Internasional
"Saya Seperti Tinggal di Neraka" Warga New York Khawatirkan Kelainan Pola Makan, Dapat Membunuhnya
Pemberlakuan lockdown hampir setahun lalu di Kota New York telah menyebabkan berubahnya pola makan warga.
Untuk orang kulit berwarna seperti Parker, ada juga pemicu stres tambahan tahun lalu terkait trauma rasial.
Sejak Maret 2020, Saluran Bantuan Asosiasi Gangguan Makan Nasional (NEDA) telah mengalami peningkatan volume sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Saya merasa sangat sendirian, dan saya juga merasa seperti tidak akan pernah bisa keluar," kata Parker.
"Itu tak tertahankan lagi," katanya.
Parker (34) mengatakan ingatan paling awal tentang gangguan makannya adalah saat usia 6 tahun.
Ketika ibunya memujinya karena tidak sarapan sebelum sekolah.
Tidak makan, bahkan air akan membuat ibunya terpuji.
Baca juga: Polisi Belanda Tangkap 131 Demonstran Penentang Lockdown
"Saya tidak tahu apa itu," ungkapnya
"Saya tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi," tambahnya.
"Sejujurnya, saya pikir saya hanya benar-benar mengerti apa itu gangguan makan," urainya.
"Itu adalah sesuatu yang benar-benar memengaruhi hidup saya, satu setengah tahun lalu," tutupnya.
"Saya seorang wanita kulit hitam," tutup Stephanie Parker.(*)