Inovasi Pengolahan Sampah
Magalarva Hadirkan Inovasi Pengolahan Sampah Organik
Pada dasarnya proses produksi perusahaan ini adalah membesarkan larva hasil metamorfosis telur lalat dan memberi makan dengan sampah olahan organik.
Antara lain penggunaan lahan yang lebih efisien, karena sampah yang sudah terolah bisa segera digantikan dengan sampah baru.
Dengan demikian, lahan TPA tidak selalu harus luas seperti yang terlihat saat ini, bisa saja kecil namun efektif.
Selain itu persoalan lingkungan lain seperti polusi dan bau yang tidak sedap juga bisa teratasi karena sampah tidak perlu ditumpuk berlama-lama, seperti sistem open dumping yang selama ini diterapkan pada banyak TPA.
“Pengolahan dengan BSF ini bisa menjadi solusi pengelolaan sampah di Indonesia,” ujar dia.
Di Indonesia, kata dia sampah plastik lebih banyak mendapat sorotan dibanding sampah organik, karena dipandang lebih mencemari lingkungan.
Padahal faktanya, menurut Rendria mayoritas sampah justru berasal dari sampah organik.
Hal ini dikonfirmasi oleh data pemerintah yang memperkirakan volume sampah di Indonesia pada 2020 bisa mencapai 67, 8 juta ton.
Sebanyak 60 persen di antaranya adalah sampah organik. Baru kemudian sampah plastik 14 persen, kertas 9 persen dan karet 5,5 persen.
Sampah lainnya terdiri atas logam, kain, kaca, dan jenis sampah lainnya.
Persoalan sampah organik ini menurut Rendria sejalan dengan budaya buang sampah di masyarakat.
Kebanyakan masyarakat masih berpikir asal halaman rumah mereka bersih.
Padahal sampah itu hanya berpindah tempat, jika tidak mengotori rumah maka akan mengotori rumah tetangga atau kota mereka.
“Sampah sejatinya masih berada di lingkungan sekitar kita,” ujar dia.
Karena itu, sampah butuh pengolahan menjadi sesuatu dengan nilai ekonomi tinggi.
Meski berbasis di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Magalarva yang didirikan pada 2017 ini mengolah sampah-sampah dari hotel, restoran dan pabrik di Jakarta.