada kita, begitu jauh jurang perbedaan generasi masa lalu dengan generasi hari ini. Generasi emas di masa lalu memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Cita-cita yang berangkat dari kecintaan mereka terhadap Rabb dan rasul-Nya dan keinginan memberikan yang terbaik untuk umat, bangsa serta agama.

Mereka menyadari sebuah perubahan hanya dapat diraih dengan perjuangan dan kegigihan menyelami luasnya samudera ilmu. Bukan tidak mungkin generasi- generasi pilihan yang sangat mencintai ilmu terlahir kembali.

Hanya saja dibutuhkan sebuah sistem dan lingkungan yang mendukung untuk itu. Mulai dari komunitas keluarga, sekolah, masyarakat dan negara harus memiliki peran serta tanggung  jawab untuk memberikan mereka suasana dan pendidikan yang mendukung dalam membangun kecintaan mereka terhadap ilmu.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved