Kupi Beungoh
‘Nostalgia’ Banjir Lhoksukon
Ada kerinduan mendalam di hati saat melintasi kota ini, sehingga meski dengan waktu yang sempit, saya usahakan untuk tetap singgah.
Oleh: Yocerizal*)
DUA tahun lalu saya menyempatkan diri singgah di Lhoksukon, Aceh Utara.
Bersilaturahmi dengan tetangga, bertemu dengan teman dan sahabat lama.
Kunjungan itu merupakan yang pertama saya lakukan setelah belasan tahun berlalu.
Ada kerinduan mendalam di hati saat melintasi kota ini, sehingga meski dengan waktu yang sempit, saya usahakan untuk tetap singgah.
Bagi saya, Lhoksukon memang tempat yang istimewa.
Tempat saya menghabiskan masa kecil hingga remaja.
Tempat tersimpan banyak kenangan indah masa SMA dan pahitnya masa konflik.
Termasuk juga salah satunya kenangan 'indah' soal banjir.
Bagi saya, di masa-masa itu banjir memang menjadi kenangan mengasyikkan, karena bisa bebas bermain air dan mencari ikan yang terbawa banjir.
Ikan bahkan bisa kita temukan di dalam rumah, di kolong tempat tidur, dan di sudut-sudut kamar.
Karena itu, saat singgah di Lhoksukon tahun 2018 lalu, saya sempatkan berkeliling di ibukota Kabupaten Aceh Utara ini.
Sekaligus ingin menunjukkan kepada kedua anak laki-laki saya tempat di mana ayahnya pernah tinggal dan menghabiskan masa remaja.
Tapi ternyata semua di luar ekspektasi.
Baca juga: Waspada Banjir Susulan, Enam Wilayah Ini Masih Dilanda Hujan Tiga Hari ke Depan Aceh
Baca juga: Terobos Banjir, Berjalan Kaki Haji Uma Antar Bantuan ke Aceh Timur, 3 Desa Pante Bidari Banjir Lagi
Saya nyaris tak bisa menjawab pertanyaan putra pertama saya yang mengkritisi kondisi kota Lhoksukon.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/yocerizal-banjir-lhoksukon.jpg)