Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menggugah Keacehan di Makam Sultan Malikussaleh

Beberapa hari lalu saya melawat ke pantai utara Aceh. Salah satu titik tujuan saya adalah makam Sultan Malikussaleh (1267-1297 M)

IST
ZULFATA, M.Ag., Direktur Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Banda Aceh 

OLEH ZULFATA, M.Ag., Direktur Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Banda Aceh

Beberapa hari lalu saya melawat ke pantai utara Aceh. Salah satu titik tujuan saya adalah makam Sultan Malikussaleh (1267-1297 M). Jalan yang ditempuh sungguh dekat dengan lintas nasional Lhokseumawe-Aceh Utara. Jika berangkat dari arah Banda Aceh, 20 menit dari Kota Lhokseumawe akan terlihat persimpangan Pasar Rakyat Geudong, kemudian berbelok di simpang sebelah kiri sebelum menaiki jembatan pendek, di situlah simpang masuk menuju makam Sultan Malikussaleh. Menariknya lagi, beberapa menit sebelum sampai ke lokasi makam, pengunjung akan melihat sebuah bangunan museum yang menjulang tinggi. Museum tersebut adalah Museum Sultan Malikussaleh. Meski saat ini kondisi museum masih dalam tahapan pembangunan dan masih kosong, paling tidak keberadaan museum tersebut saat ini telah memancing sensasi kontemplasi para pengujung makam Sultan Malikussaleh.

Menuju ke lokasi makam, saya ditemani beberapa rekan (Hasan, Fuad, Amin Atar, Risky, Reska, dan Isan). Beberapa di antara mereka adalah warga Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kami tiba di lokasi makam bertepatan dengan waktu zuhur, sehingga setelah masuk di pekarangan makam kami langsung menunaikan shalat Zuhur berjamaah di lokasi makam Sultan Malikussaleh yang berdampingan dengan makam putranya yang bernama Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zahir.

Waktu itu, sebelum rombongan kami sampai, satu rombongan terlebih dahulu menunaikan shalat berjamaah di lokasi tersebut. Saat itu pula beberapa penjaga atau perawat makam langsung menyapa kami dengan penuh senyuman meskipun beberapa mereka model senyumnya berbeda karena termakan usia. Intinya, meski tiga penjaga tersebut telah berusia lanjut, namun rasa menghargai tamu dangan ramah hingga bersuka cita dalam berbagi wawasan terkait sejarah dan dinamika kerajaan Samudera Pasai sebagai pendiri kerajaan pertama di Asia Tenggara.

Sejatinya dalam reportase ini saya tak ingin dominan mendeskripsikan narasi perjalanan saya, tetapi reportase sesungguhnya adalah ingin berbagi kepada publik terkait ada hal yang dapat menggugah saat datang dan berdiskusi di makam tersebut sambil memahami kondisi Aceh masa kini. Terus terang, saya adalah salah satu warga yang termasuk awam dalam sejarah, paling tidak saya berusaha untuk terus belajar memahami melalui berbagai referensi, baik itu melalui manuskrip, buku hingga cerita rakyat.

Usai kami tunaikan shalat Zuhur berjamaah, saya langsung memperhatikan postur dua makam yang menjadi titik fokus diskusi kami dengan seorang penjaga makam. Sembari penjaga tersebut mulai menceritakan sejarah Malikussaleh dan putranya, Muhammad Al-Malik Azh-Zahir. Pada posisi itu saya mungkin agak aneh karena saat semua rekan saya terdiam mendengar tuturan sejarah dari penjaga makam, saya justru aktif melakukan dokumentasi benda-benda makam atau arkeologis yang berada di sekitar makam.

Hal ini saya lakukan bukan berarti tidak ingin mendengar nukilan sejarah dari penjaga makam, tetapi saya sembari mendengar sejarah, kemudian tidak ingin meninggalkan momentum untuk mengabadikan dokumentasi melalui smartphone saya, sehingga melalui dokumentasi ini sangat membantu saya dalam merampungkan reportase singkat yang sedang pembaca nikmati ini.

Sekadar berbagi informasi, makam Sultan Malikul Saleh dan makam Sultan Al-Malik Azh-Zahir terdapat di tengah bangunan makam, dua makam hamba Tuhan yang mulia dan teladan umat ini dilindungi semacam penyangga kain putih. Perbedaan bentuk kedua makam tersebut sangat mencolok, mulai dari sisi arkeologis atau batu nisannya, warna hingga luas dan panjang makam. Jika makam Sultan Malikussaleh lebih dominan warna putih, bentuknya lebih panjang daripada makam Sultan Al-Malik Azh-Zahir. Selanjutnya, makam Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zahir dominannya berwarna tembaga kehitam-hitaman, lebih kecil, dan tak memiliki batuan putih kecil layaknya makam Sultan Malikussaleh.

Saat di lokasi saya memahami sejarah dari penjaga makam bahwa Malikussaleh adalah sosok raja yang penuh keteladanan dalam berislam dan memimpin umat. Saat Malikussaleh tiba di kawasan Asia Tenggara atau khususnya di Aceh, agama yang dominan waktu itu adalah Hindu. Pada masa ini dapat dianggap tidak ada yang mengajarkan agama Islam. Namun, Malikussaleh belajar Islam dari kedua orang tuanya, hingga kemudian dewasa menjadi seorang sultan yang memimpin Kerajaan Samudera Pasai.

Dari sisi karakter, Sultan Malikussaleh–berdasarkan tuturan penjaga makam--tergambarkan bahwa Malikussaleh adalah sosok yang sederhana, tidak mengedepankan takhta dan kuasa. Ia merasa justru ingin sederajat dengan rakyatnya, bahkan dalam perilaku kesehariannya tidak ingin dilayani secara seremonial berlebihan oleh rakyatnya. Sebab, dalam pandangan kepemimpinan Sultan Malikussaleh bahwa kekuasaan adalah amanah Tuhan, tidak perlu dipergunakan untuk merendahkan martabat sesama manusia dalam berislam.

Pandangan seperti ini muncul karena Malikussaleh yakin bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang dapat dibawa ke akhirat. Segalanya akan kembali kepada Allah. Bagaimanapun kekuatan manusia di muka bumi ini, semuanya akan dikembalikan kepada Yang Mahakuasa, sehingga manusia jangan pernah berlebihan dalam memangku kekuasaan. Begitulah inti penjelasan dari konsep kepemimpinan Sultan Malikussaleh yang dapat saya pahami saat berdiskusi di makam.

Selanjutnya, saat diskusi tersebut saya lontarkan pertanyaan kepada penjaga makam terkait nama kedua sultan tersebut dan bagaimana proses syahidnya Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zahir. Saat mendengar pertanyaan tersebut, penjaga makam yang kami jadikan narasumber tampak makin bersemangat, menggebu-gebu layaknya anak muda. Dalam menjawab pertanyaan saya, penjaga makam menjelaskan bahwa nama Sultan Malikussaleh adalah nama gelar karena sosoknya sebagai seorang raja yang saleh. Maka dari itu, nama lain dari Sultan Malikussaleh adalah Meurah Silu yang artinya besar dan menyilaukan. Maksudnya, Sultan Malikussaleh adalah sosok yang mulia dan suci di hadapan umat muslim di Asia Tenggara masa itu.

Kemudian terkait nama Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zahir memiliki makna seorang raja yang bijaksana. Dalam kisahnya, ia syahid di tangan Gadjah Mada dan kelanjutannya Gadjah Mada pun meninggal dalam serangan pasukan Kerajaan Samudera Pasai masa itu. Terlepas dari salah atau benar dalam saya menangkap makna sejarah yang disampaikan penjaga makam tersebut, paling tidak ada benang merah yang patut diteladani oleh generasi Aceh masa kini. Yang pertama, generasi Aceh harus sadar bahwa Aceh adalah bangsa petarung, ia pernah dijabat oleh pemimpin yang mulia, elegan, merakyat, bukan menumpuk harta dengan memolitisasi aspirasi rakyat, apalagi mempertontonkan arogansi kekuasaannya di hadapan rakyat.

Melalui reportase singkat ini pula terkadang kita boleh saja menganggap ada sesuatu yang hilang di Aceh hari ini. Boleh jadi yang hilang tersebut adalah sikap militansi keteladanan pemimpinnya, boleh jadi semangat juang keislaman dan kedaerahannya yang telah berbelok arah. Atas dinamika kondisi Aceh hari ini mungkin semangat dan harapan Aceh menuju yang lebih bijaksana dan sejahtera terus dapat diperkuat melalui semangat menggugah kemegahan Aceh di masa lalu sebagai cerminan perbaikan Aceh masa depan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved