Breaking News:

Salam

Pulau Banyak Harus Jadi di Tangan UEA

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT menyampaikan proposal

SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI
Tim Provinsi Aceh melakukan pertemuan dengan Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid, membahas tindak lanjut proposal investasi UEA, Rabu (4/11/2020) 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT menyampaikan proposal investasi pariwisata di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, kepada Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Hal itu terkait dengan rencana investor Uni Emirat Arab (UEA) yang ingin melakukan investasi pariwisata di Provinsi Aceh, yakni di Pulau Banyak.

Penyerahan proposal itu dilakukan Gubernur Aceh saat melakukan pertemuan dengan Luhut di Jakarta, Jumat (13/11/2020). Dalam pertemuan itu, Gubernur Aceh didampingi staf khususnya Iskandar MSc, Bupati Aceh Singkil Dulmusrid, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin MSi.

Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan Nova dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, pada 8 Oktober lalu di Jakarta.

Menurut Nova, Menko Luhut berterima kasih kepada Pemerintah Aceh yang sudah menyiapkan proposal investasi pariwisata untuk Pulau Banyak. Selanjutnya, Menko Luhut akan meyakinkan pihak Abu Dhabi supaya mengirim tim untuk melihat langsung potensi wisata di kepulauan yang terdiri atas 63 pulau itu. “Nanti mereka akan melakukan survei detail,” kata Nova.

Pemerintah Aceh sendiri, lanjut Nova, dalam penawaran proyek terpadu di Pulau Banyak itu, termasuk untuk membangun pelabuhan udara. Jika bandara itu nanti terealisasi maka UEA akan lakukan pemasaran langsung dari Abu Dhabi ke Pulau Banyak.

Nah, jika gagasan ini terwujud, tampaknya inilah kesempatan emas dari Pulau Banyak untuk berkembang. Sudah sejak dulu potensi bahari di kepulauan ini dikagumi banyak orang. Keindahan Bunaken, Pantai Senggigi, Gili Tarawangan, dan Mandalika kalah dibanding pesona eksotik pulau-pulau di Kepulauan Banyak, Aceh Singkil.

Turis pun terus berdatangan ke sini, bukan saja dari kawasan Asia Tenggara, tetapi juga dari Australia dan Rusia. Namun, jumlah turis yang datang masih sangat minim, kecuali mereka yang benar-benar berjiwa petualang, mengingat jauhnya jarak tempuh ke Pulau Banyak. Dari Banda Aceh ke Singkil saja jika jalan darat menghabiskan waktu 14 jam untuk jarak tempuh 666,6 km. Dari Singkil naik boat atau naik feri lagi sekitar satu jam untuk jarak tempuh 43 km atau 26 mil. Alternatif lainnya adalah dari Medan ke Singkil. Namun, waktu tempuhnya pun lumayan lama, sekitar delapan jam. Inilah faktor utama mengapa Pulau Banyak yang permai belum dikunjungi oleh banyak wisatawan asing.

Untuk mengatasi kendala jarak tersebut, seharusnya dibangun landasan udara di Pulau Banyak. Investasi UEA yang terbilang banyak kita harapkan mampu menghadirkan sebuah pelabuhan atau landasan udara di Pulau Banyak. Dengan begitu, turis dari Abu Dhabi bisa langsung terbang ke Pulau Banyak yang waktu tempuhnya hanya lima jam.

Untuk mewujudkan rencana ini pilihlah pulau yang tepat untuk membangun pelabuhan udara. Apakah di Pulau Balai yang padat penduduk atau di Haloban sebagai pulau terluas di sana atau justru di Pulau Panjang. Kendala yang akan dihadapi adalah pulau-pulau di sana umumnya kecil dan beberapa di antaranya merupakan kawasan lindung atau cagar alam ekosistem laut. Mudah-mudahan persoalan ini bisa diatasi atas koordinasi Menko Kemaritiman dan Investasi dengan menteri terkait.

Rasanya, kalaulah tidak dengan investasi besar seperti yang diwacanakan UEA pariwisata Pulau Banyak ini sulit untuk berkembang. Jarak yang menjadi kendala utamanya, hal yang sebetulnya bisa diatasi jika dibangun pelabuhan udara di sana. Untuk itu, kita berharap peran besar dari Menko Luhut untuk meyakinan pihak UEA agar jadi mengucurkan investasinya di Pulau Banyak.

Bagi Menko Luhut sendiri, pengembangan pariwisata Pulau Banyak ini menjadi sangat penting dan relevan, terutama sebagai zona penyangga dari pusat pengembangan pariwisata Danau Toba di Sumatera Utara. Turis yang mungkin bosan menikmati danau lebih dari dua hari bisa diterbangkan ke Pulau Banyak untuk menikmati keindahan laut dengan segala pesonanya.

Selain itu, Pulau Banyak bisa menjadi alternatif  jika Danau Toba dan Berastagi sewaktu-waktu tak bisa dikunjungi karena Gunung Sinabung “batuk-batuk” lagi seperti sudah sering terjadi.

Jadi, Pulau Banyak bukan saja penting bagi pengembangan pariwisata Aceh, tetapi juga bagi tetangganya, Sumatera Utara. Itulah sebab, kita menaruh ekspektasi besar agar proyek penggarapan pariwisata Pulau Banyak ini benar-benar jadi di tangan investor asal UEA.

Hanya saja perlu kita ingatkan agar investor dari UEA itu nantinya tetap menghargai adat istiadat dan budaya yang berlaku di Aceh sebagai satu-satunya provinsi bersyariat Islam di Indonesia. Soalnya, demi menyedot banyak turis UEA baru-baru mengizinkan warganya untuk kumpul kebo (hidup bersama tanpa ikatan nikah) dan juga membolehkan menenggak minuman beralkohol. Dua hal ini, dan berbagai bentuk maksiat lainnya, tentu akan ditolak oleh ulama dan masyarakat Aceh jika disisipkan dalam investasi UEA di Pulau Banyak. Mari kita kawal bersama agar investasi asing tidak menggerus nilai-nilai islami yang sudah lama kita junjung di Bumi Serambi Mekkah ini. Pelancongan yes, maksiat no!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved