Breaking News:

Jurnalisme Warga

Sebelas Tahun Menjadi Tauke Hikayat

Bermula dari membaca berita meninggalnya Syeh Rih Krueng Raya, maka tergeraklah semangat saya untuk mencetak hikayat-hikayat

Sebelas Tahun Menjadi Tauke Hikayat
IST
T.A. Sakti, peminat budaya dan sastra Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Oleh T.A. Sakti, peminat budaya dan sastra Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Bermula dari membaca berita meninggalnya Syeh Rih Krueng Raya, maka tergeraklah semangat saya untuk mencetak hikayat-hikayat yang telah saya alihkan dari huruf Arab Jawoe ke aksara Latin. Berita itu dimuat di Harian Serambi Indonesia, 16 April 1997 halaman 3. Syeh Rih Krueng Raya adalah penyair Hikayat Aceh terkenal. Saya salah seorang pengagum beliau.

Kegiatan menyalin hikayat Aceh ke huruf  Latin memang sudah sejak tahun 1992 saya lakoni. Hal ini terkait Harian Serambi Indonesia yang saat itu sedang memuat Hikayat Aceh setiap hari secara bersambung. Pemuatan hikayat oleh Serambi Indonesia  berlangsung pada awal 1992 sampai akhir tahun 1994.

Dari 12 judul hikayat yang sempat dimuat koran ini, tujuh  judul di antaranya adalah hasil alih aksara saya. Ketujuh hikayat Aceh itu ialah: 1) Hikayat Meudeuhak, 2) Hikayat Nasruwan Ade, 3) Hikayat Abunawah, 4) Hikayat Banta Keumari, (5) Hikayat Aulia Tujoh, (6) Hikayat Tajussalatin, dan (7) Hikayat Zulkarnaini.

Bila dihitung jumlah hari pemuatannya, berarti hampir 1.000 hari/tiga tahun lebih Harian Serambi Indonesia telah memuat hasil kegiatan alih aksara hikayat yang saya kerjakan.

Walaupun di tahun 1995 hikayat tidak dimuat lagi dalam koran, tetapi karena sudah mencintai/ketagihan, saya terus melanjutkan kerja alih aksara hikayat dari satu judul ke judul lainnya.

Pendorong utama saya untuk mencetak hikayat adalah Drs Ameer Hamzah yang ketika itu sebagai Redaktur Budaya Harian Serambi Indonesia. Ameer Hamzah berujar, “Kalau saya tidak menerbitkan hikayat-hikayat itu, di kala tua saya akan menyesal karena tidak melakukannya.”

Namun, semua ajakan itu yang selalu disampaikan setiap bertemu, hanya tertanam di hati. Saat itu saya berpikir logis bahwa hikayat tidak mempunyai “pasaran” lagi di Aceh. Jadi, kalau saya mengeluarkan dana untuk mencetak hikayat berarti saya telah berperilaku “meuwot lam bruek ruhueng” (masak bubur dalam tempurung berlubang) alias rugi melulu.

Kalaupun disebut tauke hanyalah sebatas “Toke gambang alias tukang gambe” (tukang gambir), yang bermakna pedagang yang  miskin.

Begitu pula dengan saran UU Hamidy, seorang pakar Hikayat Aceh asal Universitas Riau, Pekanbaru. Dalam surat beliau pada 26 September 1996,  juga  mendorong saya agar mencetak karya-karya saya. “Sediakan dana barang sejuta dan cetak karya Anda yang kira-kira paling digemari masyarakat,” demikian pesan UU Hamidy yang pernah setahun penuh meneliti hikayat di Aceh pada tahun 1974.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved