Breaking News:

Warning Bank Dunia; Program Perlindungan Sosial Bermasalah

Bank Dunia melihat, stimulus program perlindungan sosial dari pemerintah merupakan kunci untuk menyelamatkan perekonomian masyarakat dari krisis Covid

Editor: bakri
ABS CBN NEWS

Bank Dunia melihat, stimulus program perlindungan sosial dari pemerintah merupakan kunci untuk menyelamatkan perekonomian masyarakat dari krisis Covid‑19. Besaran dana itu akan menentukan apakah masyarakat akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan atau malah bisa tetap bertahan di tengah pendemi ini. “Simulasi kami, kalau pemerintah tidak memberikan perlindungan sosial, maka sebanyak 8,5 juta masyarakat Indonesia bisa jatuh miskin akibat krisis ini,” ujar mereka.

Bank Dunia melihat, sebenarnya jumlah dana yang telah dianggarkan pemerintah untuk program ini sudah bisa membantu  memitigasi dampak ini. Namun, dengan catatan harus diimplementasikan segera dan tepat sasaran. Sayangnya, eksekusi perlindungan sosial oleh pemerintah masih lambat dan bahkan tidak menyentuh kelompok yang seharusnya mendapatkan, terutama mereka yang terdampak dari sektor informal. “Padahal, kelompok ini yang harusnya mendapat perlindungan sosial. Banyak orang yang tidak mendapat bantuan sosial dan akhirnya jatuh ke jurang kemiskinan, padahal mereka juga kehilangan pekerjaan,” kata World Bank.

Setelah kehilangan mata pencarian, ditambah tidak terjangkau program bantuan sosial mengakibatkan naiknya tantangan bagi rumah tangga untuk mendapatkan makanan, terutama bagi kaum miskin yang mengalokasikan sebagian besar pengeluaran mereka untuk makanan.

Untuk itu, saat ini pemerintah perlu untuk meningkatkan cakupan, kecukupan, dan sasaran paket perlindungan sosial. Pemerintah juga perlu memperhatikan dengan sungguh‑sungguh dan memprioritaskan program ini untuk melindungi masyarakat yang miskin dan rentan.

Apalagi, saat ini penyaluran subsidi masih banyak yang tidak tepat sasaran. Di sisi lain, pemerintah mestinya juga bisa meninjau ulang terkait dengan subsidi yang kurang efisien seperti LPG, pupuk, dan minyak. Setelah itu, pemerintah dapat mengalokasikan dana subsidi tersebut untuk kebutuhan yang lebih mendesak, seperti bantuan sosial (bansos) atau kebutuhan infrastruktur.

Hingga awal Desember 2020 atau tepatnya 8 Desember 2020, program perlindungan sosial secara keseluruhan telah terealisasi sebesar Rp 213,31 triliun. Berarti, ini sudah mencapai 92,5% dari total pagu yang dianggarkan oleh pemerintah yang sebesar Rp 230,70 triliun.

Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan mengklaim jumlah tersebut menunjukkan penyerapan program perlindungan sosial sudah berjalan optimal. “Kecepatan penyerapan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat untuk bertahan menghadapi kondisi pandemi,” tandas Kemenkeu.

Yang menjadi catatan kita ada dua hal. Pertama adalah tentang kemungkinan bertambahnya 8,5 juta orang miskin baru ditambah lagi, yang tadinya miskin semakin miskin. Dan, catatan kedua adalah tentang bantuan sosial yang menurut Bank Dunia tidak tepat sasaran. Bahkan sebagian ada yang dikorup untuk kepentingan elit pemerintahan dan partai politik.

Menteri Sosial diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menggelapkan dana bantuan sosial. Berita sejumlah media mengabarkan dana hasil korupsi itu mengalir juga oknum elit partai politik nasional. Sampai saat ini belum terang betul siapa saja yang ikiut menikmati hak rakyat miskin itu. Mudah-mudahan – semoga KPK tidak mendapat tekanan– nanti kita akan tahu dari hasil pengungkapan oleh KPK di Pengadilan Tipikor.

Akibat tidak terkelolanya Bansos terkait pandemi itu secara baik, pemerintah – sebagaimana warning World Bank– kemungkinan bukan hanya akan terbebani bertambahnya 8,5 juta penduduk miskin baru, tapi tingkat utang pemerintah dan tingkat pembayaran bunga utang juga bertambah berat.

Yang sangat menyakitkan, selain dua hal itu (stimulus gagal, beban utang dan bunga tambah berat) serangan Covid pun belum mereda. Jadi, jika benar seperti warning Bank Dunia itu, maka pemerimtah ke depan akan sangat banyak bebannya. Namun, harapan kita serangan Corona segera berlalu agar masyarakat yang terancam miskin bisa beraktivitas kembali sehingga tak “terperosok” ke jurang kemiskinan sebagaimana yang ditakutkan banyak ahli dan pengamat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved