Kupi Beungoh
‘Nostalgia’ Banjir Lhoksukon
Ada kerinduan mendalam di hati saat melintasi kota ini, sehingga meski dengan waktu yang sempit, saya usahakan untuk tetap singgah.
Kota ini memang masih sama seperti dulu, hanya saja lebih kumuh dan semrawut.
Lubang jalan menganga dimana-mana (saat ini sudah diperbaiki) dan debu-debu berterbangan.
Jalan menjadi sempit dan macet, karena di kanan kiri jalan sesak dengan pedagang kaki lima dan kendaraan yang terparkir tidak beraturan.
Kesan pertama yang saya tangkap, kondisi Lhoksukon tidak lebih baik dari dulu ketika saat Aceh sedang dilanda konflik, ketika Lhoksukon masih sebuah kota kecamatan.
Awalnya saya mengganggap itu hanya sekedar penilaian pribadi, karena lama tak pernah singgah di kota ini.
Tetapi hal itu juga dibenarkan oleh teman dan sahabat saya di Lhoksukon.
Hal lainnya yang juga tak pernah berubah dan justru semakin parah adalah banjir.
Bagi warga Lhoksukon, banjir memang telah menjadi hal biasa.
Setiap tahun Krueng Keureutoe akan meluap, menumpahkan isinya ke pemukiman penduduk.
Saya masih ingat persis saat dulu warga bersama TNI Masuk Desa berjibaku membangun tanggul pengaman Krueng Keureutoe, yang berdekatan dengan rumah saya di Meunasah Pante.
Kami menumpuk goni-goni berisi tanah di sepanjang sisi sungai.
Ketika singgah di Lhoksukon, saya menyempatkan diri ke tanggul, sekedar untuk melihat kondisi sungai Krueng Kereutoe.
Sungai tempat dulu saya sering mandi dan belajar berenang.
Tempat kami dulu sering menyelam dan mencari kerang.
Kondisinya hari ini ternyata sudah jauh berubah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/yocerizal-banjir-lhoksukon.jpg)