Breaking News:

Wisata

Menelusuri Peninggalan Megalitikum di Lore Lindu Sulawesi Tengah

Peninggalan zaman Megalitikum itu berupa sejumlah patung batu dengan ciri manusia yang memiliki kepala, bahu, dan kelamin yang telihat jelas.

Editor: Taufik Hidayat
Shutterstock
Patung batu di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. 

Tersebar di lembah Napu, Bada, dan Besoa, patung-patung batu berukuran dua kali tinggi manusia ini, disebut sebagai monumen batu yang tak hanya berusia ribuan tahun, tetapi juga memiliki klasifikasi berdasarkan jenis bentuknya.

Setidaknya terdapat lima klasifikasi yang diberikan. Pertama yakni patung batu dengan ciri-ciri manusia yang memiliki kepala, bahu, dan kelamin yang telihat jelas.

Kedua, kalamba yang menyerupai jambangan besar. Batu jenis kedua ini dapat ditemukan dengan mudah di berbagai sudut sabana Lore Lindu. Ketiga yakni tutu’na yang merupakan batu berbentuk piringan dan dianggap sebagai penutup dari kalamba.

Keempat  Batu Dakon yang berbentuk rata sampai cembung, batu ini menggambarkan saluran-saluran, lubang tak teratur, hingga lekukan abstrak lainnya. Sedangkan kategori terakhir merupakan patung-patung yang berada di luar keempat kategori tersebut.

Menelusuri jejak sejarah melalui wisata megalitikum juga bisa ditempuh melalui perjalanan mobil maupun motor. Bagi pejalan yang ingin menginap, terdapat beberapa penginapan yang terletak di desa Besoa yang juga menawarkan hamparan sabana yang indah.

Baca juga: Hukum Utang Piutang Dalam Islam, Siapa yang Tanggung Ketika Sudah Meninggal? Lengkap dengan Hadis

Baca juga: Edhy Prabowo Resmi Mengundurkan Diri dari Jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan

Baca juga: Derita Istri Alami 13 Luka Tusukan akibat Ditikam Suami saat Shalat Tahajud, Korban Kritis

Baca juga: Si Tukang Jagal yang Bikin Tulang Marado Retak Sedih Mendengar Kepergian Mega Bintang

Baca juga: Kasus Konfirmasi Baru di Aceh Turun 6,7 Persen, Satgas Covid-19 Nasional Beri Apresiasi

Danau Tambing

Dikenal akan keindahan dan letaknya yang tersembunyi, Danau Tambing menjadi lokasi yang tepat untuk melepas penat dari keramaian. Berada di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, perjalanan mengunjugi danau ini bisa dibilang memerlukan tenaga fisik ekstra, mengingat lokasinya berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut.

Kawasan Danau Tambing juga kerap disebut sebagai surga burung, mengingat banyaknya spesies burung yang hidup di sekitar kawasan ini. Tercatat, ada sekitar 270 jenis burung yang 30 persennya merupakan satwa endemik yang berkembangbiak sejak zaman dahulu kala.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan kehadiran tanaman anggrek, kantong semar, dan kayu leda, jenis kayu khas yang hanya ada di kawasan Lore Linduh. Bagi pejalan yang ingin menikmati suasana alam lebih dekat, Danau Tambing juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk memancing ikan air tawar maupun berkemah.

Namun, selama penerapan kebiasaan baru, terdapat beberapa aturan yang perlu ditaati oleh para pejalan, di antaranya yaitu adanya pembatasan pengunjung sebanyak 200 pejalan atau 20 persen dari kapasitas setiap harinya, seperti dikutip dari Kompas.com (21/11/2020).

Selain itu, bepergian di tengah pandemi tetap perlu menerapkan berbagai protokol kesehatan. Salah satunya yakni penerapan protokol kesehatan menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan (3M).

Terapkan pula prinsip Clean Health Safety Environment (CHSE) saat menaiki kendaraan umum atau pribadi ketika menuju tempat wisata, berkuliner, hingga menjelajah agar kesehatan tetap terjaga.(NationalGeographic)

Berita ini sebelumnya tayang di https://nationalgeographic.grid.id/read/132445379/mengamati-maleo-dan-menelusuri-peninggalan-megalitikum-di-lore-lindu?page=all

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved