Breaking News:

Jurnalisme Warga

Ampuh Devayan, Semangat Membangun Literasi

AMPUH Devayan merupakan sosok wartawan senior yang sangat dikagumi serta disegani terutama oleh komunitas kuli tinta Aceh

hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Unimal dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Aceh, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

* In Memoriam

OLEH Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Unimal dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Aceh, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

AMPUH Devayan merupakan sosok wartawan senior yang sangat dikagumi serta disegani terutama oleh komunitas kuli tinta Aceh. Putra Simeulue yang lahir pada 19 Juni 1962 ini telah melahirkan ribuan karya tulisan yang sangat bermanfaat bagi penikmat media cetak khususnya. Torehan tinta yang beliau lakukan lebih mengutamakan kepada informasi yang dapat membangun peradaban literasi bangsa. Sehingga, tidak berlebihan apabila beliau dijadikan sebagai sosok penulis panutan yang tidak pernah kering ide dalam menyusun kata secara sistematis yang menjadikan pencerahan yang sangat bermanfaat.

Pemilik kartu PWI nomor 01.00.4921.94 ini tercatat sebagai anggota yang sangat tinggi integritasnya, terutama dalam menurunkan berita yang cukup berimbang serta selalu mengedepankan kebenaran. Setiap tulisan yang ia turunkan selalu mengedepankan pembelajaran bagi pembaca, sehingga bobot edukasi selalu terasa dalam nukilan tulisannya. Keinginan untuk mencerdaskan anak bangsa selalu beliau lakukan dengan semangat membaja, bahkan setelah tak aktif lagi sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia.

Penyakit yang mendera tubuh sehingga mengharuskan Ampuh memakai kursi roda dalam setiap pergerakanya tidak mengendorkan semangat untuk menebarkan keterampilan dan ilmu literasi buat generasi muda. Bahkan, rumahnya yang sederhana beliau gunakan sebagai kelas pembelajaran literasi. “Panteu Devayan” merupakan salah satu kelas literasi yang beliau sediakan dengan tanpa bayaran. Di panteu tersebut banyak sudah kader pecinta literasi lulus gemblengan beliau. Dengan fasilitas yang sangat sederhana tidak mengurangi semangat untuk belajar maksimal dalam meraih esensi dari nilai-nilai karya tulis yang gemilang.

Setiap ajang perlombaan penulisan karya ilmiah yang beliau dijadikan tim penilai, secara naluri beliau dengan mudah dapat memprediksi karya terbaik yang diamini oleh tim penilai lain. Dengan “jam terbang” serta pengalaman berkecimpung pada media cetak, sehingga beliau memiliki “insting literasi” yang mumpuni dalam menilai suatu karya tulis. Bahkan rekan panitia penilai lomba karya tulis berujar bahwa bagi Bang Ampuh “dengan mencium naskah” beliau sudah dapat menebak kualitas dari karya tersebut. Keterampilan yang demikian akan didapatkan bila kita mencintai literasi dengan sepenuh hati.

Kalangan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh juga sangat mengenal sosok Master of Training (MoT) yang cukup legendaris ini. Ilmu literasi dan public speaking yang beliau kuasai sangat mendukung terhadap kemampuan lebih dalam mengelola berbagai forum pertemuan ilmiah. Dengan penguasa ke-HMI-an yang telah khatam, membuat beliau mampu dengan mudah menanamkan nilai-nilai identitas kader dengan baik kepada peserta, sehingga alumni hasil gemblengan beliau banyak yang berhasil menjadi insan pencipta dan pengabdi yang bernapaskan Islam.

Agenda training anak bangsa yang begitu padat dan menyita waktu yang banyak, tidak membuat beliau gundah ataupun berkeluh kesah. Semangat optimisme selalu beliau gelorakan kepada setiap kader agar mau dan mampu berbuat untuk melahirkan prestasi yang gemilang bagi agama, nusa, dan bangsa. Di mana beliau sering ucapkan “setiap orang akan hilang dari peredaran atau mati sebelum denyut jantung berhenti”,  apabila orang tersebut telah hilang semangat untuk berbuat kebajikan dalam kehidupannya. Berbuat dan berkarya merupakan suatu keharusan dalam menapaki kehidupan dimuka bumi ini, sehingga ia pantas disebut sebagi khalifah di muka bumi ini.

Sebagaimana Islam meneguhkan bagi setiap insan di dunia ini yaitu “tuntutlah ilmu sejak ayunan hingga ke liang lahad”. Filosofi yang sangat dinamis tersebut selalu beliau praktikkan dalam kehidupan kesehariannya. Keinginan untuk mengetahui berbagai hal, terutama terhadap ilmu sosial kemasyarakatan, membuat beliau tidak pernah malu untuk belajar pada siapa pun. Bahkan, kepada muridnya sendiri beliau mau belajar untuk “up-grade” kualitas intelektualitasnya. Atmosfer akademik selalu bergema dan sangat kentara dalam setiap pertemuan serta silaturahmi yang dilakukan khususnya di lingkungan insan cita.

Penguasaan ilmu dan ketrampilan literasi yang sudah khatam beliau lalui, tidak membuat Ampuh sombong atau congkak. Beliau sadar betul bahwa kesombongan merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh yang maha pencipta. Sebagaimana kita ketahui bahwa setan tidak pernah melakukan pembunuhan, perampokan, serta berbagai kriminal lainya, tapi dengan kesombongan di mana ia tak mau mengikuti perintah Allah Swt untuk bersujud kepada makhluk ciptaan-Nya yang begitu keren, yaitu Adam, maka setan dihukum untuk ke luar dari surga yang penuh dengan kenikmatan dan kelak tempatnya di neraka.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved