Kesehatan
Lebih Baik Menyantap Makanan Panas atau Dingin? Mana Lebih Menyehatkan?
Sebelum mengonsumsi makanan, pentingkah mempertimbangkan suhu makanan terhadap kesehatan kita? Makanan apa yang lebih sehat, panas atau dingin?
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Muhammad Hadi
Jika kita merasa sulit untuk makan makanan yang sangat dingin, kita bisa mengeluarkannya dari lemari es lebih awal untuk menghangatkannya.
Baca juga: Ini Manfaat Berkebun bagi Kesehatan, Meredakan Stres hingga Dapat Makan Lebih Sehat
Untuk sayuran yang tidak dapat kita konsumsi mentah, metode memasak yang paling cocok adalah mengukus, memanggang, atau menumis dengan cepat.
Makanan panas atau dingin untuk mencegah keracunan
Makanan seperti ikan, telur, dan daging harus dimasak dengan matang untuk menghilangkan kemungkinan mikroorganisme patogen.
Dengan pengelolaan suhu memasak yang baik, kita dapat menyelamatkan diri dari banyak masalah yang dapat mempengaruhi kesehatan.
Pertumbuhan bakteri berhubungan langsung dengan suhu.
Dengan menerapkan panas, kita dapat menghilangkan sebagian besar patogen. Untuk alasan ini, disarankan agar makanan yang paling sensitif (daging, telur, atau ikan) dimasak dengan sangat baik.
Baca juga: Viral Masjid Terendam Banjir, Airnya Jernih Seperti Kolam Renang
Kita juga harus memastikan bahwa tidak ada porsi makanan yang mentah atau setengah matang.
Setelah matang, kita harus mengkonsumsinya dalam waktu sesingkat mungkin atau menyimpannya di atas 65 derajat. J
Jika ingin memakannya dalam keadaan dingin, penting untuk menjaga standar memasak dan pengawetan yang tepat dalam dingin.
Makanan panas biasanya terasa lebih enak
Rasa makanan dirasakan di lidah berkat indra perasa dengan suhu makanan antara 20 dan 37 derajat mendukung persepsi rasa.
Baca juga: BERITA POPULER - Harga Emas Turun, Oknum PNS Tertangkap Mesum, Hingga Kakek Rudapaksa Bocah 4 Tahun
Baca juga: Manfaat Luar Biasa Jahe Campur Madu bagi Kesehatan, Bantu Atasi Masalah Pernapasan hingga Kanker
Sebaliknya, ketika kita makan makanan yang sangat dingin, kita harus mencicipinya sebentar untuk menghargai rasanya. Namun, kita harus berhati-hati dengan makanan yang sangat panas.
Di satu sisi, kita cenderung menolak makanan panas untuk menghindari membakar lidah kita.
Di sisi lain, terus menerus mengonsumsi makanan yang terlalu panas dapat memicu masalah pada kerongkongan dan perut, demikian menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “Mdicinee” .