Breaking News:

Salam

Vaksinasi; Agar tidak Menyesal Kemudian

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta pemerintah tidak terburu‑buru merealisasikan agenda vaksinasi Covid‑19 kepada masyarakat

Editor: bakri
(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto 

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta pemerintah tidak terburu‑buru merealisasikan agenda vaksinasi Covid‑19 kepada masyarakat. Organisasi dokter itu malah menganjurkan vaksinasi setelah kandidat vaksin tersebut benar-benar lolos uji klinis fase 3. Saran ini mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan masyarakat yang memang khawatir terhadap vaksin yang dianggap belum tuntas uji klinisnya.

Ketua Satgas Covid-19 PB IDI, Zubairi Djoerban mengatakan, vaksin yang dibeli pemerintah mutlak harus ada syarat sudah terbukti efektivitasnya, imunogenitasnya, serta keamanannya dengan dibuktikan adanya hasil yang baik melalui uji klinik fase 3 yang sudah dipublikasikan. "Perlu diadakan persiapan yang baik dalam hal pemilihan jenis vaksin yang akan disediakan serta persiapan terkait pelaksanaannya. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden agar program vaksinasi ini jangan dilakukan dan dimulai secara tergesa‑gesa."

Dari data yang ada, saat ini uji coba vaksinasi Sinovac di Brasil sudah selesai dilaksanakan pada 9.000 relawan. Namun hasilnya baru akan dikeluarkan segera setelah selesai dilakukan vaksinasi pada 15.000 relawan. "Kita bisa melihat bahwa unsur kehati‑hatian juga dilakukan negara lain dengan tetap menunggu data lebih banyak lagi dari hasil uji klinis fase 3. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa program vaksinasi adalah sesuatu program penting namun tidak dapat dilakukan secara tergesa‑gesa."

PB IDI juga berharap integritas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tetap terjaga sehingga tugas pembuatan dan penyediaan obat atau vaksin dapat dilakukan melalui proses Emergency use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid‑19 yang diamanahkan WHO tidak keliru.

Selain uji klinis fase 3, vaksinasi juga harus dipersiapkan secara baik mulai dari pedoman vaksinasi oleh perhimpunan profesi, pelatihan petugas vaksin, sosialisasi bagi seluruh masyarakat dan membangun jejaring untuk penanganan efek samping vaksinasi.

Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjelaskan, dari total target orang yang divaksin, 70 persen merupakan kelompok usia produktif dengan rentang usia 19‑59 tahun. Pemberian vaksinasi diutamakan juga bagi mereka yang berada di garda terdepan dalam pelayanan publik.  Garda terdepan itu dokter, perawat, petugas medis. Lalu, TNI, Polri, Satpol PP. Dan tentunya, dipertimbangkan juga pada pasien komorbid (penyakit penyerta).

Presiden Joko Widodo sebelumnya sudah menyampaikan kepada masyarakat bahwa ada sekitar 170 ingga 180 juta warga Indonesia akan menerima vaksin Covid‑19. Vaksin yang sedang masa uji klinis fase tiga direncanakan tersedia akhir tahun 2020 atau awal 2021.

Presiden berulang-ulang mengingatkan bahwa angka 180 juta orang yang akan divaksin tentu bukan jumlah yang kecil. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan agar saat tiba waktunya nanti proses imunisasi vaksin Covid‑19 berjalan lancar.

Yang menjadi sorotan masyarakat saat ini bukan soal teknis vaksinasinya, tapi soal politik  vaksin. Sebab, sejak delapan bulan terakhir, perlombaan menemukan vaksin telah mengambil dimensi politis dan pendekatan nasionalistik. Seorang pengamat mengatakan, banyak negara berlomba menemukan dan menaruh akses pertama terhadap vaksin untuk kepentingan politik dalam negeri dan geopolitik. Padahal krisis kesehatan adalah krisis global yang memerlukan solusi dan kerja sama dunia dalam pemulihannya.

Persaingan penemuan vaksin Covid‑19 menandai babak baru perlombaan senjata global. China, Eropa, dan Amerika Serikat (AS) sudah menginvestasikan miliaran dolar dan mengerahkan para ilmuwannya untuk menjadi yang pertama memproduksi vaksin. Negara yang menang akan mendapatkan langkah awal untuk melindungi warganya dan memulai kembali ekonominya.

Sebuah surat kabar terkemuka dunia menggambarkan persaingan ini sebagai ‘momen Sputnik’ yang mengingatkan perlombaan ruang angkasa antara Rusia dan AS usai peluncuran Sputnik pada 1957. Kini China yang menjadi lawan tangguh AS dalam perang global melawan Covid‑19. Apalagi kedua negara tersebut telah bertahun‑tahun berlomba dalam penelitian biomedis. Maka, dalam pengadaan vaksin, banyak negara, termasuk Indonesia, sudah berhati-hati untuk tidak terjebak dalam persaingan itu. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved