Rabu, 29 April 2026

Kilas Balik Tsunami Aceh 2004

16 Tahun Tsunami Aceh - Pasien Korban Tsunami Perlu Dicuci Paru-paru

Refleksi 16 tahun Tsunami Aceh, Serambinews.com, menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Kamis 13 Januari 2005.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Muhammad Hadi
Asip Serambinews.com
Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Minggu 9 Januari 2005 

SERAMBINEWS.COM - 26 Desember 2020, genap memperingati 16 tahun silam gempa dan tsunami Aceh yang meluluhlantakkan Tanah Rencong.

Bencana maha dahsyat yang bermula dari gempa 9,3 SR itu terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 sekitar 07.59 WIB.

Gempa dirasakan selama 10 menit dan berpusat di Samudra Hindia pada kedalaman 10 kilometer di dasar laut.

Tak lama, tsunami menyusul datang menghantam dataran Aceh, menimbulkan lembaran duka dalam sejarah Indonesia.

Ratusan ribu nyawa manusia tenggelam seiring tebasan gelombang air laut, korban tsunami yang selamat menyisakan bekas luka maupun trauma.

Refleksi 16 tahun Tsunami Aceh, Serambinews.com, menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Kamis 13 Januari 2005. #16TahunTsunamiAceh

Baca juga: 16 Tahun Tsunami Aceh | Teungku Sofyan Terkubur Tujuh Hari, Tergulung Ombak dan Tertimpa Reruntuhan

Baca juga: Refleksi 16 Tahun Tsunami,Azwar Abubakar Biarkan Orang Asing Masuk saat Aceh Berstatus Darurat Sipil

Artikel ini kami turunkan kembali pada menjelang peringatan 16 tahun bencana Tsunami Aceh 2004,  dalam topik “Kilas Balik Tsunami Aceh”

Pasien Korban Tsunami Perlu Dicuci Paru-paru

Dokter spesialis paru-paru di RSU Daerah Cut Meutia Aceh Utara, dr Kodrat H Midun SpP mengatakan, korban tsunami harus dicuci paru-parunya.

Tanpa pencucian paru-paru terlebih dahulu akan sulit dilakukan penyembuhan, tapi kalau sudah disedot benda masuk dalam paru-parunya akan lebih gampang diobati.

Namun, disayangkan sejumlah rumah sakit di Aceh belum memiliki alat yang disebut dengan "Bronkhus Copy" (alat penyedot kotoran).

Bahkan di Banda Aceh sendiri belum memiliki alat tersebut, karena harganya lumayan mencapai Rp 600 juta lebih

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NAD Dr Mulya Hasjmi, SpB Mkes, kepada Serambi Selasa malam membenarkan belum ada rumah sakit di Aceh mempunyai alat itu.

Baca juga: Tsunami Aceh 2004 | Kisah Putri Selamat dari Maut Badai Tsunami setelah Cengkram Jerigen

Namun, untuk menangani pasien tsunami telah dikirim dua unit dari Jakarta, satu untuk orang dewasa serta satu lainya buat anak-anak.

Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Selasa 4 Januari 2005, atau sembilan hari setelah tragedi gempa dan tsunami.
Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Selasa 4 Januari 2005, atau sembilan hari setelah tragedi gempa dan tsunami. (Arsip Harian Serambi Indonesia)

Selain harus dicuci paru parunya, kata dr Kodrat H Midun, korban tsunami juga bukan hanya ditangani seorang dokter spesialis paru-paru saja.

Tapi butuh dokter lainnya, sebab pasien tenggelam itu ada beberapa faktor, yakni trauma, bedah, paru-paru dan lainnya, termasuk ada pasien yang harus dikirim ke rumah sakit jiwa, kata dr Kodrat didampingi Direktur RSU Cut Meutia.

Menurut Kodrat, tenggelam ada dua katagori tenggelam, masing-masing tenggelam dalam air tawar dan tenggelam dalam air laut atau air asin disebut (hipertonis).

Oleh sebab itu, kasus yang sedang dialami warga Aceh, seperti Aceh Utara, Lhokseumawe, Pidie, Banda Aceh dan Meulaboh, semua yang terkena tsunami itu sama, kejadian pada hari sama dan jam yang sama.

Kasus korban tenggelamnya yang terjadi dengan Tsunami dua pekan lalu tidak boleh sembarangan infuse, karena hiper tonis masuk ke dalam paru dan terjadilah peradangan.

Baca juga: Tsunami Aceh 2004 | Dahsyatnya Ombak Tsunami, Tiada Lagi Olele di Koetaradja

Bukan karena mengandung racun. seperti yang terjadi di Banda Aceh dan Meulaboh, tapi yang terhirup itu benda asing yang tidak mampu ditahan daya tahan paru.

Tergantung banyaknya yang terhirup benda asing itu seperti benda pasir laut dan timbulnya peradangan.

Kalau sudah peradangan, malah kadang-kadang batuknya ber darah, kalau misalnya masih ringan bolehlah dikasih obat-obat spesivik.

Kalau kasusnya sudah berat, seperti ada juga korbannya di RS PT Arun yang dirawat di Banda Aceh selama empat hari, tambah dokter ahli paru-paru itu, ternyata di fotonya nampak sudah setengah ditutupi dengan hitam.

Warna air kehitaman itu akibat terhirup tatkala terjadinya tsunami, korban itu telungkup dan terhirup air laut, mengakibatkan korban menurun daya tahan tubuhnya.

Kondisi korban sangat parah, selain di sebagian parunya telah ditutupi hitam, juga terlihat orangnya lemas sekali dan membiru tubuhnya.

Kalau sudah demikian itu sudah cukup parah dan harus disedot pasir yang ada di paru-parunya. Sementara di Aceh baru ada peralatan Bronskhus copi di Rumah Sakit Zainol Abidin Banda Aceh yang didatang dari Jakarta.

Baca juga: Tsunami Aceh 2004 | Penantian Seorang Ayah di Depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Alat Bronskhus copi tersebut telah pernah diusulkan beberapa waktu lalu untuk ke pentingan RSU Lhokseumawe, tapi mungkin karena dana sangat terbatas akhirnya usulan tersebut tidak terkabulkan.

Padahal kalau peralatan tersebut ada, semua paru-paru korban tenggelam itu bisa dicuci langsung dan sembuhnyapun akan lebih cepat.

Selama terjadi tsunami di Aceh, ada tiga tenaga medis dari Jakarta telah hadir ke Banda Aceh, mereka khusus bertugas untuk mencuci paru-paru.

Dokter spesialis membutuhkan peralatan itu, diharapkan peralatan tersebut dapat disumbangkan atau dibawa ke daerah yang terkena tsunami, seperti RSU Cut Meutia Lhokseumawe dan Meulaboh yang kini sedang membutuhkan.

Menyinggung tentang harga peralatan tersebut, kata dr Kodrat H Midun SpP, spesialis paru-paru yang kini baru enam bulan bertugas di di RSU Cut Meutia.

Kalau ada peralatan penghisap pasir dan kotoran lainnya yang mengindap dalam paru pasien, tentu kita tak perlu merujuk pasien ke daerah lain, karena mampu diatasi.

"Tapi karena harganya agak mahal yang mungkin tidak terjangkau dengan dana di daerah," kata dr Kodrat yang didampingi Direktur RSU Cut Meutia Aceh Utara, dr Hamdani Oesman.

Baca juga: 16 Tahun Berlalu, Ini Data dan Fakta Dahsyatnya Gempa dan Tsunami Aceh Tahun 2004

Dr Kodrat H Midun mengatakan, pihaknya telah 35 orang pasien korban tsunami ditangani.

Mereka berada di RS PMI, PT Arun dan lainnya, akan minta bantuan dokter dari Jakarta supaya dapat menyembuhkan pasien.

Seandainya negara asing dapat membantu akan lebih cepat proses peralatan tersebut.

Walaupun air gelombang tsunami itu bukan zat beracun, tapi sangat bahaya sekali.

Sebab, zat-zat benda asing masih ke dalam paru yang sebelumnya tak pernah masuk, jadi akan sangat berbahaya kalau tidak segera mendapat bantuan medis.

Dikatakan, banyak korban bencana alam yang ditangani kelihatan trauma, mereka banyak yang menangis tatkala mengingat tentang peristiwa tersebut dan benar-benar rasa takut.

Bahkan, ada seorang pasien yang mengalami gangguan jiwa berat, karena itu terpaksa diserahkan kepada dokter Jiwa.

Baca juga: Refleksi 16 Tahun Tsunami, PP TIM Selenggarakan Diskusi Virtual, Pembicara Kunci M Jusuf Kalla

Pasien satu itu tidak mau diajak bicara, dia hanya duduk termenung dan kalau kita mendesak bertanya menangis, dia telah trauma dengan kejadian.

Kasus penyakit paru pasca tsunami di Aceh memang sangat meningkat, diberbagai rumah sakit, mereka pada umumnya dari luar daerah yang dirujuk ke RSU Lhokseumawe.

Karena itu sangat-sangat diharapkan adanya peralatan Bronkhus copy, karena kalau sudah disedot pasir tersebut, tentu akan diberikan obat yang bisa menyembuhkan rasa nyeri.

Karena pada umumnya pasien yang mengalami itu terjadi batuk darah, demam dan berbagai penyakit bisa timbul.

Kebanyakan pasien kalau tenggelam dengan air laut memang jauh sekali bedanya dengan air tawar.

Kalau air tawar bisa diberikan obat sembarangan sebagaimana obatan biasa.

Baca juga: 16 Tahun Tsunami Aceh | Kisah Maisarah Gendong Puteri Semata Wayang Mencari Keberadaan Suami

Tapi kalau tenggelam dengan air laut yang berbagai jenis ada disitu.

Seperti tsunami kemarin yang airnya hitam mengandung berbagai sampah dan pasir.

Kondisi ini membuat korban yang terhisap itu mengalami lemah berat dan tak bisa berkutik "langsung saja terjadi gagal nafas".

Sebagaimana terjadi di RSU Bireuen akibat para keluarganya terlambat membawa dari lapangan dan akhirnya meninggal dunia. (Arsip Serambi Indonesia/Serambinews.com/Firdha Ustin)

BERITA KILAS BALIK TSUNAMI ACEH LAINNYA KLIK DI SINI

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA

Baca juga: Kapolres Subulussalam Ingatkan Pengguna Jalan Waspadai Titik Rawan Bencana dan Lakalantas

Baca juga: Kabar Duka Sepanjang 2020 di Bireuen, Mulai Puluhan Rumah Terbakar hingga Bupati Meninggal

Baca juga: Mesin Boat Mati, Tiga Nelayan dan Satu Anggota TNI Lima Hari Terombang-ambing di Laut Lepas

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved