Opini

Kadar Islamisitas di Nanggroe Syariat

ISLAM tidak hanya sebatas sistem teologi, melainkan adalah suatu sistem peradaban yang lengkap. Ruang lingkup telaahan Islam

Editor: hasyim
FOTO IST
A. Wahab Abdi Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala 

Pada bagian lain juga akan mudah ditemukan sampah berserakan di mana-mana, khususnya sampah anorganik seperti plastik yang amat sulit untuk terurai. Beban ekologis akibat aktivitas manusia modern sudah begitu memprihatinkan, dan menyesakkan.

Bagaimanapun fakta empiris ini paradoks dengan konsep Islam yang sangat mengutamakan kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Sementara yang terjadi adalah sebaliknya. Termasuk dalam berbagai aspek kehidupan lainnya, sehingga tidak mencerminkan karakter islamik.

Apa penyebab terjadi ketidaksesuaian antara konsep dengan fakta ini? Dalam hal kebersihan lingkungan misalnya, ternyata sejumlah kajian yang menggunakan pendekatan survei sederhana memperlihatkan bahwa pada tataran konsep dan dokrin, esensi kebersihan lingkungan sangat dipahami oleh umat Islam. Sebab persoalan kebersihan dan kesucian (thaharah) menjadi topik penting dalam pendidikan Islam.

Membentuk habits

Jika pada stadia konsep tidak ada masalah, lalu di mana letak masalahnya sehingga kadar islamisitas umat Islam amat rendah. Tanpa menafikan hasil kajian ilmiah yang lebih valid, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah terletak pada perilaku. Perilaku ini terkait dengan domain pengalaman dan emosi, etika dan hukum.

Kalau perilaku ini dibuat dalam suatu peta konsep, maka perilaku berada pada fase aksi atau tindakan berdasarkan apa yang dipahaminya. Aksi ini menunjukkan kebiasaan apa yang dilakukan seseorang, dan itu bisa menjadi indikator keunggulan orang tersebut.

Aristoteles mengatakan, "Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang, karena itu keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan."

Dalam konteks inilah maka membentuk habits atau kebiasaan dalam diri umat Muslim untuk hidup sesusai dengan islamisitas penting dilakukan sejak dini. Membentuk kebiasaan harus dimulai dari hal kecil dan sederhana. Sebab persoalan kecil dan sederhana biasanya tidak sulit dilakukan. Jika masalah kecil sudah terbiasa dikerjakan dengan benar, maka masalah besar pun kelak akan mudah dilakukan.

Kalau digambarkan secara sederhana, maka pembentuk kebiasaan bersifat siklik. Siklus ini terdiri atas pembelajaran, komitmen, latihan, dan pengulangan. Diawali dengan belajar, dilanjutkan dengan komitmen, berlatih, dan terakhir adalah mengulangi perbuatan tersebut terus-menerus. Akhirnya akan membentuk suatu spiral yang kemungkinannya dua, yaitu semakin membesar atau menciut. Jika perkembangan kebiasaan positif, maka spiral akan semakin membesar. Sebaliknya, jika perkembangan kebiasaan negatif maka spiralnya semakin menciut.

Di negara nonmuslim yang sudah maju pembentukan habits ini sudah dimulai sejak kecil. Jika di negara nonmuslim bisa dibentuk habits yang sejalan dengan islamisitas, seharusnya di negara Muslim atau berpenduduk manyoritas muslim lebih mudah dilakukan. Sebab, dalam hal ritual peribadatan anak-anak muslim begitu mudah dijadikan habits sejak kecil walaupun hasilnya kelak di akhirat. Tentu saja dalam hal empiris, etika dan hukum kehidupan akan lebih mudah dibentuk sebab hasilnya nyata.

Karena itu kita tak harus berhenti untuk mengukur kadar islamisitas di negeri ini, khususunya di Aceh sebagai Nanggroe Syariat. Dengan mengukur akan ditemukan kelemahan. Kelemahan bukan untuk diratapi dan disesali, tapi sebagai simpul untuk merentang tali kebaikan jauh ke depan dengan melibatkan semua komponen.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved