Kupi Beungoh
‘Nostalgia’ Banjir Lhoksukon
Ada kerinduan mendalam di hati saat melintasi kota ini, sehingga meski dengan waktu yang sempit, saya usahakan untuk tetap singgah.
Sungai menjadi lebih sempit dan dipenuhi oleh semak belukar.
Jalan yang dulu sering saya susuri saat turun ke sungai juga tak terlihat lagi.
Bangunan rumah konstruksi kayu dan beton juga semakin banyak, berjejer di atas tanggul.
Bisa jadi, ini salah satu penyebab mengapa dari tahun ke tahun banjir yang terjadi semakin parah.
Baca juga: Beredar Kabar Banjir Susulan, Warga Lhoksukon Cemas: Ya Allah, Bagaimana Ini?
Baca juga: Sebagian Warga Korban Banjir Masih Terjebak, TNI AL Evakuasi Korban Banjir di Lhoksukon
Di samping karena memang semakin masifnya pengrusakan hutan di bagian hulu sungai.
Waduk Krueng Kereutoe yang diresmikan Presiden Joko Widodo tahun 2015 lalu, selain diharapkan bisa menjadi sumber air persawahan petani, juga untuk mengendalikan banjir.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Banjir semakin parah.
Rumah-rumah nyaris tenggelam hingga ke atap rumah.
Badan jalan nasional Medan-Banda Aceh yang membelah Kota Lhoksukon juga ikut tenggelam.
Transportasi terhenti total.
Padahal biasannya ketika banjir, jalan ini menjadi tempat warga mengungsi selain meunasah.
Karena memang posisinya yang lebih tinggi dari pemukiman penduduk.
Banjir yang terjadi Jumat (5/12/2020) kemarin merupakan yang terparah dalam sejarah banjir Lhoksukon, dan merendam hampir semua kecamatan di Aceh Utara.
Dari Banda Aceh, saya sudah dapat membayangkan kondisi dan penderitaan saudara-saudara saya di sana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/yocerizal-banjir-lhoksukon.jpg)