Jurnalisme Warga
Sebelas Tahun Menjadi Tauke Hikayat
Bermula dari membaca berita meninggalnya Syeh Rih Krueng Raya, maka tergeraklah semangat saya untuk mencetak hikayat-hikayat
Pemilik toko buku yang mau menerima ini ternyata sejak lama sudah menjual hikayat dan kadang-kadang menjadi sponsor dana untuk mencetak hikayat. Buku hikayat yang laris ketika itu adalah hikayat/nazam tipis berisi kasidah-like Aceh yang mudah terjual. Maka diantarlah oleh karyawan Pak Adi/KUD Rahmat buku-buku hikayat saya ke toko-toko buku tersebut.
Karena yang saya gunakan strategi ‘bisnis modern‘, maka iklan pun saya pasang pada buletin “Gema Baiturrahman“ Masjid Raya Banda Aceh dengan dana Rp25.000 untuk tiga kali terbit.
Setelah setahun, saya pun mengumpulkan uang hasil penjualan buku-buku hikayat. Ternyata hasilnya amat jauh dari harapan.
Karena kekurangan modal, pada tahun 1998 hanya Hikayat Abunawah jilid I yang dapat saya cetak. Tirasnya pun saya kurangi dari 1.000 ke 500 buku per jilid, begitu pula buat seterusnya.
Hikayat-hikayat yang saya cetak selanjutnya adalah Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (karya sendiri, 1999) dan Abunawah II (2000).
Pada tahun 2000 sebuah iklan saya pasang di Radio Rapa-i Aceh, Lambaro, untuk tiga kali siar.
Pada tahun kedua buku hikayat lebih banyak laku, karena itu pada tahun 2001 lebih banyak hikayat dapat saya cetak, yakni Hikayat Wajeb Tasayang Binatang Langka, Hikayat Binatang Ubit Kadit Lam Donya (keduanya karya sendiri), Hikayat Kisason Hiyawan 1 dan 2, Hikayat Banta Amat 1 dan 2, serta Hikayat Meudeuhak 1 dan 2.
Saya buat berjilid agar mudah pemasarannya dan setiap jilid rata-rata 60 halaman. Buku ukuran saku ini berisi enam bait setiap halaman.
Jumlah toko buku yang menampung titipan hikayat bertambah dua lagi tahun 2002 di Banda Aceh. Di tahun ini juga saya pasang iklan hikayat di Koran Aceh Ekspres. Pada tahun 2003 tambah satu toko buku di Kampus Darussalam. Namun, akibat tidak satu buku hikayat pun yang laku, maka setelah setahun saya ambil kembali, dan habis saya bagi-bagikan kepada kenalan. Semuanya berjumlah delapan buah toko buku.
Musibah/bala ie beuna (tsunami) pada 26 Desember 2004 telah mendatangkan bencana dahsyat bagi “bisnis hikayat” saya. Delapan belas ribu buku saku hikayat turut musnah. Semangat melestarikan hikayat nyaris mati, tetapi bisa bangkit kembali pada pengujung tahun 2005.
Pada tahun kesebelas dari kegiatan saya berbisnis hikayat, timbul pula persoalan saat dilakukan penitipan ke toko-toko buku. Pemilik KUD Selamat Sejahtera yang saat itu dipimpin Ibu Jasmani, istri Pak Adi (Pak Adi alias Tgk H Siswadi Asnawi sudah meninggal pada 22 November 2006). Ibu Jasmani memberitahukan saya bahwa ada toko buku yang menolak titipan hikayat.
Setelah saya cek, jelaslah alasan mereka menolak karena amat minim lakunya. Sebenarnya, selama ini pada toko buku itulah yang paling banyak saya titipkan hikayat.
Menanggapi keluhan-keluham itu, saya pun mengambil sikap, yaitu memutuskan berhenti sebagai tauke hikayat yang sudah saya jalani selama sebelas tahun.
Akhirnya, semua hikayat saya tarik dari toko-toko buku, dan saya kumpulkan di Percetakan UD Selamat Sejahtera. Sesudah saya bagi-bagikan dalam tujuh kardus, maka saya hadiahkanlah kepada enam lembaga dan yayasan yang memiliki perpustakaan di Banda Aceh. Sedangkan satu kardus lagi saya ambil sendiri sebagai dokumentasi dan “bungong jaroe” (buah tangan) tauke hikayat bagi sahabat dan kenalan saya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ta-sakti-peminat-budaya-dan-sastra-aceh-melaporkan-dari-banda-aceh.jpg)