Breaking News:

Opini

Menunggu Kejatuhan Macron  

Akhir-akhir ini, media informasi kerap dipenuhi dengan wacana karikatur Nabi Muhammad Saw yang tengah menjadi polemik di negeri Eiffel

Menunggu Kejatuhan Macron   
IST
Husni Mubarak, M.Ag, Sekretaris Karang Taruna Aceh Tamiang, Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tamiang

Oleh Husni Mubarak, M.Ag, Sekretaris Karang Taruna Aceh Tamiang, Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tamiang

Akhir-akhir ini, media informasi kerap dipenuhi dengan wacana karikatur Nabi Muhammad Saw yang tengah menjadi polemik di negeri Eiffel, Perancis. Berawal dari pemenggalan seorang guru yang menjadikan karikatur sebagai media ajar, membuat Presiden Perancis Emmanuel Macron mengambil kebijakan untuk tetap mengizinkan peredaran karikatur tersebut sebagai bentuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.

Kebijakan itu tentu tidak hanya berhenti di sana, para Muslim Perancis bahkan dunia bergejolak dengan sikap Macron yang ngotot mempertahankan keputusannya. Hal tersebut kemudian berlanjut pada pemboikotan berbagai produk Prancis, bahkan sebab musabab minculnnya pembunuhan sadis di gereja Notre Dame, Nice.

Situasi ini membuat saya heran dengan apa yang ada di pikiran Macron, apakah ia sudah siap jika negaranya terancam krisis ekonomi atau lebih parahnya mengakibatkan keamanan negaranya tidak kondusif? Penilaian ini bukan berdasarkan subjektivitas saya sebagai Muslim, tapi lebih kepada bagaimana memahami kontruksi politis yang coba dibangun Macron.

Seorang pemimpin negara sekaliber Macron seharusnya paham bagaimana aktor politik menyikapi gejolak di negaranya. Sejauh ini, melihat apa yang dilakukan Macron, ia seolah tidak peduli dengan dampak di kemudian hari. Ia seakan ego dengan prinsipnya tanpa pertimbangan lebih lanjut. Jika Macron tidak cerdas dalam menyikapi gejolak ini, dan masih mempertahankan sentimen pribadi, saya menilai ia akan jatuh atas berbagai kekacauan di kemudian hari.

Cepat atau lambat, jika sektor ekonomi jatuh, stabilitas keamanan terganggu, dan dukungan internasional memburuk, pasti parlemen di Perancis tidak akan tinggal diam. Prediksi saya, jika Macron tidak segera meminta maaf pada Muslim dunia, atau menarik penerbitan karikuatur Muhammad dalam waktu dekat, bisa jadi ia akan lengser dari kepemimpinannya.

Minimal, ia tidak akan menang lagi jika ikut kembali pada pencalonan berikutnya. Seorang pemimpin negara harusnya bisa berfikir fleksibel. Menyesuaikan keadaan, dan mempertimbangkan segala aspek sebelum dengan lantang mengambil keputusan secara sepihak.

Mungkin Macron tidak ingin dianggap melemah atau kalah oleh tindakan kriminal (pemenggalan Samuel Paty) di mata publik. Saya sendiri mengakui bahwa pembunuhan itu adalah tindakan sadis dan tidak dibenarkan dalam hukum, namun masalah utamanya bukan pada pembunuhan itu, melainkan perizinan karikatur yang menginjak harga diri umat Islam. Pada hakikatnya, meskipun saling berhubungan, kasus pembunuhan dan problema karikatur adalah dua masalah yang berbeda.

Pembunuhan Samuel Paty adalah kesalahan Macron yang tidak berfikir futuristik. Lebih parahnya lagi, Macron justru menjadikan tragedi itu sebagai alasan menuduh Islam sebagai teroris. Pada konteks ini, Macron menanggapi kesalahan pertama dengan kesalahan selanjutnya.

Kalaupun memang mengutuk tindakan pembunuhan, maka esekusi pelakunya, bukan mengkambinghitamkan 'Islam'. Jangan libatkan embel-embel agama yang sakral dan sangat sensitif. Andai pun hendak menegakkan 'kebebasan berekspresi', maka harus ada acuan dan indikatornya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved