Selasa, 9 Juni 2026

Kupi Beungoh

Catatan Awal Tahun: Biologi, Akselerasi, dan Transformasi

Ahli sejarah ekonomi menyebutkan dampak ekonomi akibat Covid-19 jauh lebih besar dari apa yang pernah terjadi akibat Great Depresion-depresi besar

Tayang:
Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala. 

Orang tua, anak-anak di pelosok manapun praktis sudah mendengar, melihat, dan tahu dengan pandemi itu.

Peristiwa tahunan akibat dampak mingguan dari Wuhan kini bukan hanya terbukti, tetapi telah berjalan, dan akan terus berjalan untuk waktu yang belum dapat dipastikan.

Ahli sejarah ekonomi menyebutkan dampak ekonomi akibat Covid-19 jauh lebih besar dari apa yang pernah terjadi akibat Great Depresion-depresi besar,pada tahun 1930.

Baca juga: Wanita Wajib Tahu,Ternyata Micellar Water Punya Fungsi Selain untuk Bersihkan Wajah, Apa Saja?

Gelombang resesi, pengangguran, penambahan kemiskinan,gangguan rantai pasok dan sederet panjang konsekwensi ekonomi lainnya telah dan sedang terjadi, dan belum jelas bagimana masa depannya.

Semua cerita buruk tentang ekonomi itu terjadi di semua negara, kecuali Cina. Kini, kecuali negeri itu, praktis semua negara di dunia,mengalami kontraksi ekonomi yang belum pasti sembuh pada tahun 2021.

Apapun yang terjadi akibat virus kecil ini terhadap kinerja ekonomi global, butuh waktu yang relatif lama untuk sebagian negara untuk tampil kembali, walau hanya sebatas keadaan semula sebelum Covid-19 menyerang.

Sementara itu telah terjadi pula keadaan yang mempercepat terjadinya krisis geo-politik kawasan yang bukan tidak mungkin akan menyeret kawasan seperti ASEAN atau Indonesia sekalipun untuk memilih, pihak mana yang dapat dijadikan kawan dan siapa pula yang berpotensi menjadi lawan.

Kemampuan penanganan Covid-19 di Cina, telah membuat negeri itu semakin percaya diri,sehingga berani mengajak “berkelahi” sekaligus dengan India di Himalaya, Taiwan, sebagian ASEAN dalam kasus laut Cina Selatan, dan bahkan berani mengobok-ngobok Hongkong.

Baca juga: Tips Membersihkan & Disinfeksi Sisir Secara Rutin, Bebas dari Kuman hingga Bikin Sehat Kulit Kepala

Dalam buku terbarunya Ten Lessons for a Post-Pandemic World, kolumnis kondang dan salah satu kampiun pemikir global  Fareed Zakaria warga AS keturunan India, menulis tentang prospek kembalinya suasana perang dingin.

Yang dimaksud adalah ketegangan gobal  pra jatuhnya blok timur pada tahun 1990-an antara AS vs Uni Soviet.

Kini persaingan itu kembali hadir antara AS dengan Cina, dan Covid-19 telah menjadi salah satu pemicu yang semakin mempersubur konflik antara dua kutub kekuatan dunia itu.

Peristiwa mingguan atau harian kota Wuhan tidak hanya berdampak tahunan kepada kondisi ekonomi global, dan bahkan tata dunia baru.

Covid-19 telah menjadi pemicu ,katalis ,bahkan akselerator terhadap berbagai realitas yang sebelumnya telah ada,dan diyakini pada masa itu akan diterapkan oleh manusia dalam waktu yang relatif lama.

Namun kini akibat Covid-19  berbagai arus perobahan itu telah diadopsi semakin cepat, dan bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian.

Fenomena digitalisasi kegiatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan pelayanan publik, dan berbagai sektor lain yang dalam skenario awal diharapkan akan terjadi paling cepat  enam atau tujuh tahun ke depan, kini telah menjadi air bah perobahan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved